Tuesday, March 10, 2026
28.8 C
Jayapura

Dulu Bisa Rp 5 Juta/Hari, Kini Dapat Rp 500 Ribu Harus Disyukuri

“Kami jual patung seperti manusia harganya Rp 35 juta, walaupun lambat untuk menjualnya kami tidak masalah, tapi tetap nanti laku yang beli pada saat ada hotel baru, restoran baru, karena membutuhkan patung yang tinggi seperti manusia untuk menyambut tamu yang datang,”katanya.

Menurutnya, untuk bertahan hidup dan usahanya tetap jalan, ia selalu melakukan promosi baik lewat media sosial, atau menelepon pelanggannya yang ada di Kota Jayapura atau luar seperti di Merauke untuk penjual suvenir juga, walaupun untungnya juga tipis karena ia jual lagi ke penjual souvenir. Karena dengan cara inilah usahanya tetap eksis dan berjalan. Karena jika dia ikut ikutan berjualan di tempat iven, menurutnya kurang efektif karena hanya capek dan rugi waktu saja.

Baca Juga :  Digelar Dua Hari, Tercatat 1.507 Pencaker di Job Fair

Pasalnya, kegiatan ivent yang melibatkan UMKM penjual suvenir khas Papua tidak lama hanya beberapa hari saja, dan bisanya ditempat acara itu yang beli suvenir kurang sehingga ia lebih memilih bertahan jualan di tempatnya sendiri. Hal senada diungkapkan Parjo, pedagang suvenir di Galeri Honey Art yang berjarak beberapa kios dari Asmat Jaya. Ia mengaku, suasana sepi sudah berlangsung lama, bahkan sejak pandemi Covid-19.

“Dulu tiap hari ramai. Sekarang wisatawan jarang, acara pemerintah juga hampir tidak ada. Jadi tidak ada yang beli souvenir,” katanya. Parjo berharap Dinas Pariwisata lebih aktif mempromosikan wisata Papua agar wisatawan kembali datang. Ia juga berharap pemerintah mengadakan event budaya dan pameran UMKM di Jayapura untuk membantu pelaku usaha kecil, namun mereka disubsidi diberikan uang supaya jika tidak laku pada saat ivent, mereka masih ada yang pengganti capek, atau operasional membawa suvenir ke tempat acara.

Baca Juga :  Tahun Yubileum Menjadi Wadah Bagi Gereja Mendengarkan Jeritan Rakyat Papua

“Kalau ada acara, orang datang. Minimal kami bisa jual mahkota bulu kasuari, noken, atau patung Asmat,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Untuk bertahan, Parjo kini mulai berjualan secara daring. Ia mengunggah foto-foto suvenir di media sosial dan memberikan potongan harga bagi pelanggan tetap.

“Kami jual patung seperti manusia harganya Rp 35 juta, walaupun lambat untuk menjualnya kami tidak masalah, tapi tetap nanti laku yang beli pada saat ada hotel baru, restoran baru, karena membutuhkan patung yang tinggi seperti manusia untuk menyambut tamu yang datang,”katanya.

Menurutnya, untuk bertahan hidup dan usahanya tetap jalan, ia selalu melakukan promosi baik lewat media sosial, atau menelepon pelanggannya yang ada di Kota Jayapura atau luar seperti di Merauke untuk penjual suvenir juga, walaupun untungnya juga tipis karena ia jual lagi ke penjual souvenir. Karena dengan cara inilah usahanya tetap eksis dan berjalan. Karena jika dia ikut ikutan berjualan di tempat iven, menurutnya kurang efektif karena hanya capek dan rugi waktu saja.

Baca Juga :  Dari Proteksi Satwa Hingga Tak Memilih yang Tak Paham Lingkungan

Pasalnya, kegiatan ivent yang melibatkan UMKM penjual suvenir khas Papua tidak lama hanya beberapa hari saja, dan bisanya ditempat acara itu yang beli suvenir kurang sehingga ia lebih memilih bertahan jualan di tempatnya sendiri. Hal senada diungkapkan Parjo, pedagang suvenir di Galeri Honey Art yang berjarak beberapa kios dari Asmat Jaya. Ia mengaku, suasana sepi sudah berlangsung lama, bahkan sejak pandemi Covid-19.

“Dulu tiap hari ramai. Sekarang wisatawan jarang, acara pemerintah juga hampir tidak ada. Jadi tidak ada yang beli souvenir,” katanya. Parjo berharap Dinas Pariwisata lebih aktif mempromosikan wisata Papua agar wisatawan kembali datang. Ia juga berharap pemerintah mengadakan event budaya dan pameran UMKM di Jayapura untuk membantu pelaku usaha kecil, namun mereka disubsidi diberikan uang supaya jika tidak laku pada saat ivent, mereka masih ada yang pengganti capek, atau operasional membawa suvenir ke tempat acara.

Baca Juga :  Jadi Komandan ASN, Suzana Wanggai Siap Jaga Netralitas

“Kalau ada acara, orang datang. Minimal kami bisa jual mahkota bulu kasuari, noken, atau patung Asmat,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Untuk bertahan, Parjo kini mulai berjualan secara daring. Ia mengunggah foto-foto suvenir di media sosial dan memberikan potongan harga bagi pelanggan tetap.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya