Thursday, January 29, 2026
25.7 C
Jayapura

Di Ruang Sunyi, Suara-Suara yang Hilang Kembali Terdengar

Karena dilakukan di ruangan khusus yang kedap suara, pelayanan pun dibatasi maksimal hanya lima pasien dalam sehari.

Mayoritas pasien yang datang adalah lanjut usia, terutama di atas 55 tahun. Penurunan pendengaran pada kelompok usia ini umumnya terjadi di kedua telinga. Namun, Hearing Center RSUD Jayapura juga menerima pasien usia muda. Bahkan, pasien termuda yang pernah ditangani berusia 25 tahun.

“Pada usia muda, biasanya gangguan hanya terjadi di satu sisi telinga. Penyebabnya beragam dan masih perlu ditelusuri. Berbeda dengan usia lanjut yang rata-rata mengalami penurunan pendengaran secara menyeluruh,” jelasnya.

Di ruang audiometri berukuran sekitar 2×3 meter, pasien menjalani pemeriksaan menggunakan headset khusus. Melalui alat tersebut, suara dengan frekuensi tertentu mulai dari 500 hingga 8.000 hertz diperdengarkan secara bertahap. Pasien diminta menekan tombol setiap kali mendengar bunyi, tanpa melihat petugas pemeriksa. Dari respons inilah, ambang pendengaran pasien dapat ditentukan.

Baca Juga :  Tiap Hari Makan Daun Singkong Membuat Kaki Tak Lagi Mampu Menahan Tubuh

“Hasilnya bisa langsung keluar dalam waktu sekitar 20 menit. Dari situ kami bisa mengetahui jenis dan tingkat ketulian pasien,” katanya.

Tidak semua gangguan pendengaran dapat diatasi dengan alat bantu dengar. Pasien dengan kategori tuli sedang hingga tuli sedang berat masih berpeluang besar terbantu. Namun bagi pasien dengan tuli berat, alat bantu dengar sering kali tidak lagi efektif. Pada kondisi seperti ini, komunikasi dan edukasi kepada pasien menjadi sangat penting.

Meski begitu, keberadaan Hearing Center ini membawa harapan besar. Alat pemeriksaan pendengaran yang digunakan merupakan yang pertama di Papua dan saat ini masih melalui kerja sama dengan pihak ketiga.

Karena dilakukan di ruangan khusus yang kedap suara, pelayanan pun dibatasi maksimal hanya lima pasien dalam sehari.

Mayoritas pasien yang datang adalah lanjut usia, terutama di atas 55 tahun. Penurunan pendengaran pada kelompok usia ini umumnya terjadi di kedua telinga. Namun, Hearing Center RSUD Jayapura juga menerima pasien usia muda. Bahkan, pasien termuda yang pernah ditangani berusia 25 tahun.

“Pada usia muda, biasanya gangguan hanya terjadi di satu sisi telinga. Penyebabnya beragam dan masih perlu ditelusuri. Berbeda dengan usia lanjut yang rata-rata mengalami penurunan pendengaran secara menyeluruh,” jelasnya.

Di ruang audiometri berukuran sekitar 2×3 meter, pasien menjalani pemeriksaan menggunakan headset khusus. Melalui alat tersebut, suara dengan frekuensi tertentu mulai dari 500 hingga 8.000 hertz diperdengarkan secara bertahap. Pasien diminta menekan tombol setiap kali mendengar bunyi, tanpa melihat petugas pemeriksa. Dari respons inilah, ambang pendengaran pasien dapat ditentukan.

Baca Juga :  Di Heram Macet, di Abepura Lancar, Distrik Lain Belum Jelas

“Hasilnya bisa langsung keluar dalam waktu sekitar 20 menit. Dari situ kami bisa mengetahui jenis dan tingkat ketulian pasien,” katanya.

Tidak semua gangguan pendengaran dapat diatasi dengan alat bantu dengar. Pasien dengan kategori tuli sedang hingga tuli sedang berat masih berpeluang besar terbantu. Namun bagi pasien dengan tuli berat, alat bantu dengar sering kali tidak lagi efektif. Pada kondisi seperti ini, komunikasi dan edukasi kepada pasien menjadi sangat penting.

Meski begitu, keberadaan Hearing Center ini membawa harapan besar. Alat pemeriksaan pendengaran yang digunakan merupakan yang pertama di Papua dan saat ini masih melalui kerja sama dengan pihak ketiga.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya