Tak Suka Bubur, Lebih Suka Nasi Bungkus

JAYAPURA – Pasien gizi buruk bernama Demesto kini telah ditangani pihak medis di RSUD Dok II Jayapura. Dari lengan dan kakinya yang tersisa tulang terbungkus kulit ditempel jarum dan selang infus. Sesekali balita berusia belum sampai 2 tahun ini terlihat menjerit dan menangis menahan sakit. Namun untungnya saat ditengok pada Sabtu (13/5) kemarin ia terlihat sedang duduk sambil makan.

Hanya saja makanan yang diberikan adalah nasi bungkus dengan lauk yang terlihat cukup keras. Saat itu ia sedang mengunyah ayam dari nasi tersebut. Sang ayah, Norten SallaĀ  menyampaikan bahwa nasi bungkus tersebut ia yang membelikan karena sang anak lebih cocok memakan nasi seperti itu. ā€œKalau bubur dia (pasien) tidak terlalu suka. Dia maunya seperti itu (nasi bungkus),ā€ kata Norten kepada Cenderawasih Pos.

Baca Juga :  Satu Prajurit TNI Gugur, 3 Warga Sipil Tewas

Dikatakan sang anak kini sudah lebih baik meski masih suka menangis. Ini tak lepas dari nyeri di perutnya akibat lama tidak mengkonsumsi makanan. Sang ayah yang bekerja sebagai guru di Batani, Pegunungan Bintang menyampaikan bahwa ia tak mengetahui jika sang anak kondisinya seperti saat ini.

Sebelum bertugas mengajar di Pegunungan Bintang, ia menitipi sang anak kepada keluarganya yang tinggal di Sentani Kota, Kabupaten Jayapura. ā€œSaya kaget juga dan sedih karena saat lihat ternyata anak saya seperti itu (gizi buruk), padahal setiap bulan saya mengirimkan uang untuk keperluan anak ini,ā€ ceritanya. Norten sendiri akhirnya memilih untuk membawa sang anak ke Nalca, Yahukimo lantaran khawatir jika sang anak akhirnya meninggal

Baca Juga :  Persit KCK Kodim 1702/JWY Melaksanakan Ziarah ke Taman Makam Pahlawan

Ia tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit jika harus memakamkan di Sentani. ā€œKalau di Nalca kami bebas memakamkan dan tidak ada biaya makanya saya putuskan bawa ke Nalca,ā€ bebernya. (ade/wen)

JAYAPURA – Pasien gizi buruk bernama Demesto kini telah ditangani pihak medis di RSUD Dok II Jayapura. Dari lengan dan kakinya yang tersisa tulang terbungkus kulit ditempel jarum dan selang infus. Sesekali balita berusia belum sampai 2 tahun ini terlihat menjerit dan menangis menahan sakit. Namun untungnya saat ditengok pada Sabtu (13/5) kemarin ia terlihat sedang duduk sambil makan.

Hanya saja makanan yang diberikan adalah nasi bungkus dengan lauk yang terlihat cukup keras. Saat itu ia sedang mengunyah ayam dari nasi tersebut. Sang ayah, Norten SallaĀ  menyampaikan bahwa nasi bungkus tersebut ia yang membelikan karena sang anak lebih cocok memakan nasi seperti itu. ā€œKalau bubur dia (pasien) tidak terlalu suka. Dia maunya seperti itu (nasi bungkus),ā€ kata Norten kepada Cenderawasih Pos.

Baca Juga :  Kunker ke Papua, Komisi IX DPR RI Soroti Layanan Kesehatan dan BPJSĀ 

Dikatakan sang anak kini sudah lebih baik meski masih suka menangis. Ini tak lepas dari nyeri di perutnya akibat lama tidak mengkonsumsi makanan. Sang ayah yang bekerja sebagai guru di Batani, Pegunungan Bintang menyampaikan bahwa ia tak mengetahui jika sang anak kondisinya seperti saat ini.

Sebelum bertugas mengajar di Pegunungan Bintang, ia menitipi sang anak kepada keluarganya yang tinggal di Sentani Kota, Kabupaten Jayapura. ā€œSaya kaget juga dan sedih karena saat lihat ternyata anak saya seperti itu (gizi buruk), padahal setiap bulan saya mengirimkan uang untuk keperluan anak ini,ā€ ceritanya. Norten sendiri akhirnya memilih untuk membawa sang anak ke Nalca, Yahukimo lantaran khawatir jika sang anak akhirnya meninggal

Baca Juga :  Ketua KPU Sindir Jangan Gunakan Analisis Politik Dangkal

Ia tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit jika harus memakamkan di Sentani. ā€œKalau di Nalca kami bebas memakamkan dan tidak ada biaya makanya saya putuskan bawa ke Nalca,ā€ bebernya. (ade/wen)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya