“Disisi lain pemuda -pemuda yang juga belum mendapatkan kerja juga mengambil kesempatan menarik becak di saat belum ada kendaraan umum seperti angkot dan ojek belum ada, ini langkah efektif pemerintah daerah pada saat itu untuk membuka lapangan pekerjaan,”ungkap salah satu pegusaha becak Nove Wamena, Ahmadi.
Awal becak beroperasi di Jayawijaya pendapatan untuk penarik becak ini juga cukup bagus, sebab ditahun -tahun 1997-1999 itu pengasilan cukup baik sebab dalam sehari itu bisa mendapatkan Rp 150.000 – Rp 250. 000 setiap hari sehingga banyak siswa sekolah yang mengambil pekerjaan sebagai penarik becak ini sebagai pekerjaan sambilan setelah pulang dari sekolah, dan sampai saat ini tradisi seperti ini masih terus dipertahankan.
Kebanyakan siswa sekolah yang datang dari kabupaten pemekaran mengambil kerja sambilan dengan menarik becak usai pulang sekolah atau pada saat libur sekolah, ini dilakukan untuk menambah pengasilan mereka dalam menempuh pendidikan di Wamena dan juga meringankan beban orang tuanya, rata -rata siswa sekolah yang mengambil kerja sambilan sebagai penarik becak ini dari kabupaten pemekaran seperti Yahukimo, Tolikara, Nduga dan Lanny Jaya.
“Awalnya becak yang didatangkan ini hanya 30 unit namun setelah berjalan ternyata banyak warga yang berminat sehingga terus berkembang hingga mencapai 600 unit yang beroperasi yang dipegang oleh 15 pengusaha, sekarang sudah banyak ojek dan pendapatan masyarakat juga menurun membuat becak ini sudah kurang menarik hingga menurun dan kini tinggal 2 pengusaha saja,” beber Ahmadi.
“Disisi lain pemuda -pemuda yang juga belum mendapatkan kerja juga mengambil kesempatan menarik becak di saat belum ada kendaraan umum seperti angkot dan ojek belum ada, ini langkah efektif pemerintah daerah pada saat itu untuk membuka lapangan pekerjaan,”ungkap salah satu pegusaha becak Nove Wamena, Ahmadi.
Awal becak beroperasi di Jayawijaya pendapatan untuk penarik becak ini juga cukup bagus, sebab ditahun -tahun 1997-1999 itu pengasilan cukup baik sebab dalam sehari itu bisa mendapatkan Rp 150.000 – Rp 250. 000 setiap hari sehingga banyak siswa sekolah yang mengambil pekerjaan sebagai penarik becak ini sebagai pekerjaan sambilan setelah pulang dari sekolah, dan sampai saat ini tradisi seperti ini masih terus dipertahankan.
Kebanyakan siswa sekolah yang datang dari kabupaten pemekaran mengambil kerja sambilan dengan menarik becak usai pulang sekolah atau pada saat libur sekolah, ini dilakukan untuk menambah pengasilan mereka dalam menempuh pendidikan di Wamena dan juga meringankan beban orang tuanya, rata -rata siswa sekolah yang mengambil kerja sambilan sebagai penarik becak ini dari kabupaten pemekaran seperti Yahukimo, Tolikara, Nduga dan Lanny Jaya.
“Awalnya becak yang didatangkan ini hanya 30 unit namun setelah berjalan ternyata banyak warga yang berminat sehingga terus berkembang hingga mencapai 600 unit yang beroperasi yang dipegang oleh 15 pengusaha, sekarang sudah banyak ojek dan pendapatan masyarakat juga menurun membuat becak ini sudah kurang menarik hingga menurun dan kini tinggal 2 pengusaha saja,” beber Ahmadi.