Namun kondisi itu kini berubah drastis. Dalam empat tahun terakhir, pendapatan usaha mereka merosot tajam. Jika dulu omzet harian bisa mencapai puluhan juta rupiah, kini untuk memperoleh Rp1 juta per hari saja sangat sulit. “Kecuali kalau ada rombongan datang. Tapi sekarang juga jarang,” katanya.
Menurut Tanga, sebelum adanya portal, pelanggan utama restoran di kawasan ruko didominasi pegawai kantor dan pejabat dari berbagai wilayah di Kota Jayapura. Saat ini, pemandangan pegawai makan siang di kawasan tersebut hampir tidak terlihat lagi. “Mungkin karena ekonomi juga lagi susah, atau mereka bawa makanan dari rumah. Yang jelas sekarang jarang sekali pegawai makan di sini,” katanya.
Dampak penurunan pengunjung membuat banyak usaha harus melakukan efisiensi besar-besaran. Cafe Bali Hai misalnya, terpaksa mengurangi jumlah karyawan dari 15 orang menjadi hanya empat orang. “Perusahaan tidak mungkin bayar semua karyawan dengan kondisi sekarang,” ujarnya.
Bahkan sejak 2024, omzet mereka disebut turun hingga 75 persen. Dalam sehari, terkadang tidak ada satu pun pelanggan yang datang makan. Tanga mengaku Bali Hai masih bisa bertahan karena bangunan ruko tersebut milik pribadi pemilik usaha, sehingga tidak terbebani biaya sewa. Berbeda dengan usaha lain yang menggunakan sistem kontrak. “Kalau yang sewa, hampir semua tutup. Salah satunya Cafe Dante,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat melihat kondisi kawasan ruko secara serius. Menurutnya, kawasan tersebut merupakan salah satu pusat ekonomi yang seharusnya mampu mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jayapura.
“Kalau bisa sistem portal ini dievaluasi. Mungkin ada batasan waktu gratis seperti dulu, supaya orang lebih bebas keluar masuk,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan Dewi M.S, Manager Cafe Bambu Kuning. Ia mengatakan perubahan besar di kawasan ruko mulai terasa sejak 2020. “Dulu pengunjung ramai sekali. Setelah portal diterapkan, pengunjung langsung turun hampir 50 persen. Sekarang bahkan turun sampai 80 persen,” ujarnya.
Selain faktor portal dan pandemi, Dewi juga menilai munculnya banyak tempat nongkrong baru di kawasan Holtekamp ikut menggeser minat masyarakat.
“Sekarang orang lebih suka ke Holtekamp karena pemandangannya bagus,” katanya.
Untuk bertahan, Cafe Bambu Kuning kini mengandalkan layanan katering dan penjualan online. Sebab jika hanya berharap pelanggan datang langsung ke kawasan ruko, menurutnya sangat sulit. “Kadang sampai sore belum ada satu pun pelanggan datang,” tuturnya.
Cafe tersebut juga harus mengurangi jumlah karyawan dari lebih dari 20 orang menjadi hanya delapan orang. Meski demikian, pihak manajemen tetap berusaha memenuhi hak para pekerja. “Gaji tetap kami bayar penuh. Hanya bonus yang disesuaikan dengan pemasukan,” ujarnya.
Dewi berharap pemerintah bisa menghadirkan lebih banyak kegiatan atau event rutin di kawasan Ruko Dok II agar kembali menarik pengunjung. Ia juga berharap pedagang kaki lima diizinkan kembali berjualan dengan penataan yang baik. “Kalau ada event rutin atau pedagang kaki lima kembali jualan, pasti kawasan ini hidup lagi,” katanya.
Kondisi lesunya ekonomi di kawasan ruko juga menjadi perhatian DPR Kota Jayapura. Ketua Panitia Khusus (Pansus) PAD DPRK Jayapura, Ismail Bepa, menilai perubahan ekonomi di kawasan tersebut cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi sistem portal agar tidak menjadi penghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau hanya setengah jam misalnya gratis, orang akan lebih banyak keluar masuk. Karena memang sejak ada portal, kawasan ruko jadi sepi sekali,” ujarnya Rabu (6/5).