Menengok Kawasan Ruko yang Dulu Jadi Pusat Kuliner, Kini Sepi Seperti Kota Mati
Kawasan Ruko Dok II merupakan pusat bisnis, jasa, dan perkantoran utama yang terletak di jantung Kota Jayapura, tepatnya di Kelurahan Bhayangkara, Distrik Jayapura Utara. Area ini dikenal sebagai zona strategis karena lokasinya yang berdekatan dengan pusat pemerintahan (Kantor Gubernur Papua) dan garis pantai.
Laporan: Karolus Daot_Jayapura
Senin (11/5) senja mulai turun di Kawasan Ruko Dok II. Langit perlahan berubah jingga ketika matahari bergerak menuju ufuk barat. Namun, suasana sore di kawasan yang dulu dikenal sebagai pusat kuliner dan hiburan Kota Jayapura itu justru terasa sunyi. Tidak banyak kendaraan melintas. Deretan ruko yang dahulu ramai dipenuhi pengunjung kini tampak lengang. Sebagian besar pintu pertokoan tertutup rapat. Di beberapa bangunan, baliho bertuliskan “Dijual” terpampang jelas seolah menjadi penanda perubahan besar yang sedang terjadi di kawasan elit tersebut.
Padahal beberapa tahun lalu, Ruko Dok II adalah salah satu tempat favorit warga Kota Jayapura untuk menghabiskan malam. Di kawasan ini, masyarakat bisa menikmati berbagai pilihan kuliner, nongkrong di kafe, hingga berkaraoke bersama keluarga maupun teman di tempat hiburan terkenal seperti Hepup.
Kini suasana itu tinggal cerita.
Aktivitas pegawai kantor maupun perbankan yang dulu memenuhi kawasan tersebut saat jam makan siang hampir tak lagi terlihat. Beberapa kafe yang masih buka pun tampak sepi tanpa pengunjung. Dari sekian banyak usaha kuliner, hanya beberapa yang masih bertahan. Salah satunya Kopi Tiam, yang hingga kini masih ramai didatangi pelanggan.
Sementara itu, sebagian besar restoran dan coffee shop lainnya memilih menutup usaha. Salah satu yang disebut warga cukup lama menjadi ikon hiburan di kawasan tersebut, Hepup, bahkan sudah hampir sebulan tutup. Di sebuah sudut kawasan ruko, Cafe Bali Hai masih mencoba bertahan. Tanga, salah seorang karyawan, mengaku perubahan mulai terasa sejak pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020.
Menurutnya, situasi semakin berat, ketika akses masuk kawasan ruko mulai diberlakukan menggunakan portal berbayar oleh PT Angkasa Pura. Untuk kendaraan roda empat dikenakan tarif Rp6 ribu per jam, sementara roda dua Rp3 ribu per jam.
“Sejak itu perubahan mulai terlihat. Orang-orang yang datang makan mulai berkurang,” ujar Tanga kepada Cenderawasih Pos.
Bukan hanya portal, kebijakan penertiban pedagang kaki lima juga ikut memengaruhi denyut ekonomi kawasan tersebut. Tanga menilai keberadaan pedagang kaki lima justru dulu menjadi daya tarik utama yang membuat kawasan ruko hidup hingga malam hari.
“Dulu anak-anak muda, pegawai kantoran, kalau pulang kerja pasti singgah di ruko. Mungkin ngopi atau beli gorengan. Dari situ biasanya mereka juga pesan makan malam di restoran. Jadi kami juga dapat bagian dari ramainya pedagang kaki lima,” tuturnya.