JAYAPURA-Perjalanan gerakan mahasiswa Papua 1998 dan dampaknya terhadap perubahan politik di Papua kembali diangkat melalui buku. Buku tersebut berjudul Menjadi Papua : Pergulatan Pemikiran Aktivis 98 Papua. Buku setebal 240 halaman yang ditulis Paskalis Keagop dan kawan-kawan itu diluncurkan di Aula Kampus Stisipol Silas Papare, Kamis (8/10).
Peluncuran buku tersebut dihadiri mahasiswa, akademisi serta Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP) Latifah Anum Siregar. Buku itu dinilai penting karena merekam kembali periode 1998 yang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan gerakan dan perubahan di Papua. Anum mengatakan, buku Menjadi Papua dapat membantu mahasiswa mengingat kembali bahwa gerakan nasional 1998 juga memiliki jejak penting di Papua.
“Ini menjadi buku yang bagus untuk dibaca oleh mahasiswa, tetapi juga untuk kembali merefleksikan seperti apa menjadi Papua, seperti apa mengisi kehidupan di Papua sebagai generasi muda,” katanya. Menurut Anum, tulisan dan penelitian mengenai Papua cukup banyak, namun pembahasan mengenai dinamika Papua pada periode 1998 hingga awal 2000-an masih relatif terbatas. Selama ini, diskusi sejarah Papua lebih banyak berkutat pada periode 1961, 1962 dan 1963.
Padahal, kata dia, periode 1998 juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan perubahan yang terjadi di Papua. “Buku ini menceritakan suatu sejarah, dinamika masyarakat di Papua, secara khusus dinamika politik di Papua. Tidak bisa dipungkiri bahwa persoalan di Papua dari periode ke periode dan tahun 1998 adalah periode yang tidak bisa dilupakan,” ujarnya.
Sementara itu, penulis buku Paskalis Keagop mengatakan, berbagai situasi yang terjadi di Papua saat ini tidak terlepas dari pergerakan yang berlangsung pada masa lalu, terutama gerakan mahasiswa tahun 1998. Ia menyebut gerakan tersebut kemudian berkontribusi terhadap berbagai perubahan dan peristiwa politik di Papua, mulai dari Kongres Papua, musyawarah besar (mubes), kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) hingga pemekaran daerah otonomi baru (DOB).
“Yang saya catat dalam buku Menjadi Papua, ada 10 perubahan terjadi di Papua dari dampak gerakan aktivis mahasiswa di tahun 1998. Tapi dari seluruh situasi itu, belum ada yang berubah secara substansi terhadap kehidupan rakyat Papua meski adanya Otsus,” kata Paskalis. Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa saat ini agar tidak melupakan sejarah gerakan mahasiswa sebelumnya. Menurut dia, persoalan yang dihadapi mahasiswa sekarang memiliki konteks berbeda, tetapi semangat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat tetap diperlukan.