Bentuk Penolakan Kebijakan Pemerintah Lahirlah Istilah Samin

Ketika Hutan Jati Jadi Kekayaan Penting bagi Pemerintah Kolonial

Hutan jati sudah lama menjadi bagian dari wajah Bojonegoro. Namun, di balik hamparan pohon yang kini identik dengan daerah ini, tersimpan cerita tentang kepentingan ekonomi kolonial dan perubahan kehidupan masyarakat pedalaman.

Laporan: Hakam Alghivari

Kayu jati memiliki nilai ekonomi tinggi. Kondisi itu membuat kawasan hutan di Bojonegoro dan wilayah sekitarnya mendapat perhatian pemerintah Hindia Belanda. Pengelolaannya pun perlahan berubah. Hutan yang sebelumnya lekat dengan kehidupan masyarakat mulai ditempatkan dalam sistem kehutanan kolonial yang lebih teratur dan ketat.

Padahal ketika itu ada tiga hal penting dari inti Hutan Jati Bojonegoro. Pertama menjadi salah satu kekayaan penting Bojonegoro dan menarik perhatian pemerintah kolonial karena nilai ekonominya. Kedua,  Belanda memperketat pengelolaan hutan melalui sistem kehutanan kolonial dan Dienst van het Boswezen dan ketiga, perubahan tata kelola hutan berdampak pada masyarakat, karena akses terhadap ruang dan hasil hutan yang sebelumnya dekat dengan kehidupan warga semakin dibatasi.

Baca Juga :  Perlu Investigasi dan Penjelasan ke Publik, Supaya Tidak Tercipta Opini Liar

Perubahan tersebut semakin kuat pada paruh kedua abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun sistem pengelolaan hutan yang lebih terpusat melalui Dienst van het Boswezen, atau Dinas Kehutanan. Kawasan hutan ditata ke dalam wilayah pengelolaan. Penebangan dan pemanfaatan kayu juga semakin diatur.

Ketika Hutan Jati Jadi Kekayaan Penting bagi Pemerintah Kolonial

Hutan jati sudah lama menjadi bagian dari wajah Bojonegoro. Namun, di balik hamparan pohon yang kini identik dengan daerah ini, tersimpan cerita tentang kepentingan ekonomi kolonial dan perubahan kehidupan masyarakat pedalaman.

Laporan: Hakam Alghivari

Kayu jati memiliki nilai ekonomi tinggi. Kondisi itu membuat kawasan hutan di Bojonegoro dan wilayah sekitarnya mendapat perhatian pemerintah Hindia Belanda. Pengelolaannya pun perlahan berubah. Hutan yang sebelumnya lekat dengan kehidupan masyarakat mulai ditempatkan dalam sistem kehutanan kolonial yang lebih teratur dan ketat.

Padahal ketika itu ada tiga hal penting dari inti Hutan Jati Bojonegoro. Pertama menjadi salah satu kekayaan penting Bojonegoro dan menarik perhatian pemerintah kolonial karena nilai ekonominya. Kedua,  Belanda memperketat pengelolaan hutan melalui sistem kehutanan kolonial dan Dienst van het Boswezen dan ketiga, perubahan tata kelola hutan berdampak pada masyarakat, karena akses terhadap ruang dan hasil hutan yang sebelumnya dekat dengan kehidupan warga semakin dibatasi.

Baca Juga :  Perlu Investigasi dan Penjelasan ke Publik, Supaya Tidak Tercipta Opini Liar

Perubahan tersebut semakin kuat pada paruh kedua abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun sistem pengelolaan hutan yang lebih terpusat melalui Dienst van het Boswezen, atau Dinas Kehutanan. Kawasan hutan ditata ke dalam wilayah pengelolaan. Penebangan dan pemanfaatan kayu juga semakin diatur.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya