NABIRE – Pemerintah Kabupaten Intan Jaya melalui Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, meluncurkan Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang dipusatkan di SD YPPK Santo Misael Bilogai selasa, (27/1).
Program ini mencakup jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Intan Jaya.
Dalam keterangannya, Bupati Aner menjelaskan bahwa pelaksanaan SSH mendapat pendampingan dari Universitas Papua (UNIPA) yang dikoordinasikan oleh Dr. Agus Mule, guna memperkuat kualitas pembelajaran dan tata kelola sekolah.
“Program Sekolah Sepanjang Hari ini sudah kami launching dan mulai beroperasi. Di Bilogai ada TK, SD, dan SMP yang kami jalankan,” ujar Bupati Aner kepada media ini via seluler, Kamis, (29/1).
Ia menyebutkan, jumlah tenaga pendidik yang terlibat dalam program SSH mencapai 153 orang, terdiri dari guru lokal, guru pendatang, serta guru dari wilayah pesisir. Penempatan guru dilakukan secara terencana, dengan memfokuskan wilayah ibu kota pada guru pendatang dan pesisir, sementara daerah pinggiran diprioritaskan bagi Orang Asli Papua (OAP) atau orang Intan Jaya asli. “Jumlah guru OAP atau orang Intan Jaya asli yang terlibat sekitar 58 orang,” jelasnya.
NABIRE – Pemerintah Kabupaten Intan Jaya melalui Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, meluncurkan Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang dipusatkan di SD YPPK Santo Misael Bilogai selasa, (27/1).
Program ini mencakup jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Intan Jaya.
Dalam keterangannya, Bupati Aner menjelaskan bahwa pelaksanaan SSH mendapat pendampingan dari Universitas Papua (UNIPA) yang dikoordinasikan oleh Dr. Agus Mule, guna memperkuat kualitas pembelajaran dan tata kelola sekolah.
“Program Sekolah Sepanjang Hari ini sudah kami launching dan mulai beroperasi. Di Bilogai ada TK, SD, dan SMP yang kami jalankan,” ujar Bupati Aner kepada media ini via seluler, Kamis, (29/1).
Ia menyebutkan, jumlah tenaga pendidik yang terlibat dalam program SSH mencapai 153 orang, terdiri dari guru lokal, guru pendatang, serta guru dari wilayah pesisir. Penempatan guru dilakukan secara terencana, dengan memfokuskan wilayah ibu kota pada guru pendatang dan pesisir, sementara daerah pinggiran diprioritaskan bagi Orang Asli Papua (OAP) atau orang Intan Jaya asli. “Jumlah guru OAP atau orang Intan Jaya asli yang terlibat sekitar 58 orang,” jelasnya.