Kisah Pasangan Tuli, Nando Jitmau dan Novita Deda yang Memilih Membangun Usaha Kopi Gerobak di Kotaraja
Mengawali sunyi temaram kota, dari sebuah sepeda kopi di sudut Kotaraja kisah Novi dan suaminya, Nando Jitmau meruntuhkan stigma dan membuktikan bahwa dalam sunyi sekalipun perempuan Papua mampu berdiri tegak dan mandiri meski ada keterbatasan.
Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura
Di tengah deru mesin kendaraan dan keriuhan kawasan Kotaraja Dalam yang mulai memuncak pada siang hari, Novia, seorang perempuan Tuli berusia muda justru menemukan dunianya sendiri. Tepat jam 12 siang, ia mulai menata gelas, menyeduh aroma pekat kopi dari sepeda Kenny’s Coffee. Kesehariannya ia ditemani sang suami, Nando Jitmau yang sama-sama dari Komunitas Tuli Jayapura.
Keduanya adalah pasangan tuli yang kini tengah merintis usaha berjualan kopi di Kotaraja dalam tepatnya di depan SD N 1 Kotaraja. Tidak ada teriakan menjajakan dagangan dari mulutnya. Sebagai gantinya, ia menggenggam sebuah ponsel dengan aplikasi note (catatan) yang terbuka jembatan digitalnya untuk menembus batas sunyi dengan dunia luar.
Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, alumni SMA Buper Waena ini mulai menata gelas, biji kopi, dan sambil memajang rajutan noken khas Papua. Baginya, kondisi yang dialami bukanlah hambatan untuk menjemput kemandirian di jalanan kota. ​Bagi Novia, kehilangan penyerapan suara bukan berarti kehilangan cara untuk berdaya. Sejak akhir Maret lalu ia dan suaminya memantapkan langkahnya menjadi seorang barista kaki lima demi menghidupi anak dan ibunya.
Menjadi barista di sektor pelayanan publik menuntut Novia untuk terus berinteraksi dengan orang-orang baru setiap hari. Komunikasi memang menjadi tantangan terbesar, namun Novia punya solusinya. Lewat ketikan jemari di layar ponsel, ia mencatat pesanan, menjelaskan menu, hingga menyapa para pelanggannya. Ia juga harus menjelaskan menggunakan bahasa isyarat jika dirinya tak bisa mendengar. Ini agar si pembeli tak salah paham.
​Meski terkadang ada pelanggan yang awalnya ragu atau canggung saat menyadari Novia seorang Tuli, ia selalu menghadapi situasi tersebut dengan kepala dingin. ​”Mencoba berdiam dulu, tidak langsung menganggap ini sebagai masalah. Sa (saya) harus tetap sabar yang jangan lupa senyum,” tulis Novia saat menceritakan interaksi hariannya. ​Melalui catatan digital itu pula, Novia kerap mengedukasi pelanggannya.
Jika ingin memanggil atau mendapatkan perhatiannya, cukup lakukan dengan lambaian tangan atau sentuhan lembut di bahu, sebuah cara sederhana yang membuatnya merasa dihargai dan nyaman. Kepada Cenderawasih Pos, perempuan yang akrab di sapa Novi itu menjelaskan bahwa ia membangun usaha dari uang tabungannya yang penuh dengan liku-liku.
Saat pertama kali belajar meracik kopi, ia harus berjuang ekstra keras memahami instruksi dari pemilik usaha (bos) yang melatihnya. Namun, tantangan terberat justru datang dari pandangan miring orang-orang sekitar. Pernah diremehkan tak membuat ia patah arang. Baginya, bekerja keras dari Senin hingga Minggu tanpa lelah adalah cara terbaik untuk membungkam skeptisisme orang lain. “Dia bos bantu ajar saya latihan barista memang penuh tantangan, tapi harus kerja terus,” ungkap Novia.
Melalui perantara layar ponselnya di tahun 2026 ini, Novia tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga tentang harapan sosial. Ia menyayangkan masih minimnya lowongan kerja formal di Jayapura yang ramah disabilitas, sehingga banyak rekan Tuli lainnya harus bertahan hidup dengan usaha seadanya seperti menjual pinang atau membuka bengkel.
​Novia berharap, dari balik kemudi sepeda kopinya, ia bisa mengirimkan pesan kuat bagi masyarakat luas dan sesama teman disabilitas. ​”Teman-teman Tuli itu keren. Novia sendiri tidak takut, harus berani, sama adil dengan (orang) dengar. Yang semangat, tetap kerja kopi!,” tegarnya. ​Semangat Novia kian berlipat ganda saat lapaknya ramai. Selain menyeduh kopi, rasa percaya diri Novia semakin membubung karena ia juga bisa menjajakan kerajinan noken khas Papua di lapaknya sebuah mimpi kemandirian ekonomi yang sudah ia rintis sejak tahun 2022 atas pesan dari sang ayah.
Menjadi seorang Tuli di industri pelayanan tentu mendatangkan tantangan komunikasi. Tak jarang, Novia merasakan tatapan berbeda atau bahkan diremehkan. Namun, bagi Novia, ejekan orang lain justru menjadi bahan bakar untuk membuktikan diri. “Jangan pernah mengejek. Inilah cara melawan rasa tidak berharga setelah diremehkan. Tuli tidak takut, harus berani. Kerja bisa, bisa ya!,” uangkapnya dengan bahasa isyarat.
Setiap hari, dari Senin hingga Minggu, Novia menyeduh kopi untuk para pelanggannya. Selain mengunakan ponsel sebagai alat bantu saat menghadapi pembeli yang kebingungan berkomunikasi, Novia memilih untuk tetap sabar dan menyapa dengan senyuman. Ia juga membagikan tips sederhana bagi masyarakat yang ingin berinteraksi dengan teman Tuli, cukup panggil dengan lambaian tangan atau sentuh pundak mereka secara perlahan, jangan terlalu agresif agar mereka merasa nyaman.
Bagi Novia, statusnya sebagai perempuan asli Papua dan seorang Tuli adalah sebuah kebanggaan. Budaya Papua yang kaya seperti keindahan lukisan Danau Sentani turut mewarnai cara pandangnya dalam berkarya. Selain menjual kopi untuk memenuhi kebutuhan anak dan ibunya, Novia juga bangga bisa menjajakan kerajinan noken khas Papua.
“Yang paling membanggakan adalah kekuatan identitas dan ketangguhan untuk terus berkarya,” ujarnya. Suka duka pun ia lewati di pinggir jalan Kotaraja. Ada kalanya jalanan begitu sepi, terutama saat jam kerja. Namun, saat pulang, terutama sore atau malam hari lapak kopinya kembali ramai diserbu pembeli meski tidak banyak. Momen-momen sibuk seperti itulah yang membuatnya merasa percaya diri dan bangga.
Memasuki tahun 2026 ini, Novia melihat mulai banyak masyarakat (“orang dengar”) yang senang dan mendukung usahanya. Meski begitu, ia tidak menampik bahwa akses lowongan pekerjaan bagi teman-teman disabilitas di Jayapura masih sangat minim. Banyak rekan-rekan Tuli yang terpaksa harus memikirkan ide usaha sendiri mulai dari menjual pinang, membuka bengkel motor, hingga membuat kerajinan kalung kerang—karena sulitnya menembus pasar kerja formal.
Novia berharap masyarakat dan penyedia kerja bisa lebih terbuka menerima pekerja disabilitas. Kepada teman-teman Tuli lainnya, Novia menitipkan pesan yang begitu kuat agar mereka tidak berkecil hati. Dari sebuah sepeda kopi di sudut Kotaraja, Novia tidak hanya sedang menyeduh pekatnya kopi untuk pelanggannya. Ia sedang menyeduh harapan, meruntuhkan stigma, dan membuktikan bahwa dalam sunyi sekalipun, perempuan Papua mampu berdiri tegak dan mandiri. (*)