Di Ruang Sunyi, Suara-Suara yang Hilang Kembali Terdengar

Kata dr. Rosmini, sebelumnya pasien dengan gangguan pendengaran harus dirujuk ke Makassar atau Pulau Jawa. Perjalanan jauh yang tidak mudah dan membutuhkan biaya besar.

ā€œKehadiran alat ini sangat membantu. Harapan kami, ke depan RSUD Jayapura bisa memiliki alat ini secara mandiri agar masyarakat Papua tidak kesulitan mendapatkan pelayanan pendengaran,ā€ ujarnya.

Di balik alat dan prosedur medis, ada kisah-kisah yang menyentuh. Salah satu momen yang paling membekas bagi dr. Rosmini adalah ketika seorang petani yang masih aktif bekerja akhirnya bisa kembali mendengar setelah menggunakan alat bantu dengar.

ā€œAwalnya dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Setelah memakai alat bantu dengar, dia bisa menjawab saat kami tanya namanya. Itu luar biasa,ā€ tuturnya dengan mata berbinar.

Baca Juga :  Akan Tetapkan Jadwal Waktu Membuang Sampah bagi Masyarakat

Baginya, kebahagiaan pasien adalah kebahagiaan tersendiri. Melihat seseorang yang sebelumnya hidup dalam sunyi, lalu kembali dapat berkomunikasi dengan lancar, menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

ā€œIndra pendengaran sangat penting dalam kehidupan. Ketika seseorang bisa mendengar kembali, ekspresi bahagia itu langsung terlihat,ā€ katanya.

Kini, di ruang sunyi Hearing Center RSUD Jayapura, suara-suara kecil yang dulu hilang perlahan kembali menemukan jalannya. Dan bagi banyak warga Papua, ruang ini bukan sekadar tempat pemeriksaan melainkan ruang harapan, tempat dunia yang sempat terdiam kembali berbunyi.

Sementara bagian staf, dr. Agustina Petronela Kayunop,SpTHT-KL menyampaikan, jumlah dokter THT di RSUD Jayapura berjumlah tiga orang. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

Baca Juga :  Pengungkapan Penyelundupan Senpi dan Amunisi Layak Mendapat Penghargaan

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSĀ  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Kata dr. Rosmini, sebelumnya pasien dengan gangguan pendengaran harus dirujuk ke Makassar atau Pulau Jawa. Perjalanan jauh yang tidak mudah dan membutuhkan biaya besar.

ā€œKehadiran alat ini sangat membantu. Harapan kami, ke depan RSUD Jayapura bisa memiliki alat ini secara mandiri agar masyarakat Papua tidak kesulitan mendapatkan pelayanan pendengaran,ā€ ujarnya.

Di balik alat dan prosedur medis, ada kisah-kisah yang menyentuh. Salah satu momen yang paling membekas bagi dr. Rosmini adalah ketika seorang petani yang masih aktif bekerja akhirnya bisa kembali mendengar setelah menggunakan alat bantu dengar.

ā€œAwalnya dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Setelah memakai alat bantu dengar, dia bisa menjawab saat kami tanya namanya. Itu luar biasa,ā€ tuturnya dengan mata berbinar.

Baca Juga :  Mengabdi Tak Kenal Waktu, Tapi Hanya Digaji Rp 200 Ribu

Baginya, kebahagiaan pasien adalah kebahagiaan tersendiri. Melihat seseorang yang sebelumnya hidup dalam sunyi, lalu kembali dapat berkomunikasi dengan lancar, menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

ā€œIndra pendengaran sangat penting dalam kehidupan. Ketika seseorang bisa mendengar kembali, ekspresi bahagia itu langsung terlihat,ā€ katanya.

Kini, di ruang sunyi Hearing Center RSUD Jayapura, suara-suara kecil yang dulu hilang perlahan kembali menemukan jalannya. Dan bagi banyak warga Papua, ruang ini bukan sekadar tempat pemeriksaan melainkan ruang harapan, tempat dunia yang sempat terdiam kembali berbunyi.

Sementara bagian staf, dr. Agustina Petronela Kayunop,SpTHT-KL menyampaikan, jumlah dokter THT di RSUD Jayapura berjumlah tiga orang. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

Baca Juga :  Akan Tetapkan Jadwal Waktu Membuang Sampah bagi Masyarakat

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSĀ  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya