MIMIKA – Penurunan produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) berimbas langsung pada pundi-pundi Kabupaten Mimika. Bupati Mimika, Johannes Rettob, blak-blakan menyebut daerahnya bakal menghadapi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang diperkirakan menyentuh angka Rp600 miliar tahun ini. Anjloknya Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi biang keladi. Dari asumsi optimis Rp1,9 triliun, setoran PTFI diproyeksikan merosot tajam ke angka Rp1,1 triliun.
Meski angka-angka di atas kertas tampak mengkhawatirkan, Rettob berupaya mendinginkan suasana dengan jurus efisiensi fiskal. Ia mengandalkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun lalu untuk menambal celah tersebut.
“Secara angka memang ada selisih, tapi SILPA kita masih cukup untuk menutupi,” katanya, Senin 20 April 2026.
Di tengah tekanan fiskal tersebut, Rettob enggan berpangku tangan. Ia kini gencar melirik diversifikasi ekonomi non-tambang melalui strategi “jemput bola”.
Salah satu langkah taktisnya adalah menggandeng International Business Association (IBA) melalui Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) untuk mendirikan kantor perwakilan di Batam. Langkah ini adalah upaya memoles wajah komoditas lokal Mimika di panggung global. Buah Merah, kopi Papua, hingga kerupuk Tambelo kini didorong menembus pasar ekspor. Respons pasar mulai terlihat positif; BNI 46 dikabarkan telah mengunci kontrak untuk pasokan kopi Mimika. Namun, sebuah batu sandungan klasik masih mengadang: konsistensi pasokan.
“Produk kita mulai dilirik. BNI 46 bahkan sudah kontrak untuk kopi kita. Masalahnya sekarang tinggal kapasitas produksi. Permintaan tinggi, tapi kita harus pastikan stoknya rutin,” tambah Rettob.
MIMIKA – Penurunan produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) berimbas langsung pada pundi-pundi Kabupaten Mimika. Bupati Mimika, Johannes Rettob, blak-blakan menyebut daerahnya bakal menghadapi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang diperkirakan menyentuh angka Rp600 miliar tahun ini. Anjloknya Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi biang keladi. Dari asumsi optimis Rp1,9 triliun, setoran PTFI diproyeksikan merosot tajam ke angka Rp1,1 triliun.
Meski angka-angka di atas kertas tampak mengkhawatirkan, Rettob berupaya mendinginkan suasana dengan jurus efisiensi fiskal. Ia mengandalkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun lalu untuk menambal celah tersebut.
“Secara angka memang ada selisih, tapi SILPA kita masih cukup untuk menutupi,” katanya, Senin 20 April 2026.
Di tengah tekanan fiskal tersebut, Rettob enggan berpangku tangan. Ia kini gencar melirik diversifikasi ekonomi non-tambang melalui strategi “jemput bola”.
Salah satu langkah taktisnya adalah menggandeng International Business Association (IBA) melalui Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) untuk mendirikan kantor perwakilan di Batam. Langkah ini adalah upaya memoles wajah komoditas lokal Mimika di panggung global. Buah Merah, kopi Papua, hingga kerupuk Tambelo kini didorong menembus pasar ekspor. Respons pasar mulai terlihat positif; BNI 46 dikabarkan telah mengunci kontrak untuk pasokan kopi Mimika. Namun, sebuah batu sandungan klasik masih mengadang: konsistensi pasokan.
“Produk kita mulai dilirik. BNI 46 bahkan sudah kontrak untuk kopi kita. Masalahnya sekarang tinggal kapasitas produksi. Permintaan tinggi, tapi kita harus pastikan stoknya rutin,” tambah Rettob.