Seperti Teladan Yesus, Umat Dituntut Untuk Bersikap Rendah Hati, Setia dan Taat

“Minggu Palma menggambarkan perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Perjalanan ini menggembirakan, tetapi juga menggemparkan, karena di balik sorak sorai itu, Yesus akan mengorbankan nyawa-Nya sendiri. Selain itu Tuhan membutuhkan kita untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama dalam jalan panggilan kita masing-masing” jelasnya.

Foto boks 2
Suasana kemeriahan perayaan Minggu Palma di Gereja Gembala Baik Abepura, Minggu (29/3) (foto:Agung/Cepos)

Pastor Agon menekankan bahwa iman Kristiani tidak berhenti pada penderitaan, melainkan bertumbuh dari kebangkitan. Kebangkitan Kristus, menurutnya, adalah bukti nyata kasih Allah yang juga menjadi harapan bagi umat manusia.

Ia pun mengajak umat untuk mempersiapkan diri secara layak menjelang perayaan Paskah, baik dalam relasi dengan Tuhan maupun sesama. Sementara, pertobatan dan pembaruan hidup menjadi kunci agar umat sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Cegah Kasus Serupa, Perlu Didorong Lingkungan Ramah Anak

Semangat perayaan Minggu Palma dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya Papua, khususnya Kota Jayapura yang damai, bermartabat, dan diberkati Tuhan.

Perayaan Minggu Palma tersebut sekaligus menandai dimulainya Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik, yakni rangkaian hari-hari suci yang mengajak umat mengenang sengsara, wafat, hingga kebangkitan Yesus Kristus.

Tri Hari Suci diawali dengan Kamis Putih yang memperingati Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya. Dalam peristiwa ini, Yesus menunjukkan teladan kerendahan hati dengan membasuh kaki para murid serta menetapkan Ekaristi sebagai perayaan iman umat Kristiani.

Selanjutnya, Jumat Agung menjadi hari paling hening, ketika umat mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan dalam suasana duka, tanpa perayaan misa, dan diisi dengan penghormatan terhadap salib sebagai lambang pengorbanan.

Baca Juga :  Digelar Sederhana di Lapangan, Tidak Ada Sesuatu yang Wah

Memasuki Sabtu Suci, umat diajak untuk berdiam diri dan merenungkan saat Yesus Kristus berada dalam makam. Pada malam harinya dilaksanakan Vigili Paskah yang ditandai dengan upacara cahaya sebagai simbol kemenangan terang atas kegelapan.

Rangkaian Pekan Suci kemudian mencapai puncaknya pada Minggu Paskah, yakni perayaan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Peristiwa ini menjadi dasar iman Kristiani yang membawa harapan akan kehidupan baru serta kemenangan atas dosa dan maut.

“Minggu Palma menggambarkan perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Perjalanan ini menggembirakan, tetapi juga menggemparkan, karena di balik sorak sorai itu, Yesus akan mengorbankan nyawa-Nya sendiri. Selain itu Tuhan membutuhkan kita untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama dalam jalan panggilan kita masing-masing” jelasnya.

Foto boks 2
Suasana kemeriahan perayaan Minggu Palma di Gereja Gembala Baik Abepura, Minggu (29/3) (foto:Agung/Cepos)

Pastor Agon menekankan bahwa iman Kristiani tidak berhenti pada penderitaan, melainkan bertumbuh dari kebangkitan. Kebangkitan Kristus, menurutnya, adalah bukti nyata kasih Allah yang juga menjadi harapan bagi umat manusia.

Ia pun mengajak umat untuk mempersiapkan diri secara layak menjelang perayaan Paskah, baik dalam relasi dengan Tuhan maupun sesama. Sementara, pertobatan dan pembaruan hidup menjadi kunci agar umat sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Suarakan Luka yang Terpendam, Ajak Perempuan dan Laki-laki untuk Sama-sama Bercermin

Semangat perayaan Minggu Palma dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya Papua, khususnya Kota Jayapura yang damai, bermartabat, dan diberkati Tuhan.

Perayaan Minggu Palma tersebut sekaligus menandai dimulainya Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik, yakni rangkaian hari-hari suci yang mengajak umat mengenang sengsara, wafat, hingga kebangkitan Yesus Kristus.

Tri Hari Suci diawali dengan Kamis Putih yang memperingati Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya. Dalam peristiwa ini, Yesus menunjukkan teladan kerendahan hati dengan membasuh kaki para murid serta menetapkan Ekaristi sebagai perayaan iman umat Kristiani.

Selanjutnya, Jumat Agung menjadi hari paling hening, ketika umat mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan dalam suasana duka, tanpa perayaan misa, dan diisi dengan penghormatan terhadap salib sebagai lambang pengorbanan.

Baca Juga :  Tak Hanya Prestasi Akademik, Tapi juga Kembangkan Ketrampilan Nonakademik

Memasuki Sabtu Suci, umat diajak untuk berdiam diri dan merenungkan saat Yesus Kristus berada dalam makam. Pada malam harinya dilaksanakan Vigili Paskah yang ditandai dengan upacara cahaya sebagai simbol kemenangan terang atas kegelapan.

Rangkaian Pekan Suci kemudian mencapai puncaknya pada Minggu Paskah, yakni perayaan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Peristiwa ini menjadi dasar iman Kristiani yang membawa harapan akan kehidupan baru serta kemenangan atas dosa dan maut.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya