Sejak awal periksa hingga bulan Desember, dia belum pernah diberi obat oleh RSUD dr. Soetomo Surabaya. Hanya dirontgen, diambil jaringannya dan pemeriksaan lainnya.
Sehingga, kakaknya yang tidak tega merasakan dirinya kesakitan, akhirnya membeli obat sendiri. Sampai akhirnya, Desember saat kontrol periksa ke RSUD dr. Soetomo, dia menyampaikan ke petugas untuk minta obat dan saat itu baru diberi obat paint killer atau pereda nyeri.
”Obatnya harus diminum rutin 3 kali sehari. Kalau tidak teratur, pasti sakit nyeri dari bagian belakang tembus ke bagian depan perut kanan ini,” ungkapnya.Dengan kondisi tumor yang makin membesar, Dava mengaku, dia tidak bisa beraktivitas normal dan terlalu lama. Bahkan, duduk pun tidak betah lama-lama.
Sehingga, saat periksa atau kontrol ke RSUD dr Soetomo, dia acapkali tiduran sembari menunggu antrean. Itupun harus diberi bantal sebagai penopang. Jika tidak diberi bantal, akan terasa sakit bagian belakang dan perut. ”Saya tiduran juga tidak bisa bebas. Jadi tidur harus miring ke kiri dan diganjal bantal. Telentang atau mengkurep juga gak bisa, karena ada benjolan tumor ini,” ungkapnya.
Dava mengharapkan, ada penanganan medis yang lebih baik dengan segera dioperasi. Supaya, penyakit yang ada di tubuhnya bisa segera diangkat. Karena dia berkeinginan lulus sekolah kemarin bisa langsung kerja”Saya ingin sekali bisa cepat kerja, supaya bisa bantu ibu,” ujarnya.
Sejak awal periksa hingga bulan Desember, dia belum pernah diberi obat oleh RSUD dr. Soetomo Surabaya. Hanya dirontgen, diambil jaringannya dan pemeriksaan lainnya.
Sehingga, kakaknya yang tidak tega merasakan dirinya kesakitan, akhirnya membeli obat sendiri. Sampai akhirnya, Desember saat kontrol periksa ke RSUD dr. Soetomo, dia menyampaikan ke petugas untuk minta obat dan saat itu baru diberi obat paint killer atau pereda nyeri.
”Obatnya harus diminum rutin 3 kali sehari. Kalau tidak teratur, pasti sakit nyeri dari bagian belakang tembus ke bagian depan perut kanan ini,” ungkapnya.Dengan kondisi tumor yang makin membesar, Dava mengaku, dia tidak bisa beraktivitas normal dan terlalu lama. Bahkan, duduk pun tidak betah lama-lama.
Sehingga, saat periksa atau kontrol ke RSUD dr Soetomo, dia acapkali tiduran sembari menunggu antrean. Itupun harus diberi bantal sebagai penopang. Jika tidak diberi bantal, akan terasa sakit bagian belakang dan perut. ”Saya tiduran juga tidak bisa bebas. Jadi tidur harus miring ke kiri dan diganjal bantal. Telentang atau mengkurep juga gak bisa, karena ada benjolan tumor ini,” ungkapnya.
Dava mengharapkan, ada penanganan medis yang lebih baik dengan segera dioperasi. Supaya, penyakit yang ada di tubuhnya bisa segera diangkat. Karena dia berkeinginan lulus sekolah kemarin bisa langsung kerja”Saya ingin sekali bisa cepat kerja, supaya bisa bantu ibu,” ujarnya.