alexametrics
27.7 C
Jayapura
Monday, May 23, 2022

Dijemput Mobil Tentara, Disuruh Masak di Cendana

Bakmi Jawa Pak Minto, Jakarta, Kaki Lima Langganan Pak Harto (4)

Sejak 58 tahun silam, Bakmi Jawa Pak Minto telah memikat para petinggi negara. Pak Harto dan keluarganya, Bu Mega, Jokowi, hingga Anies Baswedan adalah sebagian pelanggannya. Namun, pandemi dan ”garukan” mengubah peruntungan.

DINDA JUWITA, Jakarta

Trianto masih bisa mengingat dengan jelas petualangannya bersama sang ayah sebagai pengusaha kuliner. H Minto, sang ayah, adalah bakul bakmi yang tenar. Sebab, pelanggannya adalah orang-orang penting. Mulai pejabat ibu kota sampai presiden. Trianto berkali-kali diajak Minto datang ke istana presiden atau rumah dinas para pejabat pemerintahan.

’’Sudah dikenal dari zaman Presiden Soeharto sampai Ibu Megawati. Waktu Pak Jokowi masih jadi gubernur DKI juga sudah pernah merasakan. Pak Anies Baswedan juga langganan di warung ini,’’ terang putra ke-10 Minto itu saat ditemui Jawa Pos di warungnya pada awal Februari.

Sering memanjakan lidah orang-orang penting negeri ini membuat Minto juga dikenal di kalangan atas. Jika ada agenda penting, baik yang sifatnya resmi maupun personal, para tokoh publik tersebut tidak segan mengontak Minto langsung. Minto pun biasa menerima order khusus lewat telepon.

Trianto mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang pekerja keras. Kedekatannya dengan orang-orang penting pemerintahan pun buah dari ketekunannya dalam berusaha. Pria 45 tahun itu ingat betul perjuangan sang ayah sejak dirinya masih kecil. Meski tidak punya pembantu atau karyawan, Minto tidak pernah asal-asalan dalam bekerja. Dia menekuni usaha yang dirintisnya sejak 1964 tersebut.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), Trianto selalu mengagumi sang ayah. Lebih-lebih setelah dia rutin menemani Minto berjualan. ’’Dia turunkan ilmunya ke anak-anaknya supaya bisa melanjutkan perjuangan. Modalnya jujur dan ikhlas. Kalau nggak jujur nggak akan bisa dikenal sampai sekarang. Ayah saya yang mengajarkan itu dari sejak pertama jualan,’’ terangnya.

Di samping kerja keras, kunci sukses usaha kuliner Minto tentu terletak pada konsistensi rasa. Dari dulu sampai sekarang, Bakmi Jawa Pak Minto menyajikan kelezatan yang sama. Sebab, Trianto yang kini menjadi penerus usaha tidak pernah mengubah resep sang ayah. Dia yakin konsistensi rasa itulah yang membuat bakmi bikinannya bercita rasa tinggi. Itu pula yang membuat para pelanggan tetap setia meski sudah belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebagai penjual yang baik, Trianto berusaha mengingat menu favorit para pelanggannya. Tips itu dia dapatkan dari sang ayah. ’’Kalau Pak Soeharto, menu favoritnya bakmi Jawa rebus. Tapi, beliau pesannya spesial pakai daging ayam kampung,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Baru Tiga Bulan Nabung, Awalnya Dikira Penipuan

Mengolah ayam kampung menjadi hidangan perlu keterampilan khusus. Sebab, daging ayam kampung lebih liat jika dibandingkan dengan jenis daging ayam yang lain. ’’Bu Mega juga suka pakai ayam kampung,’’ imbuh Trianto.

Yang menarik dari Bakmi Jawa Pak Minto adalah kehadiran kekian dalam seporsi mi. Kekian dari tepung terigu yang digoreng itu dipotong-potong dan dicampurkan dalam mi. Kekian menjadi kekayaan Bakmi Jawa Pak Minto karena tampil bersama potongan daging ayam dan telur.

Trianto mengatakan, telur yang dipakai dalam masakannya adalah telur bebek. Berbeda dengan telur ayam, telur bebek memberikan rasa yang berbeda dalam sajian mi. Baik mi goreng maupun mi rebus. Khusus untuk mi rebus, sejumlah pelanggan meminta Trianto menyajikannya dalam kuah nyemek. Artinya, kuahnya sedikit saja.

Tiga menu unggulan Bakmi Jawa Pak Minto adalah mi, nasi goreng, dan daging cincang goreng. Selain itu, ada bihun, capcai, kwetiau, tongseng, gulai, sup, dan sate kambing. Tingkat kepedasannya bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Begitu juga aksesori tambahannya. Yakni, potongan ati ampela, daging kambing, daging sapi, atau daging ayam. Seporsi kelezatan itu bisa ditebus dengan harga mulai Rp 23 ribu sampai Rp 30 ribu saja.

Kepada Jawa Pos, Trianto bercerita bahwa saking gemarnya menyantap Bakmi Jawa Pak Minto, Soeharto sering mengundangnya secara khusus untuk memasak di kediamannya. Penguasa Orde Baru itu meminta Trianto datang ke Cendana. Cukup datang saja. Sebab, segala perintilan untuk memasak sudah tersedia. Keluarga Cendana mempersiapkan semuanya.

’’Kalau Pak Harto dan Bu Mega itu saya dijemput untuk masak di rumah beliau-beliau. Saya dijemput naik mobil tentara, keperluan sudah disiapkan ajudan di sana, pulangnya saya diantar lagi,’’ kisah Trianto.

Dalam hal kuliner, putra-putri Soeharto ternyata juga mengikuti selera sang bapak. Termasuk soal Bakmi Jawa Pak Minto. Dalam berbagai hajatan, putra-putri Cendana pun memboyong Bakmi Jawa Pak Minto sebagai penyaji hidangan.

’’Mas Bambang Tri dan Mas Tommy juga pernah mengundang waktu ada sunatan di Masjid At-Tin. Perasaan saya senang dan bangga sekali. Dulu bahkan lokasi dagang saya paling aman dari pungutan liar,’’ kata Trianto dengan semringah.

Baca Juga :  Banyak Kepala Kampung Belum Paham Administrasi

Lebih dari setengah abad mempertahankan reputasi baik Bakmi Jawa Pak Minto, Trianto mengaku menemui banyak kendala. Bagaimanapun, mempertahankan lebih sulit daripada meningkatkan. Salah satu yang sempat membuat Trianto galau adalah soal harga. Pada masa pandemi, dia mengaku kesulitan untuk mempertahankan stabilitas keuangan. Harga bahan-bahan pokok di pasar terus merangkak, sementara dia ragu untuk menaikkan harga jualannya.

’’Kita hanya bisa bertahan, yang penting ada uang belanja buat besok. Kalau mau seperti dulu ya susah. Jadi, kita yang penting bertahan aja. Pandemi memang luar biasa dampaknya,’’ ungkapnya.

Pandemi juga membuat Trianto kehilangan pelanggan. Dulu, mereka yang ingin mencicipi Bakmi Jawa Pak Minto harus rela antre. Sekarang kondisinya berubah. Apalagi, selama beberapa bulan terakhir, Trianto menempati lokasi baru.

Bakmi Jawa Pak Minto yang sebelumnya hanya beberapa langkah dari Stasiun Gondangdia harus pindah. Tempat usaha Trianto selama 58 tahun itu terdampak relokasi oleh satpol PP. Kini warung legendaris yang dulu juga dikenal sebagai Bakmi Jawa Gondangdia itu berada di Menteng. Tepatnya, di Jalan Menteng Raya Nomor 70, Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Lokasinya tepat di sebelah SMP Kanisius.

’’Dulu di lokasi lama memang pelanggannya luar biasa. Saya generasi kedua yang bisa menikmati hasil perjuangan ayah. Tapi, setelah pindah ini, saya jadi merasakan yang ayah saya rasakan dulu. Harus merintis lagi dari nol,’’ papar Trianto.

Untuk menjangkau para pelanggan lama yang mungkin kebingungan mencari lokasi baru warungnya, Trianto memperbarui titik lokasi usahanya di Google. Itu juga dia lakukan pada berbagai aplikasi ojek makanan daring. Dia berharap upayanya membuahkan hasil yang baik.

Soal pendapatan, Trianto tidak terlalu ngotot. ’’Dulu kalau 50 persen pelanggan saja datang, saya bisa dapat Rp 2 juta. Sekarang sehari paling banter Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu,’’ katanya. Kendati demikian, dia menjamin kualitas masakannya tetap sama. Bagi dia, menjaga kualitas dan konsistensi rasa adalah harga mati.

