Atraksi Perang-perangan, Aksesoris Budaya dan Keindahan Alam jadi Daya Tarik

“Keunikan yang membuat saya tiap tahun datang untuk mengikuti FBLB adalah atraksi perang -perangan, pakian dan aksesoris budaya yang sangat unik, apalagi di tahun -tahun seperti ini banyak orang yang suka membuat konten pada media sosial,” ungkapnya di FBLB hari ke II Jumat (8/8) di Distrik Wosilimo

Lars Faursholt juga mengaku untuk pelaksanaan FBLB ke 33 tahun 2025 ini, ia tidak datang sendiri tatapi membawa satu grup yang terdiri dari 7 orang, dimana ia sendiri sebagai tour guide untuk mereka sehingga setiap atraksi yang ditampilkan akan disampaikan kepada para pengunjung yang ia pandu bahkan ada turis yang ingin ikut dalam atraksi perang -perangan hanya demi membuat konten.

Baca Juga :  Siapkan Grand Design dan Bentuk Tim Terpadu

Atraksi perang -perangan yang dibalut dengan pakian khas serta aksesoris budaya serta setiap gerakan dan alur cerita penyebab perang itu menjadi hal yang menarik, sebab dalam cerita itu ada hal kecil seperti pencurian ternak babi, dan masalah percintaan dapat menimbulkan perang yang melibatkan banyak orang dengan menggunakan senjata tradisional serta cara perang yang masih dinilai masih primitif di zaman moderen seperti ini.

“Kebanyakan kelompok yang saya bawa ke Wamena ini, sangat menyukai atraksi perang -perangan, para pemerannya juga melakukan menampilkan atraksi itu dengan cukup baik dan lebih menjiwai sehingga terlihat seperti perang sesungguhnya,”kata Pria yang bekerja untuk Wonderful indonesia yang berdomisili di Denmark.

Baca Juga :  Kebijakan Terjemahan Otsus jadi Atensi, Hindari Mainkan Isu SARA

“Keunikan yang membuat saya tiap tahun datang untuk mengikuti FBLB adalah atraksi perang -perangan, pakian dan aksesoris budaya yang sangat unik, apalagi di tahun -tahun seperti ini banyak orang yang suka membuat konten pada media sosial,” ungkapnya di FBLB hari ke II Jumat (8/8) di Distrik Wosilimo

Lars Faursholt juga mengaku untuk pelaksanaan FBLB ke 33 tahun 2025 ini, ia tidak datang sendiri tatapi membawa satu grup yang terdiri dari 7 orang, dimana ia sendiri sebagai tour guide untuk mereka sehingga setiap atraksi yang ditampilkan akan disampaikan kepada para pengunjung yang ia pandu bahkan ada turis yang ingin ikut dalam atraksi perang -perangan hanya demi membuat konten.

Baca Juga :  Tenaga Penyuluh Terbatas, Dinas Pertanian Diminta Bentuk Tenaga PPL

Atraksi perang -perangan yang dibalut dengan pakian khas serta aksesoris budaya serta setiap gerakan dan alur cerita penyebab perang itu menjadi hal yang menarik, sebab dalam cerita itu ada hal kecil seperti pencurian ternak babi, dan masalah percintaan dapat menimbulkan perang yang melibatkan banyak orang dengan menggunakan senjata tradisional serta cara perang yang masih dinilai masih primitif di zaman moderen seperti ini.

“Kebanyakan kelompok yang saya bawa ke Wamena ini, sangat menyukai atraksi perang -perangan, para pemerannya juga melakukan menampilkan atraksi itu dengan cukup baik dan lebih menjiwai sehingga terlihat seperti perang sesungguhnya,”kata Pria yang bekerja untuk Wonderful indonesia yang berdomisili di Denmark.

Baca Juga :  115 Tahun Kota Jayapuraa, Dari Holandia Sampai Jayapura

Berita Terbaru

Artikel Lainnya