JAYAPURA-Di tengah berbagai tantangan pendidikan di Papua, Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan Provinsi Papua mulai menggagas langkah jangka panjang yaitu membangun sekolah berpola asrama yang tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
Sekolah berpola asrama itu direncanakan dibangun di dua wilayah strategis, yakni Kabupaten Biak yang mencakup wilayah Saireri dan Mamberamo yang mencakup wilayah Tabi. Konsep ini digadang-gadang menjadi model pendidikan masa depan di Papua.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama Tabenak mengatakan, gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Saat ini pihaknya sedang menyiapkan grand design pendidikan berpola asrama yang disesuaikan dengan konteks Papua.
“Pendidikan berpola asrama ini sudah kami bahas. Sekarang kami sedang menyiapkan grand design pendidikan berpola asrama di Papua yang juga berkarakter,” katanya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (12/2).
Diakuinya gagasan ini lahir setelah dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang turut dihadiri Wakil Gubernur Papua. Dalam forum tersebut, Disdik mengundang para kepala sekolah untuk memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka, termasuk pengalaman pengelolaan asrama yang sudah berjalan, seperti di SNK Sains dan Bahasa Jayapura.
Dari hasil diskusi itu, ditemukan sejumlah persoalan klasik dalam penyelenggaraan sekolah berasrama. Salah satu poin penting adalah perlunya pemisahan yang tegas antara kurikulum akademik di sekolah dan kurikulum pembinaan karakter di asrama.
“Pertama, kita harus memisahkan antara akademik di sekolah dengan pembinaan karakter di asrama. Jadi ada dua kurikulum yang harus kita susun,” jelas Marthen.
Pada pagi hari, siswa mengikuti kurikulum pendidikan formal sebagaimana sekolah pada umumnya. Namun di luar jam sekolah, khususnya di asrama, akan diterapkan kurikulum khusus yang berfokus pada pembentukan karakter, kedisiplinan, mentalitas, serta nilai-nilai kepemimpinan. Kurikulum pembinaan ini nantinya dikelola oleh kepala asrama.
Untuk memastikan konsep tersebut matang, Disdik Papua membentuk dua tim penyusun grand design, yakni tim sekretariat dan tim akademisi. Kedua tim ini telah menghimpun berbagai masukan dari pengalaman pengelolaan asrama yang sudah ada.
“Ada hal-hal baik yang sudah dilakukan oleh asrama-asrama yang kita miliki saat ini. Semua sudah kami catat dan akan dimasukkan dalam grand design sebagai pola yang akan kita pakai,” katanya.