Turun Dari Motor Rasa Mau Buang Air, Ternyata Kepala Bayi Sudah Keluar Duluan

Sementara itu dr. Rifaldy menyebut proses kelahiran di luar ruang bersalin sangat berisiko. Bayi bisa mengalami hipoksia, kekurangan oksigen, bahkan hipotermia karena dinginnya udara pagi. “Bayi lahir di parkiran, jatuh di tanah, dan ada lilitan tali pusat satu kali. Kalau terlambat sedikit saja, bisa fatal,” jelasnya.

“Karena lahir di tempat yang tidak steril, risiko infeksi juga tinggi. Maka prioritas tim medis jelas, percepatan, kehangatan, dan stabilisasi,” tambahnya.

Seorang warga, Martinus Yurianto Kurnia, turut menyaksikan momen heroik itu. Ia melihat bagaimana perawat dan dokter bekerja tanpa sedikit pun memikirkan administrasi atau prosedur birokrasi. “Saya lihat seorang bidan naik ke atas ranjang sambil proses persalinan berjalan, dan yang lain mendorong tempat tidur. Itu benar-benar heroik,” kenangnya.

Baca Juga :  Tiga Tahun Papua Tengah, Gubernur Meki Luncurkan Program “ Ko Harus Sehat “

Baginya, tindakan RS Bhayangkara pagi itu adalah bukti bahwa keselamatan pasien berada di atas segalanya. “Karena kalau saat itu tidak cepat ambil tindakan kita tidak tau lagi ceritanya seperti apa,” tuturnya.

Menurut dr. Rifaldy, situasi seperti ini sebenarnya bisa dicegah bila ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC). Margareta sendiri mengaku hanya sekali melakukan kontrol kehamilan.

Ketidaktahuan terhadap Hari Perkiraan Lahir (HPL), posisi janin, hingga potensi lilitan tali pusat seharusnya dapat terdeteksi lebih awal melalui pemeriksaan berkala. “Antenatal care itu penting untuk mengetahui kondisi janin, letaknya, dan kapan waktu persalinannya. Ini menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Beruntung, berkat kesigapan tim medis, bayi laki-laki itu lahir sehat dengan berat 2,9 kilogram dan panjang 51 cm. Margareta pun dalam kondisi stabil. Keduanya kini dirawat di Ruang Kakatua 9 RS Bhayangkara Jayapura. “Sekarang sudah aman, hanya butuh waktu mungkin tidak lama lagi mereka pulang, karena bayi dan ibunya sangat sehat,” ujar dr. Rivaldi.

Baca Juga :  Penonton Diajak Bermain, Berteriak dan Meluapkan Kemarahan pada ‘Cupak’

Sementara itu dr. Rifaldy menyebut proses kelahiran di luar ruang bersalin sangat berisiko. Bayi bisa mengalami hipoksia, kekurangan oksigen, bahkan hipotermia karena dinginnya udara pagi. “Bayi lahir di parkiran, jatuh di tanah, dan ada lilitan tali pusat satu kali. Kalau terlambat sedikit saja, bisa fatal,” jelasnya.

“Karena lahir di tempat yang tidak steril, risiko infeksi juga tinggi. Maka prioritas tim medis jelas, percepatan, kehangatan, dan stabilisasi,” tambahnya.

Seorang warga, Martinus Yurianto Kurnia, turut menyaksikan momen heroik itu. Ia melihat bagaimana perawat dan dokter bekerja tanpa sedikit pun memikirkan administrasi atau prosedur birokrasi. “Saya lihat seorang bidan naik ke atas ranjang sambil proses persalinan berjalan, dan yang lain mendorong tempat tidur. Itu benar-benar heroik,” kenangnya.

Baca Juga :  Up Grade Fasilitas IGD  Untuk Jawab Kebutuhan Pasien     

Baginya, tindakan RS Bhayangkara pagi itu adalah bukti bahwa keselamatan pasien berada di atas segalanya. “Karena kalau saat itu tidak cepat ambil tindakan kita tidak tau lagi ceritanya seperti apa,” tuturnya.

Menurut dr. Rifaldy, situasi seperti ini sebenarnya bisa dicegah bila ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC). Margareta sendiri mengaku hanya sekali melakukan kontrol kehamilan.

Ketidaktahuan terhadap Hari Perkiraan Lahir (HPL), posisi janin, hingga potensi lilitan tali pusat seharusnya dapat terdeteksi lebih awal melalui pemeriksaan berkala. “Antenatal care itu penting untuk mengetahui kondisi janin, letaknya, dan kapan waktu persalinannya. Ini menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Beruntung, berkat kesigapan tim medis, bayi laki-laki itu lahir sehat dengan berat 2,9 kilogram dan panjang 51 cm. Margareta pun dalam kondisi stabil. Keduanya kini dirawat di Ruang Kakatua 9 RS Bhayangkara Jayapura. “Sekarang sudah aman, hanya butuh waktu mungkin tidak lama lagi mereka pulang, karena bayi dan ibunya sangat sehat,” ujar dr. Rivaldi.

Baca Juga :  Ambulans di Kabupaten Jayapura Akan Dilengkapi Standar Layanan Lengkap

Berita Terbaru

Artikel Lainnya