Harga Pangan dan Emas Picu Inflasi Papua Selatan di Tengah Deflasi Papua

JAYAPURA – Seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua tercatat mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mengalami inflasi sebesar 1,06 persen (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan perkembangan tersebut merujuk pada rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2026. Inflasi di Papua Selatan dipicu oleh menipisnya stok pangan lokal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru serta ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 secara agregat tetap tercatat meningkat. Kenaikan ini dipengaruhi oleh efek dasar yang rendah (low base effect) akibat diskon tarif listrik pada Januari 2025.

Baca Juga :  Sambut Imlek, Mercure Hadirkan Menu Mie Lamien

“Selain itu, ketidakpastian global turut mendorong kenaikan harga emas. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Januari 2026 terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Warsono, Rabu (4/2).

Ia menambahkan, peningkatan harga juga sejalan dengan naiknya permintaan pada periode awal tahun yang tidak diimbangi oleh pasokan pangan lokal.

Adapun perkembangan Inflasi per Provinsi yaitu Provinsi Papua mencatat deflasi bulanan sebesar 0,36 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 3,55 persen (year on year/yoy). Deflasi terutama disumbang oleh komoditas angkutan udara, buah pinang, tomat, sirih, dan cabai rawit. Sementara itu, inflasi didorong oleh kenaikan harga kangkung, emas perhiasan, ikan tuna, ikan kawalina, dan sigaret putih mesin.

Baca Juga :  Hanya Pisahkan Secara Administrasi, Untuk orang Papua Tetap Ada

JAYAPURA – Seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua tercatat mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mengalami inflasi sebesar 1,06 persen (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan perkembangan tersebut merujuk pada rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2026. Inflasi di Papua Selatan dipicu oleh menipisnya stok pangan lokal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru serta ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 secara agregat tetap tercatat meningkat. Kenaikan ini dipengaruhi oleh efek dasar yang rendah (low base effect) akibat diskon tarif listrik pada Januari 2025.

Baca Juga :  Harga Beras Medium Capai Rp 13 Ribu/kg, Premium Rp 15 Ribu/kg

“Selain itu, ketidakpastian global turut mendorong kenaikan harga emas. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Januari 2026 terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Warsono, Rabu (4/2).

Ia menambahkan, peningkatan harga juga sejalan dengan naiknya permintaan pada periode awal tahun yang tidak diimbangi oleh pasokan pangan lokal.

Adapun perkembangan Inflasi per Provinsi yaitu Provinsi Papua mencatat deflasi bulanan sebesar 0,36 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 3,55 persen (year on year/yoy). Deflasi terutama disumbang oleh komoditas angkutan udara, buah pinang, tomat, sirih, dan cabai rawit. Sementara itu, inflasi didorong oleh kenaikan harga kangkung, emas perhiasan, ikan tuna, ikan kawalina, dan sigaret putih mesin.

Baca Juga :  Wamendagri Tegaskan Tak Ada Diskriminasi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya