alexametrics
24.7 C
Jayapura
Sunday, July 3, 2022

Berjalan Kaki Satu Hari, Petugas Bisa Bermalam di Hutan

PIKUL LOGISTIK: Sejumlah warga di Kampung Salema,  Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo saat memikul Logistik Pemilu untuk dibawa ke kampungnya dengan estimasi waktu selama sehari atau 1×24 jam.Denny/ Cepos 

Melihat Tingkat Kesulitan Pendistribusian Logistik Pemilu di Wilayah Pegunungan Tengah Papua

Dalam setiap penyelenggaraan Pemilu, pendistribusian logistik Pemilu di wilayah pegunungan tengah Papua selalu jadi persoalan pelik. Bagaimana pendistribusian logistik Pemilu Serentak 2019 di pegunungan tengah Papua ? 

Laporan: Denny Tonjauw, Wamena 

PENDISTRIBUSIAN logistik Pemilu Serentak 2019 di Provinsi Papua tidak semudah seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini. 

Sebab kondisi wilayah pegunungan yang sulit diakses melalui jalan darat, membuat pendistribusian logistik harus dilakukan dengan mencarter pesawat berbadan kecil atau helikopter. Hal ini tentunya membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Kondisi ini bisa dilihat di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yalimo. Di Kabupaten Jayawijaya, yang memiliki 40 distrik hanya satu distrik yang pendistribusiannya menggunakan jalur udara. 

Sementara Kabupaten Yalimo yang merupakan daerah pemekaran Kabupaten Jayawijaya, hanya memiliki 5 distrik. Namun dari 5 distrik tersebut, 3 distrik yang pendistribusiannya terpaksa menggunakan jalur penrbangan. 

Untuk Kabupaten Jayawijaya, hanya Distrik Trikora yang hingga saat ini belum memiliki jalan darat. Oleh sebab itu, satu-satunya jalur untuk mencapai distrik tersebut yaitu melalui jalur udara yaitu menggunakan helikopter. 

Meskipun demikian, kondisi cuaca di daerah pegunungan Papua yang sulit diprediksi, tentunya menjadi kendala untuk menjangkau Distrik Trikora.   

Penerbangan menggunakan helikopter ke Distrik Trikora hanya bisa dilakukan pada pagi hari saat kabut mulai hilang karena sinar matahari dan ini tidak bisa dilakukan setiap hari tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan helikopter. 

Persoalan lain yang timbul saat terbang ke Distrik Trikora yaitu waktu untuk menurunkan barang dan penumpang juga tidak boleh terlalu lama. Sebab menjelang siang, langit di sekitar wilayah Distrik Trikora mulai ditutupi kabut. 

Baca Juga :  Freeport Perkuat Protokol Kesehatan di Area Kerja

Kondisi sulit dalam pendistribusian logistik Pemilu juga dialami KPU Kabupaten Yalimo. Pasalnya dari 5 distrik yang ada di Kabupaten Yalimo, 3 di antaranya harus menggunakan jalur penerbangan menggunakan pesawat berbadan kecil. 

Selain jalur udara, ada pula beberapa lokasi yang menyusuri jalur sungai sehingga pendistribusian logistik menggunalan long boat. “Kendala lainnya ada kampung-kampung yang untuk menjangkaunya kita harus berjalan kaki selama satu hari,” ungkap Ketua KPU Yalimo, Yehemia Walianggen kepada Cenderawasih Pos, kemarin (11/4). 

Pendistribusian logistik Pemilu di wilayahnya menurut Yehemia, tingkat kesulitan sangat tinggi. Dengan kondisi medan yang sulit, pendistribusian terpaksa dilakukan menggunakan pesawat berbadan kecil.

Namun dirinya juga menyebutkan tidak sedikit lokasi yang juga tidak bisa dijangkau atau didarati pesawat berbadan kecil.

“Oleh sebab itu untuk mendistribusikan logistik Pemilu Serentak 2019, kami akan menghubungi jasa penyedia helikopter yang ada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Kami sedang mengajukan permintaan kepada manager Helivida untuk bisa menggunakan helikopter mendistribusikan logistik di beberapa titik yang sudah direncanakan,” jelasnya. 

Pendistribusian menggunakan helikopter menurut Yehemia masih belum bisa menjangkau beberapa pos tempat pemungutan suara. Oleh sebab itu, logistik yang didistribusikan menggunakan helikopter selanjutnya dipikul dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu tempuh sehari penuh atau 24 jam. 

“Bahkan petugas yang membawa logistik ini bisa bermalam di tengah hutan untuk mencapai kampung-kampung yang dituju. Karena untuk menjangkau kampung-kampung tersebut harus melewati beberapa gunung,” bebernya.

Baca Juga :  Jelang Pemilu, Papua Kondusif

Salah satu distrik yang pendistribusiannya cukup sulit menurut Yehemia yaitu Distrik Welarek. Untuk pendistribusian ke distrik ini, pihaknya telah menetapkan Kampung Salema sebagai titik droping logistik.

Dari Kampung Salema, logistik Pemilu serentak 2019 selanjutnya dibawa dengan berjalan kaki  ke kampung-kampung terjauh seperti Kampung Pami dan Soworam. “Kami juga harus menyiapkan anggaran untuk masyarakat yang memikul logistik ini,” tandasnya. 

Terkait dengan sulitnya medan yang akan dilalui, pihaknya mulai melakukan pendistribusian tanggal 12 April 2019 dan hal ini sudah disampaikan ke Bawaslu. 

Titik awal pendistribusian logistik menurut Yehemia yaitu dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Pihaknya memilih Wamena lantaran ibukota Kabupaten Jayawijaya ini mempunyai fasilitas penerbangan yang memadai dan akses yang mudah.

“Dari Wamena, kami bisa mendistribusikan logistik menggunakan pesawat dan helikopter kelima distrik yang ada yaitu Distrik Abenaho, Elelim, Apalapsili, Welarek dan Benawa, untuk tiga distrik seperti Welarek , Apalapsili dan Benawa. Selain pesawat dan helikopter, ada beberapa lokasi juga yang harus menggunakan longboat menyeberang Sungai Mamberamo seperti di Kampung Naira, Distrik Benawa. Ada juga yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” tambahnya. 

Selain pendistribusian logistik, penjemputan logistik pasca pemungutan suara juga tidak mudah dan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. “Itu baru kondisi medan yang harus dilalui. Belum lagi jika ada gangguan keamanan diperjalanan. Ini tentunya lebih menyulitkan lagi. Namun hingga saat ini tidak ada di Kabupaten Yalimo sehingga bisa berjalan dengan aman dan lancer,” pungksnya. ***

PIKUL LOGISTIK: Sejumlah warga di Kampung Salema,  Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo saat memikul Logistik Pemilu untuk dibawa ke kampungnya dengan estimasi waktu selama sehari atau 1×24 jam.Denny/ Cepos 

Melihat Tingkat Kesulitan Pendistribusian Logistik Pemilu di Wilayah Pegunungan Tengah Papua

Dalam setiap penyelenggaraan Pemilu, pendistribusian logistik Pemilu di wilayah pegunungan tengah Papua selalu jadi persoalan pelik. Bagaimana pendistribusian logistik Pemilu Serentak 2019 di pegunungan tengah Papua ? 

Laporan: Denny Tonjauw, Wamena 

PENDISTRIBUSIAN logistik Pemilu Serentak 2019 di Provinsi Papua tidak semudah seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini. 

Sebab kondisi wilayah pegunungan yang sulit diakses melalui jalan darat, membuat pendistribusian logistik harus dilakukan dengan mencarter pesawat berbadan kecil atau helikopter. Hal ini tentunya membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Kondisi ini bisa dilihat di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yalimo. Di Kabupaten Jayawijaya, yang memiliki 40 distrik hanya satu distrik yang pendistribusiannya menggunakan jalur udara. 

Sementara Kabupaten Yalimo yang merupakan daerah pemekaran Kabupaten Jayawijaya, hanya memiliki 5 distrik. Namun dari 5 distrik tersebut, 3 distrik yang pendistribusiannya terpaksa menggunakan jalur penrbangan. 

Untuk Kabupaten Jayawijaya, hanya Distrik Trikora yang hingga saat ini belum memiliki jalan darat. Oleh sebab itu, satu-satunya jalur untuk mencapai distrik tersebut yaitu melalui jalur udara yaitu menggunakan helikopter. 

Meskipun demikian, kondisi cuaca di daerah pegunungan Papua yang sulit diprediksi, tentunya menjadi kendala untuk menjangkau Distrik Trikora.   

Penerbangan menggunakan helikopter ke Distrik Trikora hanya bisa dilakukan pada pagi hari saat kabut mulai hilang karena sinar matahari dan ini tidak bisa dilakukan setiap hari tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan helikopter. 

Persoalan lain yang timbul saat terbang ke Distrik Trikora yaitu waktu untuk menurunkan barang dan penumpang juga tidak boleh terlalu lama. Sebab menjelang siang, langit di sekitar wilayah Distrik Trikora mulai ditutupi kabut. 

Baca Juga :  Di Skyland Jenazah Seorang Pria Ditemukan Penuh Luka

Kondisi sulit dalam pendistribusian logistik Pemilu juga dialami KPU Kabupaten Yalimo. Pasalnya dari 5 distrik yang ada di Kabupaten Yalimo, 3 di antaranya harus menggunakan jalur penerbangan menggunakan pesawat berbadan kecil. 

Selain jalur udara, ada pula beberapa lokasi yang menyusuri jalur sungai sehingga pendistribusian logistik menggunalan long boat. “Kendala lainnya ada kampung-kampung yang untuk menjangkaunya kita harus berjalan kaki selama satu hari,” ungkap Ketua KPU Yalimo, Yehemia Walianggen kepada Cenderawasih Pos, kemarin (11/4). 

Pendistribusian logistik Pemilu di wilayahnya menurut Yehemia, tingkat kesulitan sangat tinggi. Dengan kondisi medan yang sulit, pendistribusian terpaksa dilakukan menggunakan pesawat berbadan kecil.

Namun dirinya juga menyebutkan tidak sedikit lokasi yang juga tidak bisa dijangkau atau didarati pesawat berbadan kecil.

“Oleh sebab itu untuk mendistribusikan logistik Pemilu Serentak 2019, kami akan menghubungi jasa penyedia helikopter yang ada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Kami sedang mengajukan permintaan kepada manager Helivida untuk bisa menggunakan helikopter mendistribusikan logistik di beberapa titik yang sudah direncanakan,” jelasnya. 

Pendistribusian menggunakan helikopter menurut Yehemia masih belum bisa menjangkau beberapa pos tempat pemungutan suara. Oleh sebab itu, logistik yang didistribusikan menggunakan helikopter selanjutnya dipikul dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu tempuh sehari penuh atau 24 jam. 

“Bahkan petugas yang membawa logistik ini bisa bermalam di tengah hutan untuk mencapai kampung-kampung yang dituju. Karena untuk menjangkau kampung-kampung tersebut harus melewati beberapa gunung,” bebernya.

Baca Juga :  Jelang Pemilu, Papua Kondusif

Salah satu distrik yang pendistribusiannya cukup sulit menurut Yehemia yaitu Distrik Welarek. Untuk pendistribusian ke distrik ini, pihaknya telah menetapkan Kampung Salema sebagai titik droping logistik.

Dari Kampung Salema, logistik Pemilu serentak 2019 selanjutnya dibawa dengan berjalan kaki  ke kampung-kampung terjauh seperti Kampung Pami dan Soworam. “Kami juga harus menyiapkan anggaran untuk masyarakat yang memikul logistik ini,” tandasnya. 

Terkait dengan sulitnya medan yang akan dilalui, pihaknya mulai melakukan pendistribusian tanggal 12 April 2019 dan hal ini sudah disampaikan ke Bawaslu. 

Titik awal pendistribusian logistik menurut Yehemia yaitu dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Pihaknya memilih Wamena lantaran ibukota Kabupaten Jayawijaya ini mempunyai fasilitas penerbangan yang memadai dan akses yang mudah.

“Dari Wamena, kami bisa mendistribusikan logistik menggunakan pesawat dan helikopter kelima distrik yang ada yaitu Distrik Abenaho, Elelim, Apalapsili, Welarek dan Benawa, untuk tiga distrik seperti Welarek , Apalapsili dan Benawa. Selain pesawat dan helikopter, ada beberapa lokasi juga yang harus menggunakan longboat menyeberang Sungai Mamberamo seperti di Kampung Naira, Distrik Benawa. Ada juga yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” tambahnya. 

Selain pendistribusian logistik, penjemputan logistik pasca pemungutan suara juga tidak mudah dan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. “Itu baru kondisi medan yang harus dilalui. Belum lagi jika ada gangguan keamanan diperjalanan. Ini tentunya lebih menyulitkan lagi. Namun hingga saat ini tidak ada di Kabupaten Yalimo sehingga bisa berjalan dengan aman dan lancer,” pungksnya. ***

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/