Kantor Komnas HAM Papua Dilempari Molotov

Aksi tersebut dianggap mengancam para pekerja kemanusiaan di Papua. Pengungkapan pelaku dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang. “Karena dia sudah meneror lembaga negara. Kalau pelakunya tidak diungkap seperti kasus-kasus sebelumnya maka ini akan menjadi justifikasi untuk orang-orang melakukan kejahatan teror akan terus berkeliaran,” tegasnya.

Frits bahkan menilai jika teror terhadap Komnas HAM dibiarkan, hal tersebut dapat berdampak terhadap kewibawaan negara. “Ini kalau dibiarkan maka merongrong wibawa kepresidenan Prabowo hari ini,” katanya.  Ia mengaku tetap akan menjalankan tugas Komnas HAM meski aksi tersebut secara fisik mengancam keselamatan dirinya dan staf.  “Secara fisik kejadian ini mengancam kami, tetapi Komnas HAM sebagai lembaga nasional kami tidak berhenti bekerja untuk kemanusiaan. Kami tahu ini adalah pesan ancaman bagi pekerja kemanusiaan di Papua,” ujarnya.

Frits juga mengapresiasi langkah cepat Polda Papua dan Polresta Jayapura yang langsung mendatangi lokasi serta mengerahkan fasilitas Inafis untuk melakukan olah TKP. “Kejadian ini di siang hari, jam 10. Jadi naif jika kita tidak bisa mengungkap secara bersama-sama, baik Komnas HAM maupun polisi untuk mengungkap pelakunya,” katanya. Terkait dugaan pelaku, Frits mengatakan berdasarkan tipologi kejadian, pelaku diduga merupakan pihak yang merasa terganggu dengan kerja-kerja kemanusiaan Komnas HAM.

Baca Juga :  Rencana Pelantikan Penjabat Gubernur Sebelum 10 November 

“Dari tipologi kejadian, pelakunya adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh Komnas HAM,” ungkapnya. Ia juga membuka kemungkinan jika aksi tersebut melibatkan oknum aparat negara maupun aktor intelektual. “Jika ini aktornya adalah oknum aparat negara maka ini sangat disayangkan, kalaupun dia aktor intelektual itu juga sangat disayangkan,” tegas Frits.

Sementara itu, Kanit Identifikasi Polda Papua, AKP Johan, mengatakan pihaknya menemukan 11 titik pecahan botol di lokasi kejadian. Polisi juga menemukan bekas bau BBM serta tisu yang dililit dan diduga digunakan sebagai sumbu. “Itu sementara masih dugaan ya, karena nanti yang akan mengecek adalah tim Labfor. Itu nanti ranahnya Labfor dan hasilnya bisa diketahui satu atau dua hari, hasilnya sudah diketahui itu BBM jenis apa,” kata Johan.

Ia mengatakan temuan sementara menunjukkan adanya botol yang diduga diisi BBM kemudian dilemparkan. “Jadi ada botol diisi BBM lalu dilempar, seperti jenis bom molotov yang biasa orang bikin,” ujarnya. Johan menambahkan, setelah menerima laporan dari Polresta Jayapura mengenai dugaan pelemparan bom, tim Identifikasi Polda Papua langsung bergerak ke lokasi untuk membantu proses penyelidikan. Polisi selanjutnya akan mendalami barang bukti dan keterangan di lokasi untuk mengungkap pelaku serta motif di balik aksi tersebut.

Baca Juga :  OJK Blokir 6000 Rekening Terindikasi Judi Online

Sementara itu Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota AKP Alamsyah Ali mengatakanpihaknya berkolaborasi dengan Satintelkam Polresta Jayapura Kota. Petugas juga melibatkan tim Identifikasi Polresta Jayapura Kota, Identifikasi Polda Papua dalam hal ini Ditreskrimum, serta Bidlabfor Polda Papua.

Alamsyah menjelaskan, sejumlah langkah awal telah dilakukan petugas di lokasi kejadian. Salah satunya dengan melakukan olah TKP untuk mengumpulkan berbagai petunjuk yang dapat membantu proses penyelidikan. Selain itu, polisi juga memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian. Pemeriksaan CCTV tersebut dilakukan oleh unit operasional Satreskrim Polresta Jayapura Kota.

“Kami juga telah melakukan penyelidikan terhadap petunjuk yang berada di sekitar TKP, dalam hal ini menyelidiki CCTV yang ada di seputaran TKP. Itu sudah dilakukan oleh unit operasional kami,” ujarnya. Untuk memperkuat proses penyelidikan, polisi telah mengarahkan pihak Komnas HAM Perwakilan Papua agar segera membuat laporan polisi. Laporan tersebut nantinya menjadi dasar bagi penyidik untuk melakukan proses penyelidikan lebih lanjut.

Aksi tersebut dianggap mengancam para pekerja kemanusiaan di Papua. Pengungkapan pelaku dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang. “Karena dia sudah meneror lembaga negara. Kalau pelakunya tidak diungkap seperti kasus-kasus sebelumnya maka ini akan menjadi justifikasi untuk orang-orang melakukan kejahatan teror akan terus berkeliaran,” tegasnya.

Frits bahkan menilai jika teror terhadap Komnas HAM dibiarkan, hal tersebut dapat berdampak terhadap kewibawaan negara. “Ini kalau dibiarkan maka merongrong wibawa kepresidenan Prabowo hari ini,” katanya.  Ia mengaku tetap akan menjalankan tugas Komnas HAM meski aksi tersebut secara fisik mengancam keselamatan dirinya dan staf.  “Secara fisik kejadian ini mengancam kami, tetapi Komnas HAM sebagai lembaga nasional kami tidak berhenti bekerja untuk kemanusiaan. Kami tahu ini adalah pesan ancaman bagi pekerja kemanusiaan di Papua,” ujarnya.

Frits juga mengapresiasi langkah cepat Polda Papua dan Polresta Jayapura yang langsung mendatangi lokasi serta mengerahkan fasilitas Inafis untuk melakukan olah TKP. “Kejadian ini di siang hari, jam 10. Jadi naif jika kita tidak bisa mengungkap secara bersama-sama, baik Komnas HAM maupun polisi untuk mengungkap pelakunya,” katanya. Terkait dugaan pelaku, Frits mengatakan berdasarkan tipologi kejadian, pelaku diduga merupakan pihak yang merasa terganggu dengan kerja-kerja kemanusiaan Komnas HAM.

Baca Juga :  Pemerintah Harus Penuhi Hak Para Pengungsi

“Dari tipologi kejadian, pelakunya adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh Komnas HAM,” ungkapnya. Ia juga membuka kemungkinan jika aksi tersebut melibatkan oknum aparat negara maupun aktor intelektual. “Jika ini aktornya adalah oknum aparat negara maka ini sangat disayangkan, kalaupun dia aktor intelektual itu juga sangat disayangkan,” tegas Frits.

Sementara itu, Kanit Identifikasi Polda Papua, AKP Johan, mengatakan pihaknya menemukan 11 titik pecahan botol di lokasi kejadian. Polisi juga menemukan bekas bau BBM serta tisu yang dililit dan diduga digunakan sebagai sumbu. “Itu sementara masih dugaan ya, karena nanti yang akan mengecek adalah tim Labfor. Itu nanti ranahnya Labfor dan hasilnya bisa diketahui satu atau dua hari, hasilnya sudah diketahui itu BBM jenis apa,” kata Johan.

Ia mengatakan temuan sementara menunjukkan adanya botol yang diduga diisi BBM kemudian dilemparkan. “Jadi ada botol diisi BBM lalu dilempar, seperti jenis bom molotov yang biasa orang bikin,” ujarnya. Johan menambahkan, setelah menerima laporan dari Polresta Jayapura mengenai dugaan pelemparan bom, tim Identifikasi Polda Papua langsung bergerak ke lokasi untuk membantu proses penyelidikan. Polisi selanjutnya akan mendalami barang bukti dan keterangan di lokasi untuk mengungkap pelaku serta motif di balik aksi tersebut.

Baca Juga :  Gubernur Briefing Seluruh Perangkat Layanan Kesehatan

Sementara itu Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota AKP Alamsyah Ali mengatakanpihaknya berkolaborasi dengan Satintelkam Polresta Jayapura Kota. Petugas juga melibatkan tim Identifikasi Polresta Jayapura Kota, Identifikasi Polda Papua dalam hal ini Ditreskrimum, serta Bidlabfor Polda Papua.

Alamsyah menjelaskan, sejumlah langkah awal telah dilakukan petugas di lokasi kejadian. Salah satunya dengan melakukan olah TKP untuk mengumpulkan berbagai petunjuk yang dapat membantu proses penyelidikan. Selain itu, polisi juga memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian. Pemeriksaan CCTV tersebut dilakukan oleh unit operasional Satreskrim Polresta Jayapura Kota.

“Kami juga telah melakukan penyelidikan terhadap petunjuk yang berada di sekitar TKP, dalam hal ini menyelidiki CCTV yang ada di seputaran TKP. Itu sudah dilakukan oleh unit operasional kami,” ujarnya. Untuk memperkuat proses penyelidikan, polisi telah mengarahkan pihak Komnas HAM Perwakilan Papua agar segera membuat laporan polisi. Laporan tersebut nantinya menjadi dasar bagi penyidik untuk melakukan proses penyelidikan lebih lanjut.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya