JAYAPURA–Tingkat eskalasi keamanan di Papua dalam beberapa waktu terakhir kembali meningkat. Kelompok kekerasan bersenjata yang dikaitkan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) makin intens melakukan rangkaian aksi penyerangan, baik terhadap aparat TNI-Polri maupun warga sipil. Sepanjang Februari 2026, tercatat dua anggota TNI menjadi korban dalam insiden terpisah di wilayah Papua Tengah.
Insiden pertama terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026. Seorang anggota Koramil 1710-04/Tembagapura, Sertu Arifin Cepa, menjadi korban penyerangan di sekitar Rest Area Mile Point (MP) 50, area operasional PT Freeport Indonesia, Kabupaten Mimika. Sementara itu, insiden kedua terjadi pada Sabtu, 21 Februari 2026, di Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Seorang anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih, Serda Hamdani yang tengah melaksanakan tugas monitoring wilayah dilaporkan tewas dalam peristiwa pembakaran pos keamanan milik PT Kristalin Lestari. Pengungkapan kasus tersebut dilakukan aparat melalui serangkaian penyelidikan, mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP) hingga proses identifikasi korban.
Menanggapi situasi tersebut, Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Thevi A. Zebua menegaskan bahwa Pangdam telah memerintahkan Danrem selaku Dankolakops untuk segera berkoordinasi dengan Kapolda guna melakukan penebalan pasukan di titik-titik rawan.
“Terkait dengan kejadian kemarin, Pangdam sudah memerintahkan Danrem selaku Dankolakops untuk berkoordinasi dengan Kapolda guna penebalan pasukan di titik-titik yang dianggap rawan,” ujarnya kepada wartawan di Makodam XVII/Cenderwasih, Selasa (3/3)
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menjamin keamanan masyarakat agar dapat beraktivitas tanpa rasa takut. “Inilah bukti bahwa negara hadir untuk menjamin keamanan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sejumlah aksi kekerasan yang sebelumnya terjadi di wilayah Yahukimo, Yalimo, dan Kiwirok, yang menyasar tenaga pendidik dan tenaga kesehatan. Menurutnya, tindakan tersebut telah melampaui batas kemanusiaan.
“Tenaga kesehatan dikirim untuk membantu saudara-saudara kita. Guru hadir untuk mendidik anak-anak kita. Tidak ada alasan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka,” tegasnya.
Dalam pertemuan bersama tokoh agama, tokoh adat, serta unsur TNI-Polri di Nabire beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan adanya kekhawatiran bahwa kelompok bersenjata mulai berada di sekitar permukiman masyarakat. Karena itu, pihaknya meminta peran aktif masyarakat dalam menjaga keamanan.
“Kami mohon masyarakat membantu TNI dan Polri dengan memberikan informasi yang tepat agar para pengacau ini tidak lagi mengganggu Bumi Cenderawasih,” ujarnya.