Thursday, January 15, 2026
26.6 C
Jayapura

Tak Sekedar Menguasai Materi, juga Harus Menghidupi Spiritualitas Pelayanan

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemkot Jayapura, kegiatan ini bisa berjalan berkat bantuan dana hibah,” tutur Ferdinando.

Pater Wilhelmus Ireneus Gonsalit Saut OFM, narasumber dalam rekoleksi tersebut menyampaikan kegiatan ini menjadi ruang penyegaran diri bagi para guru dan pegawai Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK). Dalam suasana sederhana namun penuh makna, mereka diajak merenungkan kembali panggilan utama sebagai pendidik Katolik, bukan hanya mengajar, tetapi juga melayani.

“Guru tidak cukup hanya mengajar ilmu. Mereka harus hadir sebagai pelayan, sebagaimana Santo Fransiskus Asisi melayani dengan kasih,” tegasnya.

Menurutnya, kehidupan St. Fransiskus menjadi teladan yang relevan sepanjang zaman. Fransiskus lahir dari keluarga kaya, namun memilih jalan hidup sederhana, membela kaum miskin, serta menghidupi kasih Kristiani dengan totalitas. “Itu pilihan yang sulit, tetapi ia memilih jalan itu karena kepeduliannya pada orang lemah. Guru YPPK pun dipanggil untuk hidup demikian di sekolah masing-masing,” tambahnya.

Baca Juga :  Selain Untuk Pembinaan Atlet, Akan Dikomersialkan Sebagai Tempat Wisata

Di sela sesi, para guru diberi kesempatan berdiskusi, menyampaikan pengalaman, bahkan membagikan refleksi pribadi. Mereka berbicara tentang cara bertahan di tengah tantangan pendidikan, sekaligus bagaimana menumbuhkan karakter siswa yang datang dari latar belakang beragam-baik ekonomi maupun keluarga.

“Diskusi singkat ini menjadi penting karena Anak-anak kita tidak semuanya datang dari keluarga harmonis. Ada yang kurang diperhatikan orang tuanya. Di sekolah, guru harus hadir sebagai orang tua kedua yang memberi perhatian,” kata Pater Gonsa.

Wakasek Umum SMA Teruna Bakti, Feliks Jemahan, mengaku kegiatan ini memberi penyegaran besar bagi para guru. Ia menganalogikan guru sebagai kendaraan yang jika terus dipakai tanpa perawatan, lama-lama produktivitasnya menurun.

Baca Juga :  Tak Hanya Para PKL, Pemilik Galian Tipe C Harus Berikan Kontribusi PAD 

“Rekoleksi ini ibarat kendaraan ketika semakin lama dipakai produktifitasnya semakin berkurang. Dengan kegiatan ini kami dipulihkan, sehingga tetap semangat mendidik. Relevan sekali dengan perkembangan zaman sekarang,” ucap Feliks.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemkot Jayapura, kegiatan ini bisa berjalan berkat bantuan dana hibah,” tutur Ferdinando.

Pater Wilhelmus Ireneus Gonsalit Saut OFM, narasumber dalam rekoleksi tersebut menyampaikan kegiatan ini menjadi ruang penyegaran diri bagi para guru dan pegawai Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK). Dalam suasana sederhana namun penuh makna, mereka diajak merenungkan kembali panggilan utama sebagai pendidik Katolik, bukan hanya mengajar, tetapi juga melayani.

“Guru tidak cukup hanya mengajar ilmu. Mereka harus hadir sebagai pelayan, sebagaimana Santo Fransiskus Asisi melayani dengan kasih,” tegasnya.

Menurutnya, kehidupan St. Fransiskus menjadi teladan yang relevan sepanjang zaman. Fransiskus lahir dari keluarga kaya, namun memilih jalan hidup sederhana, membela kaum miskin, serta menghidupi kasih Kristiani dengan totalitas. “Itu pilihan yang sulit, tetapi ia memilih jalan itu karena kepeduliannya pada orang lemah. Guru YPPK pun dipanggil untuk hidup demikian di sekolah masing-masing,” tambahnya.

Baca Juga :  Cek Kesiapan ASN Lanjut Turun Ke Pasar Youtefa  dan Otonom

Di sela sesi, para guru diberi kesempatan berdiskusi, menyampaikan pengalaman, bahkan membagikan refleksi pribadi. Mereka berbicara tentang cara bertahan di tengah tantangan pendidikan, sekaligus bagaimana menumbuhkan karakter siswa yang datang dari latar belakang beragam-baik ekonomi maupun keluarga.

“Diskusi singkat ini menjadi penting karena Anak-anak kita tidak semuanya datang dari keluarga harmonis. Ada yang kurang diperhatikan orang tuanya. Di sekolah, guru harus hadir sebagai orang tua kedua yang memberi perhatian,” kata Pater Gonsa.

Wakasek Umum SMA Teruna Bakti, Feliks Jemahan, mengaku kegiatan ini memberi penyegaran besar bagi para guru. Ia menganalogikan guru sebagai kendaraan yang jika terus dipakai tanpa perawatan, lama-lama produktivitasnya menurun.

Baca Juga :  Forki Kota Jayapura Target Juara Umum di Kejurda Forki Papua 2025

“Rekoleksi ini ibarat kendaraan ketika semakin lama dipakai produktifitasnya semakin berkurang. Dengan kegiatan ini kami dipulihkan, sehingga tetap semangat mendidik. Relevan sekali dengan perkembangan zaman sekarang,” ucap Feliks.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya