Sementara itu di tempat yang sama Sahrul, Pekerja gali kubur di Buper Waena menjelaskan pemakaman di TPU Buper baik Islam maupun Kristen dibangun dengan satu ukuran. Masing masing masing pemakaman dibangun dengan ukuran 2X1 meter dengan kedalaman 1 meter.
Setiap makam dipatok masing masing blok, mulai blok A, blok B, dan seterusnya hingga blok H. Setiap blok dipasang kode berupa angka.
“Di setiap batu nisan dipasangkan kode berupa angka, misalnya blok A, nanti dipasangkan angka 1,2 dan seterusnya,” jelas Sahrul.
Selain dibangun dengan konsep sederhana, pemakaman Buper juga menjadi kelihatan estetik, karena didukung dengan rerumputan yang hijau. Pemasangan rumput di setiap makam, bergantung permintaan pemilik. “Biaya pemasangan rumput, hanya Rp 500 ribu per makam,” jelasnya.
Adapun pekerja gali kubur di TPU Buper waena dibagi menjadi dua lokasi, khusus Islam ada tiga orang pekerja. Tugas mereka setiap harinya selain menggali kubur, tapi juga merawat makam yang ada. “Kita setiap hari itu, kerjanya bikin batu nisan, tapi juga bersih bersih rumput,” tuturnya.
Pasca dibuka, pengunjung di TPU Buper Waena kata Sahrul sangat ramai, terutama pada hari libur. “Setiap Sabtu sore dan Minggu pengunjung paling ramai datang dengan keluarga,” ujarnya.
Diapun mengatakan sejauh ini tingkat keamanan di TPU Buper Waena sangat terjamin. Pengunjungpun dengan santai menikmati suasana keindahan alam. “Apalagi kalau sore hari, orang datang itu macam mau ziarah, bawa dengan kopi bahkan seperti berkemah,” kata Sharul.
Adapun kendala, jika turun hujan lokasi pemakaman islam sangat becek. Itu terjadi karena jalan masuknya belum dibangun beton seperti lokasi pemakaman kristen.
“Mungkin pemerintah bisa bangun jalan masuk karena kalau hujan itu motor tidak bisa masuk sampai di lokasi,” pungkasnya (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos