Bupati juga menyampaikan bahwa pertemuan ini tak hanya menelurusi penyebab musibah kebakaran itu, namun yang terpenting lebih pada meningkatkan nilai kekeluargaan dan solidaritas rakyat Jayawijaya khususnya kepada keluarga korban musibah kebakaran.
“Kita adalah keluarga, selama masih ada kesempatan untuk kita bisa duduk, diskusi, mendengarkan, apa yang kita bisa buat,maka kita akan buat. Ini makna pertemuan malam ini. Jangan mereka berjuang sendiri di Wamena,”Kata Atenius Murib.
Kata Bupati Murib, para pedagang yang menjadi korban musibah kebakaran ini sudah tinggalkan tanah kelahiran dan hidup dengan masyarakat di Wamena, oleh karena itu, Pemerintah selaku penerima man
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
dat rakyat, wajib hadir di tengah kesulitan mereka.
“Besok-besok kami orang Wamena yang kena musibah, nanti mereka akan datang lagi bawa bantuan, Wamena rumah bersama yang orangnya hidup rukun dan berdampingan,” katanya.
Mantan Dandim 1702/ Jayawijaya berpesan kepada seluruh warga di dalam Kota Wamena yang padat penduduknya dan pinggiran kota, serta di mana saja khususnya di 40 distrik, 328 kampung dan 4 kelurahan, untuk menjaga rumahnya dari bencana yang tidak diinginkan seperti ini.
“Perhatikan dan pastikan semua sumber api dalam kondisi aman sebelum tidur atau selama beraktivitas, kami pemerinntah juga memikirkan langkah-langkah pencegahan sebelum terjadi peristiwa seperti ini, misalnya mewajibkan setiap tempat usaha memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR).” beber Atenius Murib.
Bupati juga menambahkan berdasarkan dokumen hasil olah TKP dari Kapolres Jayawijaya yang dilaporkan total 15 ruko yang terdampak musibah kebakaran seperti di Jalan Irian ada 10 unit ruko dan di Jalan Trikora ada 5 unit ruko.
“Ruko yang terbakar ini menjual sembako, Barang pecah belah, pakaian, counter HP, warung makan dan pemangkas rambut dan juga masih ada dua ruko di Jalan Trikora yang masih sementara kosong.” tutupnya. (jo/wen)