Minto, kata Trianto, selalu mewanti-wanti kepada anak-anaknya agar menjadi manusia yang jujur. Khususnya jujur dalam berdagang. ’’Nggak boleh membohongi pembeli, bohongin menukar bumbu atau bahan yang tidak semestinya juga jangan pernah. Amanah itu saya jaga sampai sekarang,’’ tandasnya. (*/c7/hep/JPG)

Bakmi Jawa Pak Minto, Jakarta, Kaki Lima Langganan Pak Harto (4)

Sejak 58 tahun silam, Bakmi Jawa Pak Minto telah memikat para petinggi negara. Pak Harto dan keluarganya, Bu Mega, Jokowi, hingga Anies Baswedan adalah sebagian pelanggannya. Namun, pandemi dan ”garukan” mengubah peruntungan.

DINDA JUWITA, Jakarta

Trianto masih bisa mengingat dengan jelas petualangannya bersama sang ayah sebagai pengusaha kuliner. H Minto, sang ayah, adalah bakul bakmi yang tenar. Sebab, pelanggannya adalah orang-orang penting. Mulai pejabat ibu kota sampai presiden. Trianto berkali-kali diajak Minto datang ke istana presiden atau rumah dinas para pejabat pemerintahan.

’’Sudah dikenal dari zaman Presiden Soeharto sampai Ibu Megawati. Waktu Pak Jokowi masih jadi gubernur DKI juga sudah pernah merasakan. Pak Anies Baswedan juga langganan di warung ini,’’ terang putra ke-10 Minto itu saat ditemui Jawa Pos di warungnya pada awal Februari.

Sering memanjakan lidah orang-orang penting negeri ini membuat Minto juga dikenal di kalangan atas. Jika ada agenda penting, baik yang sifatnya resmi maupun personal, para tokoh publik tersebut tidak segan mengontak Minto langsung. Minto pun biasa menerima order khusus lewat telepon.

Trianto mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang pekerja keras. Kedekatannya dengan orang-orang penting pemerintahan pun buah dari ketekunannya dalam berusaha. Pria 45 tahun itu ingat betul perjuangan sang ayah sejak dirinya masih kecil. Meski tidak punya pembantu atau karyawan, Minto tidak pernah asal-asalan dalam bekerja. Dia menekuni usaha yang dirintisnya sejak 1964 tersebut.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), Trianto selalu mengagumi sang ayah. Lebih-lebih setelah dia rutin menemani Minto berjualan. ’’Dia turunkan ilmunya ke anak-anaknya supaya bisa melanjutkan perjuangan. Modalnya jujur dan ikhlas. Kalau nggak jujur nggak akan bisa dikenal sampai sekarang. Ayah saya yang mengajarkan itu dari sejak pertama jualan,’’ terangnya.

Di samping kerja keras, kunci sukses usaha kuliner Minto tentu terletak pada konsistensi rasa. Dari dulu sampai sekarang, Bakmi Jawa Pak Minto menyajikan kelezatan yang sama. Sebab, Trianto yang kini menjadi penerus usaha tidak pernah mengubah resep sang ayah. Dia yakin konsistensi rasa itulah yang membuat bakmi bikinannya bercita rasa tinggi. Itu pula yang membuat para pelanggan tetap setia meski sudah belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebagai penjual yang baik, Trianto berusaha mengingat menu favorit para pelanggannya. Tips itu dia dapatkan dari sang ayah. ’’Kalau Pak Soeharto, menu favoritnya bakmi Jawa rebus. Tapi, beliau pesannya spesial pakai daging ayam kampung,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Bukan Hanya Orang Yang Dikerangkeng, Satwa Dilindungi Juga

Mengolah ayam kampung menjadi hidangan perlu keterampilan khusus. Sebab, daging ayam kampung lebih liat jika dibandingkan dengan jenis daging ayam yang lain. ’’Bu Mega juga suka pakai ayam kampung,’’ imbuh Trianto.

Yang menarik dari Bakmi Jawa Pak Minto adalah kehadiran kekian dalam seporsi mi. Kekian dari tepung terigu yang digoreng itu dipotong-potong dan dicampurkan dalam mi. Kekian menjadi kekayaan Bakmi Jawa Pak Minto karena tampil bersama potongan daging ayam dan telur.

Trianto mengatakan, telur yang dipakai dalam masakannya adalah telur bebek. Berbeda dengan telur ayam, telur bebek memberikan rasa yang berbeda dalam sajian mi. Baik mi goreng maupun mi rebus. Khusus untuk mi rebus, sejumlah pelanggan meminta Trianto menyajikannya dalam kuah nyemek. Artinya, kuahnya sedikit saja.

Tiga menu unggulan Bakmi Jawa Pak Minto adalah mi, nasi goreng, dan daging cincang goreng. Selain itu, ada bihun, capcai, kwetiau, tongseng, gulai, sup, dan sate kambing. Tingkat kepedasannya bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Begitu juga aksesori tambahannya. Yakni, potongan ati ampela, daging kambing, daging sapi, atau daging ayam. Seporsi kelezatan itu bisa ditebus dengan harga mulai Rp 23 ribu sampai Rp 30 ribu saja.

Kepada Jawa Pos, Trianto bercerita bahwa saking gemarnya menyantap Bakmi Jawa Pak Minto, Soeharto sering mengundangnya secara khusus untuk memasak di kediamannya. Penguasa Orde Baru itu meminta Trianto datang ke Cendana. Cukup datang saja. Sebab, segala perintilan untuk memasak sudah tersedia. Keluarga Cendana mempersiapkan semuanya.

’’Kalau Pak Harto dan Bu Mega itu saya dijemput untuk masak di rumah beliau-beliau. Saya dijemput naik mobil tentara, keperluan sudah disiapkan ajudan di sana, pulangnya saya diantar lagi,’’ kisah Trianto.

Dalam hal kuliner, putra-putri Soeharto ternyata juga mengikuti selera sang bapak. Termasuk soal Bakmi Jawa Pak Minto. Dalam berbagai hajatan, putra-putri Cendana pun memboyong Bakmi Jawa Pak Minto sebagai penyaji hidangan.

’’Mas Bambang Tri dan Mas Tommy juga pernah mengundang waktu ada sunatan di Masjid At-Tin. Perasaan saya senang dan bangga sekali. Dulu bahkan lokasi dagang saya paling aman dari pungutan liar,’’ kata Trianto dengan semringah.

Baca Juga :  Cara Elegan Menjawab Perundungan saat Klub Kesayangan Terpuruk

Lebih dari setengah abad mempertahankan reputasi baik Bakmi Jawa Pak Minto, Trianto mengaku menemui banyak kendala. Bagaimanapun, mempertahankan lebih sulit daripada meningkatkan. Salah satu yang sempat membuat Trianto galau adalah soal harga. Pada masa pandemi, dia mengaku kesulitan untuk mempertahankan stabilitas keuangan. Harga bahan-bahan pokok di pasar terus merangkak, sementara dia ragu untuk menaikkan harga jualannya.

’’Kita hanya bisa bertahan, yang penting ada uang belanja buat besok. Kalau mau seperti dulu ya susah. Jadi, kita yang penting bertahan aja. Pandemi memang luar biasa dampaknya,’’ ungkapnya.

Pandemi juga membuat Trianto kehilangan pelanggan. Dulu, mereka yang ingin mencicipi Bakmi Jawa Pak Minto harus rela antre. Sekarang kondisinya berubah. Apalagi, selama beberapa bulan terakhir, Trianto menempati lokasi baru.

Bakmi Jawa Pak Minto yang sebelumnya hanya beberapa langkah dari Stasiun Gondangdia harus pindah. Tempat usaha Trianto selama 58 tahun itu terdampak relokasi oleh satpol PP. Kini warung legendaris yang dulu juga dikenal sebagai Bakmi Jawa Gondangdia itu berada di Menteng. Tepatnya, di Jalan Menteng Raya Nomor 70, Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Lokasinya tepat di sebelah SMP Kanisius.

’’Dulu di lokasi lama memang pelanggannya luar biasa. Saya generasi kedua yang bisa menikmati hasil perjuangan ayah. Tapi, setelah pindah ini, saya jadi merasakan yang ayah saya rasakan dulu. Harus merintis lagi dari nol,’’ papar Trianto.

Untuk menjangkau para pelanggan lama yang mungkin kebingungan mencari lokasi baru warungnya, Trianto memperbarui titik lokasi usahanya di Google. Itu juga dia lakukan pada berbagai aplikasi ojek makanan daring. Dia berharap upayanya membuahkan hasil yang baik.

Soal pendapatan, Trianto tidak terlalu ngotot. ’’Dulu kalau 50 persen pelanggan saja datang, saya bisa dapat Rp 2 juta. Sekarang sehari paling banter Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu,’’ katanya. Kendati demikian, dia menjamin kualitas masakannya tetap sama. Bagi dia, menjaga kualitas dan konsistensi rasa adalah harga mati.

Minto, kata Trianto, selalu mewanti-wanti kepada anak-anaknya agar menjadi manusia yang jujur. Khususnya jujur dalam berdagang. ’’Nggak boleh membohongi pembeli, bohongin menukar bumbu atau bahan yang tidak semestinya juga jangan pernah. Amanah itu saya jaga sampai sekarang,’’ tandasnya. (*/c7/hep/JPG)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/