Tim yang menjadi satu-satunya tim sepak bola penyandang disabilitas amputasi di Kabupaten Pasuruan itu mulai dirintis pada 2025. Kemudian, tim resmi terbentuk pada Januari 2026 dan hingga kini terus aktif. “Bina Juang Amputasi Pasuruan FC adalah tim sepak bola yang para pemainnya penyandang disabilitas amputasi, baik kaki dan tangan. Mulai dirintis 2025, kemudian terbentuk Januari 2026,” kata Febrian Eko Surdiyantoro, pendiri sekaligus pelatih tim.
Kini, belasan pemain bergabung. Usianya berkisar 22 hingga 34 tahun. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan. Seperti Lekok, Grati, Winongan, Gondangwetan, Kraton, Wonorejo, dan Beji. Ada pula pemain dari Kota Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo. Sekitar 80 persen pemain mengalami amputasi akibat kecelakaan lalu lintas, maupun kecelakaan kerja. Sisanya mengalami kondisi bawaan sejak lahir atau sejak kecil. Seperti kaki kecil sebelah dan lainnya.
Latihan rutin digelar setiap Minggu pagi di Lapangan Desa Mendalan, Kecamatan Winongan, yang sekaligus menjadi home base. Ada pula tambahan latihan setiap Kamis sore. Dalam latihan maupun pertandingan, pemain yang mengalami amputasi kaki menggunakan tongkat penyangga atau kruk berbahan aluminium tanpa penopang siku. Peralatan itu, termasuk bola, selama ini diperoleh secara swadaya.
“Baik tongkat penyangga dan bolanya, serta peralatan lainnya didapat dari swadaya selama ini,” terang Febri, panggilannya yang juga guru olahraga SMPN 1 Grati. Permainan sepak bola amputasi menggunakan lapangan berstandar internasional dengan panjang 55–60 meter dan lebar 35–40 meter. Pertandingan dimainkan tujuh lawan tujuh selama 2×25 menit dengan jeda 10 menit.
Satu pemain bertugas sebagai kiper yang mengalami amputasi atau keterbatasan pada lengan. Enam pemain lainnya merupakan pemain lapangan dengan amputasi atau keterbatasan pada kaki. Mereka mengisi posisi bertahan, gelandang, hingga penyerang dengan mengandalkan dua kruk. “Kruk dihitung sebagai bagian dari tangan, sehingga menyentuh bola dengan kruk secara sengaja dinilai sebagai pelanggaran,” jelas Febri, yang juga pembina Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) Kabupaten Pasuruan.
Pemain tidak diperbolehkan menggunakan kaki atau tangan palsu selama pertandingan. Tidak ada aturan offside, sementara lemparan ke dalam diganti dengan tendangan ke dalam. Kuota pergantian pemain juga tidak dibatasi. Di luar lapangan, tim tidak hanya berlatih sepak bola. Ada kegiatan refleksi, penguatan karakter, dan mental. Semua itu menjadi bagian dari upaya membangun keberanian dan rasa percaya diri para pemain.