Ia menceritakan bahwa fenomena ini terus berulang karena batu apung dan kumpulan sampah plastik tersebut selalu muncul dan terdampar kembali setiap kali air laut pasang. Setiap harinya, pengelola harus sabar memunguti ribuan botol dan kemasan sampah plastik yang jika dikalkulasikan bisa mencapai belasan karung per hari.
Guna menyiasati tumpukan batu apung yang melimpah, Ibu Ondi beserta pengelola memanfaatkan batu-batu pasir berpori tersebut sebagai material pengerasan dan pemerataan area tempat parkir kendaraan bagi para pengunjung pantai. Baginya, merawat pantai adalah satu-satunya jalan agar roda perekonomian keluarganya tetap berputar. Namun, ia tak menampik bahwa tumpukan sampah ini berdampak langsung terhadap omzet dan tingkat kunjungan wisatawan yang terus merosot dalam beberapa minggu terakhir.
“Mungkin karena mereka (wisatawan) melihat pantai ini kotor dengan sampah dan batu apung ini, yang membuat mereka tidak minat dan tertarik lagi,” ujarnya. Ibu Ondi berharap peristiwa ini tidak berlangsung lebih lama lagi agar wisatawan dapat kembali menikmati keindahan Pantai Hamadi seperti sedia kala. Merespon fenomena terdamparnya ribuan ton batu apung di Pesisir Pantai Hamadi, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, Heri Purnomo, S.Si, memberikan penjelasan mengenai asal-usul material tersebut dari kacamata Oseanografi.
Menurut Heri, fenomena ini merupakan bagian dari pergerakan material apung berskala regional yang terbawa oleh arus laut di wilayah perairan utara Papua. Sebelum menyapu dan mengendap di pesisir Jayapura, material serupa telah lebih dulu menerjang wilayah pesisir lainnya.
Ia menceritakan bahwa fenomena ini terus berulang karena batu apung dan kumpulan sampah plastik tersebut selalu muncul dan terdampar kembali setiap kali air laut pasang. Setiap harinya, pengelola harus sabar memunguti ribuan botol dan kemasan sampah plastik yang jika dikalkulasikan bisa mencapai belasan karung per hari.
Guna menyiasati tumpukan batu apung yang melimpah, Ibu Ondi beserta pengelola memanfaatkan batu-batu pasir berpori tersebut sebagai material pengerasan dan pemerataan area tempat parkir kendaraan bagi para pengunjung pantai. Baginya, merawat pantai adalah satu-satunya jalan agar roda perekonomian keluarganya tetap berputar. Namun, ia tak menampik bahwa tumpukan sampah ini berdampak langsung terhadap omzet dan tingkat kunjungan wisatawan yang terus merosot dalam beberapa minggu terakhir.
“Mungkin karena mereka (wisatawan) melihat pantai ini kotor dengan sampah dan batu apung ini, yang membuat mereka tidak minat dan tertarik lagi,” ujarnya. Ibu Ondi berharap peristiwa ini tidak berlangsung lebih lama lagi agar wisatawan dapat kembali menikmati keindahan Pantai Hamadi seperti sedia kala. Merespon fenomena terdamparnya ribuan ton batu apung di Pesisir Pantai Hamadi, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, Heri Purnomo, S.Si, memberikan penjelasan mengenai asal-usul material tersebut dari kacamata Oseanografi.
Menurut Heri, fenomena ini merupakan bagian dari pergerakan material apung berskala regional yang terbawa oleh arus laut di wilayah perairan utara Papua. Sebelum menyapu dan mengendap di pesisir Jayapura, material serupa telah lebih dulu menerjang wilayah pesisir lainnya.