Fakhiri menjelaskan konsep tersebut akan menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan. Produk masyarakat dibeli oleh dapur MBG, kemudian diolah menjadi makanan bergizi dan kembali diberikan kepada anak-anak Papua sebagai penerima manfaat program.
Ia mengaku optimistis program MBG mampu menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara tepat dan berbasis potensi lokal.
Namun begitu, Fakhiri mengakui tantangan pelaksanaan MBG di Papua berbeda dengan daerah lain karena kondisi geografis yang terdiri dari wilayah pesisir, kepulauan, pegunungan, dan daerah terpencil. Karena itu, ia meminta kepala daerah berinovasi agar program tersebut dapat menjangkau seluruh wilayah. (fia/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q