Empat Dekade Bertahan di Tengah Bara, Menyalakan Harapan Bagi Buah Hati

Dari serpihan-serpihan yang dianggap tidak bernilai itu, Marnis perlahan membangun usaha yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarganya. “Awalnya saya merintis usaha ini dengan mengumpulkan batu bara yang tercecer dari gerbong yang membawa batu bara. Selain itu, saya mengumpulkan batu bara yang terserak di sekitar tempat pengumpulannya di Pelabuhan Teluk Bayur,” tuturnya.Zaman berubah.

Kereta api pengangkut batu bara tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas yang dilihat Marnis. Namun, perubahan itu tidak membuatnya berhenti. Kini, bahan baku dibelinya langsung dari Sawahlunto dengan dokumen atau surat resmi. Setiap hari, ia mampu memproduksi sekitar 15 hingga 20 karung batu bara bakar.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan pandai besi di Kota Padang, hasil produksinya juga dikirim ke sejumlah daerah di Sumatera Barat, termasuk hingga Bukittinggi. Batu bara bakar yang diproduksi Marnis memiliki pasar tersendiri. Bagi perajin pandai besi tradisional, bahan bakar dengan panas tinggi dan stabil sangat dibutuhkan untuk menempa besi.

Baca Juga :  Perbaikan Fasilitas Layanan Hingga BPJS Jadi Langkah Prioritas

Dibandingkan arang kayu, batu bara dapat menghasilkan panas yang relatif tahan lama sehingga mendukung proses pembakaran dan penempaan logam. Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap batu bara bakar untuk keperluan tempa tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Menariknya, usaha yang telah dijalaninya selama empat dekade itu tidak membuat Marnis tergoda meninggalkan pekerjaan tersebut meski kompetitornya tidak banyak. Ia memilih bertahan karena usaha itu telah terbukti menjadi penopang keluarganya. “Alhamdulillah saja, dengan ini anak-anak saya bisa makan setelah suami saya meninggal dunia,” katanya.

Kini, ketika usianya telah memasuki kepala enam, Marnis masih berdiri di tengah panas pembakaran. Jemarinya yang menghitam menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih bertahan dengan pekerjaan sederhana. Dari batu bara yang dibakar setiap hari, ia bukan hanya menghasilkan bahan bakar bagi pandai besi, tetapi juga pernah menyalakan harapan bagi tujuh anaknya.Empat puluh tahun berlalu, bara itu masih menyala. Bersama bara tersebut, Marnis terus menjaga dapur keluarganya tetap hidup. (*)

Baca Juga :  Jadi Acuan Keberlanjutan Pembangunan 20 Tahun ke Depan

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Marnis mengolah batu bara bakar di tempat usahanya di Kelurahan Pagambiran Ampalu Nan XX, Lubukbegalung, Padang.

Dari serpihan-serpihan yang dianggap tidak bernilai itu, Marnis perlahan membangun usaha yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarganya. “Awalnya saya merintis usaha ini dengan mengumpulkan batu bara yang tercecer dari gerbong yang membawa batu bara. Selain itu, saya mengumpulkan batu bara yang terserak di sekitar tempat pengumpulannya di Pelabuhan Teluk Bayur,” tuturnya.Zaman berubah.

Kereta api pengangkut batu bara tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas yang dilihat Marnis. Namun, perubahan itu tidak membuatnya berhenti. Kini, bahan baku dibelinya langsung dari Sawahlunto dengan dokumen atau surat resmi. Setiap hari, ia mampu memproduksi sekitar 15 hingga 20 karung batu bara bakar.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan pandai besi di Kota Padang, hasil produksinya juga dikirim ke sejumlah daerah di Sumatera Barat, termasuk hingga Bukittinggi. Batu bara bakar yang diproduksi Marnis memiliki pasar tersendiri. Bagi perajin pandai besi tradisional, bahan bakar dengan panas tinggi dan stabil sangat dibutuhkan untuk menempa besi.

Baca Juga :  Selalu Jadikan Alquran Sebagai Pedoman Hidup Sehari-hari

Dibandingkan arang kayu, batu bara dapat menghasilkan panas yang relatif tahan lama sehingga mendukung proses pembakaran dan penempaan logam. Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap batu bara bakar untuk keperluan tempa tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Menariknya, usaha yang telah dijalaninya selama empat dekade itu tidak membuat Marnis tergoda meninggalkan pekerjaan tersebut meski kompetitornya tidak banyak. Ia memilih bertahan karena usaha itu telah terbukti menjadi penopang keluarganya. “Alhamdulillah saja, dengan ini anak-anak saya bisa makan setelah suami saya meninggal dunia,” katanya.

Kini, ketika usianya telah memasuki kepala enam, Marnis masih berdiri di tengah panas pembakaran. Jemarinya yang menghitam menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih bertahan dengan pekerjaan sederhana. Dari batu bara yang dibakar setiap hari, ia bukan hanya menghasilkan bahan bakar bagi pandai besi, tetapi juga pernah menyalakan harapan bagi tujuh anaknya.Empat puluh tahun berlalu, bara itu masih menyala. Bersama bara tersebut, Marnis terus menjaga dapur keluarganya tetap hidup. (*)

Baca Juga :  Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda Anak di Mimika

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Marnis mengolah batu bara bakar di tempat usahanya di Kelurahan Pagambiran Ampalu Nan XX, Lubukbegalung, Padang.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya