Namun, ia mengakui bahwa suasana tetap berbeda. “Namanya juga bukan rumah sendiri,” tambahnya.
Kini, satu per satu keluarga mulai meninggalkan tenda. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing sebagian ke rumah sendiri, sebagian ke rumah kerabat, dan sebagian lagi masih mencari arah. Bagi 22 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, perjalanan baru saja dimulai.
Tak ada lagi dinding yang menyimpan cerita. Tak ada lagi album yang mengabadikan kenangan. Yang tersisa hanyalah ingatan dan harapan untuk membangun kembali, dari nol.
“Kalau kita terus pikirkan, tidak akan kembali. Jadi harus ikhlas dan pikir ke depan,” kata Yeni Pramudianti, menutup percakapan. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Namun, ia mengakui bahwa suasana tetap berbeda. “Namanya juga bukan rumah sendiri,” tambahnya.
Kini, satu per satu keluarga mulai meninggalkan tenda. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing sebagian ke rumah sendiri, sebagian ke rumah kerabat, dan sebagian lagi masih mencari arah. Bagi 22 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, perjalanan baru saja dimulai.
Tak ada lagi dinding yang menyimpan cerita. Tak ada lagi album yang mengabadikan kenangan. Yang tersisa hanyalah ingatan dan harapan untuk membangun kembali, dari nol.
“Kalau kita terus pikirkan, tidak akan kembali. Jadi harus ikhlas dan pikir ke depan,” kata Yeni Pramudianti, menutup percakapan. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q