Triduum Paskah, Wujudkan Peradaban Kasih

“Perdamaian tidak bisa dicapai dengan peperangan atau senjata. Namun, dengan semangat mengorbankan diri dan cinta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya. Ia menambahkan doa-doa dalam ibadah Paskah kali ini bersifat universal bagi keselamatan seluruh umat manusia. Hal ini bercermin pada sikap Gereja yang konsisten mempromosikan perdamaian tanpa kekerasan.

Sebagai penutup rangkaian ibadah malam Kamis putih, umat mengikuti Adorasi Sakramen Mahakudus yang diiringi lagu “Ubi Caritas et Amor” sebagai simbol kehadiran cinta kasih Tuhan. Selesai ibadah kemudian dilanjutkan Tuguran secara bergiliran oleh wilayah-wilayah. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Baca Juga :  Aceh Bisa Dialog, Kenapa Papua Tidak Bisa ?

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan. Rangkaian perayaan kemudian berlanjut pada Jumat Agung, yang menjadi puncak permenungan atas sengsara Kristus. Setelah itu, umat akan memasuki Sabtu Sunyi atau Sabtu Vigili sebagai masa hening penantian, sebelum mencapai puncak sukacita pada Minggu Paskah yang merayakan kebangkitan Kristus.

Tidak ada perayaan Ekaristi dalam liturgi Jumat Agung. Sebagai gantinya, umat melakukan penghormatan salib simbol kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus merenungkan pengorbanan terbesar dalam sejarah keselamatan. Secara keseluruhan, di Keuskupan Jayapura ibadah dimulai pada pukul 15.00 WIT. Berbeda dengan misa pada umumnya, ibadat Jumat Agung berlangsung dalam suasana yang lebih hening dan khidmat. Dalam Jumat Agung, tidak ada konsekrasi baru sehingga ibadat ini memang tidak termasuk perayaan Ekaristi.

Baca Juga :  Sempat Ditembaki, Jenazah Gabriella Berhasil Dievakuasi

Ibadat diakhiri dengan ritus penutup yang berlangsung dalam suasana hening. Tidak ada berkat penutup maupun tanda salib. Imam hanya mengucapkan doa atas umat, lalu meninggalkan altar dalam keheningan. Suasana yang berbeda pada Perayaan Sabtu suci atau Vigili Paskah. Ratusan umat Katolik di St Agustinus Entrop mengitu perayaan dengan penuh kekhusyukan. Perayaan yang dimulai pukul 16.00 WIT ini menjadi puncak rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah.

“Perdamaian tidak bisa dicapai dengan peperangan atau senjata. Namun, dengan semangat mengorbankan diri dan cinta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya. Ia menambahkan doa-doa dalam ibadah Paskah kali ini bersifat universal bagi keselamatan seluruh umat manusia. Hal ini bercermin pada sikap Gereja yang konsisten mempromosikan perdamaian tanpa kekerasan.

Sebagai penutup rangkaian ibadah malam Kamis putih, umat mengikuti Adorasi Sakramen Mahakudus yang diiringi lagu “Ubi Caritas et Amor” sebagai simbol kehadiran cinta kasih Tuhan. Selesai ibadah kemudian dilanjutkan Tuguran secara bergiliran oleh wilayah-wilayah. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Baca Juga :  Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gereja Diserahkan ke Kejari Merauke

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan. Rangkaian perayaan kemudian berlanjut pada Jumat Agung, yang menjadi puncak permenungan atas sengsara Kristus. Setelah itu, umat akan memasuki Sabtu Sunyi atau Sabtu Vigili sebagai masa hening penantian, sebelum mencapai puncak sukacita pada Minggu Paskah yang merayakan kebangkitan Kristus.

Tidak ada perayaan Ekaristi dalam liturgi Jumat Agung. Sebagai gantinya, umat melakukan penghormatan salib simbol kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus merenungkan pengorbanan terbesar dalam sejarah keselamatan. Secara keseluruhan, di Keuskupan Jayapura ibadah dimulai pada pukul 15.00 WIT. Berbeda dengan misa pada umumnya, ibadat Jumat Agung berlangsung dalam suasana yang lebih hening dan khidmat. Dalam Jumat Agung, tidak ada konsekrasi baru sehingga ibadat ini memang tidak termasuk perayaan Ekaristi.

Baca Juga :  Sempat Ditembaki, Jenazah Gabriella Berhasil Dievakuasi

Ibadat diakhiri dengan ritus penutup yang berlangsung dalam suasana hening. Tidak ada berkat penutup maupun tanda salib. Imam hanya mengucapkan doa atas umat, lalu meninggalkan altar dalam keheningan. Suasana yang berbeda pada Perayaan Sabtu suci atau Vigili Paskah. Ratusan umat Katolik di St Agustinus Entrop mengitu perayaan dengan penuh kekhusyukan. Perayaan yang dimulai pukul 16.00 WIT ini menjadi puncak rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya