Di samping garasi, sebuah gubuk baru tengah dibangun. Kerangkanya sudah hampir 80 persen selesai. Kayu-kayu disusun menjadi tiang dan rangka dinding. Tidak mewah, tetapi bagi Bakran, bangunan itu adalah awal untuk mengembalikan kehidupan keluarganya yang porak-poranda akibat kebakaran.
“Ini dulu garasi motor. Karena kemarin tidak terbakar, saya hanya kasih dinding. Saya berdua dengan istri tinggal di sini,” tuturnya.
Sejak kebakaran, aktivitas Bakran sebagai nelayan pun belum kembali normal. Biasanya laut menjadi tempatnya mencari nafkah. Namun, kini pikirannya lebih banyak tertuju pada satu hal, yaitu bagaimana keluarganya bisa kembali memiliki rumah.
“Kalau kita melaut, paling turun hanya untuk makan sendiri. Sekarang masih fokus bagaimana bisa memiliki rumah lagi, jadi kurang konsentrasi untuk kerja,” katanya.
Bagi Bakran dan warga lainnya, persoalan membangun kembali rumah bukan perkara sederhana. Keinginan untuk segera mendirikan rumah terbentur informasi mengenai rencana penataan kawasan oleh pemerintah. Warga mendapat imbauan agar belum membangun rumah permanen sebelum ada kejelasan mengenai rencana tersebut.
“Sebenarnya sudah ada yang mau bangun, tetapi karena ada imbauan dari pemerintah kota yang melarang dibangun, jadi kita bingung juga,” ujarnya.
Kebingungan itu membuat warga berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka membutuhkan tempat tinggal secepatnya. Di sisi lain, mereka khawatir jika rumah yang dibangun sekarang harus dibongkar kembali ketika penataan kawasan dilakukan.
Bakran menyebut, informasi yang diterima warga menyatakan kawasan tersebut akan ditata kembali, termasuk kemungkinan pelebaran jalan dari satu lorong ke lorong lainnya. “Dengar informasi bahwa kawasan ini nanti akan ditata lagi, salah satunya pelebaran jalan dari lorong ke lorong. Jadi itu alasan warga di sini belum bangun rumah,” tuturnya.