Bagi Aris, momen tersebut bukan sekadar kunjungan biasa. Ada rasa sedang menyaksikan sejarah yang ditulis perlahan di atas kanvas. “Itu pengalaman yang mungkin baru akan terasa nilainya puluhan tahun ke depan,” ungkapnya. Kini, karya itu telah melampaui ruang asalnya. Dikenal luas, dikenang, bahkan menjadi referensi visual bagi banyak orang. Sementara pelukisnya tetap sederhana. “Wis ngelukis ae apa yang saya rasakan,” kata Badrie. (hn)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Bagi Aris, momen tersebut bukan sekadar kunjungan biasa. Ada rasa sedang menyaksikan sejarah yang ditulis perlahan di atas kanvas. “Itu pengalaman yang mungkin baru akan terasa nilainya puluhan tahun ke depan,” ungkapnya. Kini, karya itu telah melampaui ruang asalnya. Dikenal luas, dikenang, bahkan menjadi referensi visual bagi banyak orang. Sementara pelukisnya tetap sederhana. “Wis ngelukis ae apa yang saya rasakan,” kata Badrie. (hn)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q