Namun, ketertarikannya tidak berhenti pada bidang yang dipelajarinya di ruang kuliah. Afriza bergabung sejumlah organisasi, termasuk Society of Petroleum Engineers. Ia juga terlibat dalam riset yang berkaitan dengan energi, termasuk plasma elektrolisis. Bahkan, ia pernah terlibat dalam kegiatan perakitan mobil berbahan kimia.Dari sana, keinginannya untuk membangun karier di bidang energi menguat. Pekerjaan pertamanya sebagai konsultan di bidang pengolahan limbah.
Ia menangani persoalan daur ulang plastik. Terlibat dalam kerja sama dengan lembaga internasional seperti World Bank dan International Finance Corporation (IFC). Pengalaman itu mempertemukannya dengan persoalan lingkungan, teknologi, industri, sekaligus kebutuhan akan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Ia semakin matang, usai tuntas menyelesaikan S2 di Melbourne, Australia. Terutama dalam bidang yang berkaitan dengan sistem energi. Dari situ, ia mempelajari berbagai sistem energi terbarukan. Seperti tenaga surya, angin, air, panas bumi, biomassa maupun energi laut. Ia mantap, mendalami teknologi untuk long-duration energy storage seperti baterai. Pilihan ini turut menuntunnya dalam ke dalam ihwal besar, soal kedaulatan energi.
Saat ini, Afriza bekerja sebagai power system analyst di Institute for Essential Services Reform (IESR) di Tebet Jakarta Selatan, sejak September 2025. Tugasnya menganalisis dan merancang proyek energi terbarukan. Salah satu wilayah yang banyak ia tangani yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah tersebut inilah, semua potensi energi terbarukan terbentang. Hanya butuh komitmen kuat untuk membangunnya.NTT memiliki potensi energi surya, angin, panas bumi, hidro, dan biomassa.
Berdasarkan studi yang dikerjakan timnya, potensi energi terbarukan di 22 kabupaten atau kota di NTT mencapai 253 gigawatt. Karena itu, NTT menjadi salah satu wilayah yang dipilih untuk proyek energi terbarukan. Pembangunan pembangkit, lanjutnya, harus disesuaikan dengan geografis dan potensi daerah. Komoditas lokal perlu diidentifikasi agar listrik yang dihasilkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, perjalanan menuju penggunaan energi terbarukan dalam skala besar tidak sederhana. Indonesia memiliki target net zero emission (NZE) baru pada 2060. Di sisi lain, bauran listrik nasional 61 persen di antaranya masih didominasi batu bara. Sisanya berasal dari gas dan energi terbarukan, termasuk tenaga angin dan hidro. Persentase energi terbarukan yang masih kecil tersebut membuat Afriza melihat adanya jarak antara besarnya target dan realisasi di lapangan.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, tetapi implementasinya masih minim. Salah satu persoalan yang ia soroti ialah kebijakan harga batu bara untuk pembangkit listrik. Dengan adanya kebijakan yang menjaga harga batu bara pembangkit tetap rendah, energi terbarukan menghadapi tantangan untuk bersaing pada tahap awal.
Menurut Afriza, kebijakan tersebut perlu dievaluasi agar energi terbarukan memiliki ruang untuk berkembang.Pada 2021, ia menerbitkan tiga buku puisi. Menulis menjadi salah satu caranya mengekspresikan pikiran sekaligus melepaskan tekanan. Selain menulis, ia juga memiliki hobi bermain biola. Dua kegiatan itu menjadi ruang yang berbeda dari kesibukannya berkutat dengan sistem proyek, energi, data, riset, dan formulasi.