Sebagian Ditampung Kerabat, Seorang Janda Tiga Anak Masih Bingung Cari Tempat

Yang paling ia sesalkan bukan hanya rumah, tetapi barang-barang kecil yang menyimpan arti besar. Sebuah koper milik anak sulungnya, yang baru pulang dari pondok pesantren di Bandung, ikut terbakar. Di dalamnya tersimpan pakaian, kenangan, hingga dokumen penting. “Baru empat hari dia sampai di Jayapura. Semua barangnya masih di koper itu, jadi tidak sempat diselamatkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Al-Qur’an milik anaknya, celengan berisi tabungan kecil, hingga boneka kesayangan juga ikut hangus. “Anak-anak kadang masih menangis. Mereka ingat boneka, ingat bapaknya karena tidak ada satu pun foto almarhum yang tersisa,” katanya.

Kebakaran itu bukan hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga memutus banyak hal yang tak kasat mata, kenangan, rasa aman, dan harapan. Di tengah keterbatasan, Yeni Pramudianti kini dihadapkan pada pilihan sulit. Ia sempat mempertimbangkan pulang ke kampung halaman di Jawa, namun anak-anaknya menolak.

Baca Juga :  47 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual, Program Kota Layak Anak Belum Nyata

“Anak-anak tidak mau pindah. Mereka sudah nyaman di sini. Jadi saya harus cari rumah di Jayapura, tapi itu yang masih saya bingungkan,” ujarnya.

Untuk sementara, ia berencana menumpang di rumah saudara di Koya. Namun, jarak menjadi persoalan baru, terutama bagi anak-anak yang harus tetap bersekolah. “Tidak mungkin selamanya numpang. Itu yang paling berat saya pikirkan sekarang,” katanya.

Di balik semua kesedihan, para korban tetap menyimpan rasa syukur. Selama di pengungsian, kebutuhan mereka tercukupi. Dinas Sosial dan para relawan memastikan makanan, pakaian, hingga hiburan bagi anak-anak tersedia. “Kami sangat berterima kasih. Semua terjamin, tidak ada yang kurang,” ujar Yeni.

Yang paling ia sesalkan bukan hanya rumah, tetapi barang-barang kecil yang menyimpan arti besar. Sebuah koper milik anak sulungnya, yang baru pulang dari pondok pesantren di Bandung, ikut terbakar. Di dalamnya tersimpan pakaian, kenangan, hingga dokumen penting. “Baru empat hari dia sampai di Jayapura. Semua barangnya masih di koper itu, jadi tidak sempat diselamatkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Al-Qur’an milik anaknya, celengan berisi tabungan kecil, hingga boneka kesayangan juga ikut hangus. “Anak-anak kadang masih menangis. Mereka ingat boneka, ingat bapaknya karena tidak ada satu pun foto almarhum yang tersisa,” katanya.

Kebakaran itu bukan hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga memutus banyak hal yang tak kasat mata, kenangan, rasa aman, dan harapan. Di tengah keterbatasan, Yeni Pramudianti kini dihadapkan pada pilihan sulit. Ia sempat mempertimbangkan pulang ke kampung halaman di Jawa, namun anak-anaknya menolak.

Baca Juga :  47 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual, Program Kota Layak Anak Belum Nyata

“Anak-anak tidak mau pindah. Mereka sudah nyaman di sini. Jadi saya harus cari rumah di Jayapura, tapi itu yang masih saya bingungkan,” ujarnya.

Untuk sementara, ia berencana menumpang di rumah saudara di Koya. Namun, jarak menjadi persoalan baru, terutama bagi anak-anak yang harus tetap bersekolah. “Tidak mungkin selamanya numpang. Itu yang paling berat saya pikirkan sekarang,” katanya.

Di balik semua kesedihan, para korban tetap menyimpan rasa syukur. Selama di pengungsian, kebutuhan mereka tercukupi. Dinas Sosial dan para relawan memastikan makanan, pakaian, hingga hiburan bagi anak-anak tersedia. “Kami sangat berterima kasih. Semua terjamin, tidak ada yang kurang,” ujar Yeni.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya