Prevalensi HIV, lanjutnya, merupakan indikator penting yang menggambarkan situasi penyebaran HIV di suatu wilayah. Penurunan satu langkah tersebut menunjukkan kerja sistematis yang berjalan. Namun setelah ia digantikan pada Desember 2019, situasi berubah drastis. “Saya diganti, dan sampai sekarang penularannya sangat tinggi,” katanya lugas.
Menurut Constant Karma, kunci utama keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS di Papua adalah KPA yang sehat dan berfungsi. KPA, katanya, bukan sekadar lembaga, melainkan payung besar yang menaungi lembaga donor, LSM, dan berbagai mitra internasional.
“Dulu, (lembaga) donor-donor internasional dan LSM datang mengerjakan program-program KPA. Program berjalan dengan baik karena KPA dipercaya,” ungkapnya.
Lembaga donor tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, Global Fund, dan lembaga internasional lainnya. Namun, setelah pergantian kepemimpinan KPA pada 2019, lembaga donor ini satu per satu mundur.
“Alasannya sederhana: KPA tidak menjamin program mereka. Sejak saya diganti, tidak ada program KPA yang jalan,” katanya tegas.
Ia menekankan, KPA harus bersih dan fokus pada pengabdian, bukan menjadi tempat konflik internal, perebutan anggaran, atau batu loncatan jabatan. “KPA bukan tempat cari makan. Itu tempat pengabdian untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Constant Karma kemudian menguraikan secara rinci empat pilar utama pencegahan penularan HIV, yang menurutnya harus kembali digerakkan secara masif.
Pertama Tes HIV, tes harus dilakukan secara aktif oleh layanan kesehatan. Jika hasilnya positif, pasien langsung dikonseling dan diberi obat ARV agar virus ditekan dan tidak menular ke orang lain.
Kedua penggunaan Kondom. Ia menegaskan, kampanye kondom bukan hal tabu. “Tabu apa? Kita sedang bertaruh dengan nyawa manusia,” katanya.
Menurutnya, jika seseorang nekat berganti-ganti pasangan, maka kondom adalah keharusan mutlak. “Gonta-ganti pasangan bisa, lantas kenapa kondom tidak? ini sesuatu yang mutlak harus dilakukan jika berani gonta-ganti pasangan,” tegas Constant.
Ketiga hal yang harus di perhatikan adalah Setia pada Pasangan. KPA harus terus-menerus mengkampanyekan bahaya gonta-ganti pasangan. “Papua sudah masuk fase epidemi. Risiko tertular sangat tinggi,” tegasnya.
Dan keeempat, Sirkumsisi (Sunat). Meski sulit karena faktor budaya, sirkumsisi terbukti secara medis mampu menurunkan risiko penularan HIV, IMS, dan hepatitis. “Sekali sirkumsisi, perlindungannya seumur hidup,” jelasnya.
Ia mencontohkan, saat masih aktif, KPA Papua berhasil melakukan sirkumsisi terhadap 1.292 anak dan orang dewasa di Keerom, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Nabire, dan Wamena. “Tapi memang tidak mudah, karena belum menjadi budaya kita di Papua,” ujarnya.
Di tengah tingginya kasus, Constant Karma menegaskan satu hal penting, saat ini, seharusnya tidak ada lagi orang meninggal karena AIDS. “Obat ARV tersedia, mahal tapi ditanggung negara. Di Puskesmas ada,” ujarnya.