Ketika Sekolah Formal Tak Lagi Terjangkau, PKBM Menjadi Pintu Kedua

  Marthen menilai, pengelola PKBM sebenarnya memiliki semangat besar untuk membantu anak-anak yang tidak sekolah. Yang dibutuhkan adalah dukungan pemerintah agar semangat tersebut tidak berhenti karena keterbatasan.

  “Saya berharap ada pembinaan kepada pengelola PKBM. Dengan begitu mereka lebih semangat lagi melakukan proses belajar, menolong anak-anak kita. Numerasi dan literasi awalnya bisa dibentuk lebih bagus,” tuturnya.

   Persoalan ATS juga membutuhkan kerja lintas sektor. Pemerintah provinsi akan membangun komunikasi dengan kabupaten dan kota serta perangkat daerah lainnya untuk menentukan siapa melakukan apa dalam penanganannya.

  Sebab, seorang anak berhenti sekolah tidak selalu disebabkan oleh satu persoalan. Ketika anak tidak lagi berada di ruang kelas, dampaknya dapat berlanjut pada kemampuan membaca, berhitung, kesempatan memperoleh pekerjaan hingga masa depan mereka.

Baca Juga :  Tiap hari ada yang Datang Mancing, Bahkan ada yang Malam Hari

  Karena itu, pemerintah ingin memastikan anak-anak yang kehilangan kesempatan sekolah tidak kehilangan masa depan. “Kalau itu kita lakukan, saya yakin teman-teman PKBM lebih semangat menolong anak-anak yang putus sekolah atau anak-anak yang tidak sekolah punya masa depan yang sama dengan anak-anak yang lain yang punya kesempatan sekolah,” tutup Marthen. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

  Marthen menilai, pengelola PKBM sebenarnya memiliki semangat besar untuk membantu anak-anak yang tidak sekolah. Yang dibutuhkan adalah dukungan pemerintah agar semangat tersebut tidak berhenti karena keterbatasan.

  “Saya berharap ada pembinaan kepada pengelola PKBM. Dengan begitu mereka lebih semangat lagi melakukan proses belajar, menolong anak-anak kita. Numerasi dan literasi awalnya bisa dibentuk lebih bagus,” tuturnya.

   Persoalan ATS juga membutuhkan kerja lintas sektor. Pemerintah provinsi akan membangun komunikasi dengan kabupaten dan kota serta perangkat daerah lainnya untuk menentukan siapa melakukan apa dalam penanganannya.

  Sebab, seorang anak berhenti sekolah tidak selalu disebabkan oleh satu persoalan. Ketika anak tidak lagi berada di ruang kelas, dampaknya dapat berlanjut pada kemampuan membaca, berhitung, kesempatan memperoleh pekerjaan hingga masa depan mereka.

Baca Juga :  ASN Pemprov Papua Masuk Pukul 08:30 WIT, di Pemkot Apel Pagi Senin Ditiadakan

  Karena itu, pemerintah ingin memastikan anak-anak yang kehilangan kesempatan sekolah tidak kehilangan masa depan. “Kalau itu kita lakukan, saya yakin teman-teman PKBM lebih semangat menolong anak-anak yang putus sekolah atau anak-anak yang tidak sekolah punya masa depan yang sama dengan anak-anak yang lain yang punya kesempatan sekolah,” tutup Marthen. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya