Di satu sisi, ia merasa bahagia karena keindahan alam yang selama ini hanya dinikmati masyarakat sekitar akhirnya dikenal luas. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang masa depan kawasan tersebut.
“Saya bersyukur melihat orang-orang memposting keindahan bukit ini. Tapi saya juga khawatir,” katanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hingga kini, belum ada pengelolaan yang jelas di kawasan wisata tersebut. Fasilitas dasar seperti tempat sampah, toilet umum, maupun sistem pengawasan belum tersedia.
Padahal, jika dikelola dengan baik, Bukit Bongge memiliki potensi besar menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jayapura. Menurut Sriyati, masyarakat Kampung Skoaim sebenarnya memiliki keinginan untuk mulai mengelola kawasan wisata tersebut. Namun langkah itu harus dibicarakan bersama seluruh pihak yang memiliki kepentingan karena kawasan Bukit Bongge berada di wilayah yang berbatasan dengan Distrik Ebungfauw dan Sentani Timur.
“Karena ada beberapa kampung yang juga berbatasan langsung dengan kawasan ini, maka semua harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya. Dalam waktu dekat, dirinya berencana turun langsung ke Kampung Skoaim untuk berdiskusi dengan pemerintah kampung dan masyarakat adat mengenai langkah pengelolaan Bukit Bongge ke depan.Menurutnya, pengelolaan yang baik tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga memastikan kelestarian kawasan tetap terjaga.
“Kami akan duduk bersama pemerintah kampung dan masyarakat untuk membahas bagaimana pengelolaan Bukit Bongge ke depan sehingga bisa memberikan pemasukan bagi masyarakat,” katanya.Ia menegaskan, jika nantinya diterapkan retribusi masuk, kebijakan tersebut harus melalui kesepakatan bersama dan besarannya tetap terjangkau bagi wisatawan.
“Tempat ini memang bisa menjadi sumber pendapatan, tetapi jangan sampai kita merusaknya. Karena itu pengelolaannya harus melibatkan pemerintah, dinas terkait, dan masyarakat setempat,” tegasnya.Perjalanan Bukit Bongge menuju popularitas ternyata berawal dari sesuatu yang sederhana yaitu ketika jalan diaspal.Warga Kampung Sekori, Kopda Abner Kedubrung, masih mengingat bagaimana sulitnya mencapai kawasan itu beberapa tahun lalu.
Saat musim hujan, kendaraan harus melewati jalan berbatu dan berlumpur. Jalur tersebut lebih sering dilalui truk pengangkut kayu dibanding masyarakat umum.”Tempat ini mulai viral sekitar satu sampai dua bulan terakhir sejak jalannya diaspal,” kata Abner. Kemudahan akses membuat wisatawan mulai berdatangan. Dari mulut ke mulut, lalu dari satu unggahan media sosial ke unggahan lainnya, nama Bukit Bongge semakin dikenal luas. Kini hampir setiap akhir pekan kawasan itu dipadati pengunjung. “Kami senang karena kampung kami semakin dikenal,” ujarnya.
Tak hanya menawarkan panorama savana yang memukau, Bukit Bongge juga menyimpan beragam cerita yang hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Kata Abner, di kawasan tersebut dahulu terdapat sebuah kampung tua yang kini telah berubah menjadi hutan lebat. Selain itu, masyarakat juga meyakini adanya kisah tentang bangkai kapal besar yang pernah muncul dari dalam tanah di sekitar kawasan bukit sebelum akhirnya menghilang kembali.
Cerita lain berkaitan dengan peninggalan Perang Dunia II. “Helm dan senjata api peninggalan tentara Jepang pernah ditemukan warga di sekitar kawasan ini,” katanya. Menurut cerita para orang tua, hutan-hutan di sekitar kampung pernah menjadi tempat persembunyian tentara Jepang pada masa perang. Sementara bagi Irma, salah seorang warga Hamadi yang mengetahui Bukit Bongge melalui media sosial, pesona tempat itu langsung terasa sejak pertama kali tiba. “Tempatnya nyaman dan menenangkan. Pemandangannya bagus sekali,” katanya.
Terlihat juga beberapa pengunjung sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara lainnya duduk di atas kendaraan atau beralaskan rerumputan menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota. Dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan seperti itu menjadi hal yang biasa di Bukit Bongge. Destinasi wisata alam yang berada di Kampung Skoaim, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura ini mendadak viral dan ramai dikunjungi masyarakat.
Sebagian orang mengenal lokasi ini sebagai Bukit Krisna, nama yang populer di media sosial. Namun bagi masyarakat setempat, nama yang sesungguhnya adalah Bukit Bongge. Nama itu bukan sekadar penanda sebuah tempat. Ia adalah tempat yang menyimpan memori kenangan masyarakat adat setempat.
Ia berharap kawasan tersebut tetap dijaga kebersihannya agar keindahan alam yang ada tidak rusak oleh ulah pengunjung. Harapan serupa juga disampaikan Sriyati. Menurutnya, menjaga Bukit Bongge bukan hanya tugas pemerintah atau masyarakat adat, tetapi tanggung jawab semua orang yang datang menikmati keindahannya. “Silakan datang dan menikmati hamparan bukit serta savana yang indah, tetapi jangan meninggalkan sampah dan jangan merusak lingkungan,” pesannya. (*)