Di tempat yang sama, Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Pokja Perempuan, Febiola Ohee, menyampaikan dengan aksi 1.000 lilin merupakan aksi kepedulian karena semua perempuan khususnya perempuan Sentani terpanggil untuk melakukan aksi 1.000 lilin terhadap meninggalnya Irene Sokoy.
Menurut Febiola, kematian Irene Sokoy menunjukkan buruknya pelayanan kesehatan yang harus segera dibenahi, baik itu rumah sakit pemerintah maupun swasta.
“Bagi kami, kematian Irene sangat miris. Ini bukti bahwa sistem pelayanan kesehatan kita masih bobrok dan butuh perbaikan menyeluruh,” ujarnya.
MRP bersama sejumlah pihak kini telah melakukan penelusuran ke empat rumah sakit yang terlibat dalam penanganan kasus tersebut, yakni RSUD Yowari, RS Dian Harapan, RSUD Abepura, dan RS Bhayangkara. Berbagai data dan keterangan mulai dikumpulkan untuk mengetahui akar permasalahan serta merumuskan rekomendasi perbaikan.
Selain rumah sakit, MRP juga menyoroti pelayanan BPJS Kesehatan, yang dinilai masih memiliki banyak kelemahan dalam penyediaan fasilitas maupun prosedur layanan bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan penanganan segera.
Melalui aksi solidaritas ini, baik LP3A2P, IPAS, maupun MRP berharap agar tragedi Irene Sokoy menjadi momentum penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan kesehatan untuk memperbaiki sistem pelayanan sehingga seluruh masyarakat Papua terutama perempuan dan anak, dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, cepat, dan manusiawi. (ana/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos