Sinyal Daya Beli di Papua Masih Kuat
JAYAPURA-Perputaran uang di Provinsi Papua hingga awal tahun 2026 masih menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari meningkatnya total tabungan masyarakat serta terjaganya inflasi yang mengindikasikan daya beli tetap terjaga.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Papua, Andry mengatakan nilai tabungan masyarakat Papua hingga Februari 2026 mencapai Rp23,4 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp22,3 triliun.
“Total tabungan masyarakat ini menjadi salah satu indikator bagaimana kondisi perekonomian di daerah. Dengan nilai yang meningkat, berarti perputaran uang di Papua masih cukup besar,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, Minggu (19/4).
Data tersebut merujuk pada laporan Bank Indonesia yang mencatat tren pertumbuhan simpanan masyarakat di wilayah Papua.
Menurut Andry, meskipun tabungan meningkat, masyarakat saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan mulai mengedepankan efisiensi, terutama untuk kebutuhan pokok.
Di sisi lain, lanjutnya, inflasi Papua juga tetap terjaga sesuai target Pemerintah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi month to month pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,7 persen, naik dari Februari yang berada di angka 0,06 persen namun masih berada dengan rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.
“Kenaikan inflasi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap barang dan jasa oleh masyarakat masih tinggi. Artinya, daya beli masyarakat relatif masih kuat,” jelasnya.
Lanjutnya, kelompok pengeluaran makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Maret 2026, yang mencerminkan masih tingginya permintaan masyarakat pada sektor kebutuhan dasar.