Cerita Para Aktivis Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Saat Berlayar Menembus Gaza (Bagian-1)
Perjuangan para aktivis kemanusiaan untuk Gaza Palestine akhirnya mendapatkan sandungan. Perjalanan menuju Gaza diintersep oleh tentara Israel. Endingnya sudah bisa ditebak, terjadi penyiksaan berulang tanpa mengenal laki atau perempuan.
Laporan:Kuswandi
SENJA mulai datang saat Bambang Noroyono alias Abeng, 42, sedang bercengkerama bersama peserta Global Sumud Flotilla di Kapal Bolarize yang ditumpanginya, Minggu (17/5) petang. Sembari menghisap asap rokok, diseruputnya secangkir teh panas, guna menghangatkan tubuhnya dari dinginnya angin laut yang menusuk tulang. Saat itu, bersama 422 partisipan lain, Abeng berupaya berlayar menembus Gaza, menjaga agar asa terus menyala dari buta, tuli, dan bisunya dunia atas penderitaan warga Palestina.
Tak ada sekat budaya di kapal mungil berbobot sekitar 5 gross tone (GT) itu. Obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja, seperti kawan lama yang sudah saling mengenal. Padahal para relawan dalam kapal itu berbeda suku, bangsa, dan agama. Ini karena sebelum melakukan pelayaran, para aktivis dari berbagai negara ini sudah diberikan pelatihan, termasuk pemahaman soal komunikasi antarbudaya.
Total dalam Kapal Bolarize yang ditumpangi Abeng, ada sembilan orang. Mereka terdiri dari 4 orang WNA Turki, 1 WNA Jerman, 1 WNA Perancis, 2 WNA Malaysia, dan 1 warga negara Indonesia. “Gimana telur dadar buatan saya?,” tanya Abeng dengan bangga, kepada Enzo, salah satu partisipan asal Perancis, suatu kali sebelum diculik pasukan zionis Israel. Tak banyak berpikir, peserta Global Sumud Flotilla dari ‘Negeri Mode Dunia’ itu langsung memuji kepiawaian pria asal Indonesia ini dalam memasak.
“Enak..enak..,” pujinya singkat. Maklum Enzo belum pernah makna telur dadar sebelumnya. Seumur hidupnya, dia hanya sering mengonsumsi telur rebus. Abeng terkekeh. Musababnya dia sadar diri tak pandai memasak. Apa yang dilakukannya hanya meniru aktivitas keseharian istrinya saat memasak. “Padahal cuma telur ayam dipecahin taruh mangkuk, tambahin garam secukupnya, kemudian digoreng dengan minyak,” ucap Abeng saat berbincang dengan JawaPos.com, Senin (1/6) malam, di sebuah tempat di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
Malam itu, di hari keempat sejak berlayar dari Pelabuhan Marmaris, Turki, ombak masih ganas dan angin begitu kencang. Namun karena sudah beberapa hari berlayar, perut sudah tak mual dan muntah lagi seperti pada hari pertama melakukan pelayaran. Tak lama kemudian, tiba-tiba sang kapten kapal memberikan instruksi. “Terapkan protokol intersep,” kata Abeng bercerita saat malam hari sebelum besok siang dirinya dan teman-temanya diculik.
Tanpa pikir panjang, atas instruksi sang kapten, sesuai standar operating procedure (SOP) yang diajarkan steering committee Global Sumud Flotilla saat pelatihan, Abeng dan relawan lain langsung menerapakan protokol intersep seperti memakai pakaian lengkap, sepatu, jaket pelampung, serta berbagai alat kelengkapan lain sesuai profesi asal masing-masing aktivis. Tak lupa Abeng juga memakai paspor dengan cara dikalungkan di lehernya.
Malam mulai larut. Hanya cahaya bintang yang menerangi gulita di atas laut Mediterania. Untuk mengatasi dinginnya udara malam, Abeng dan rekannya di kapal yang terbuat dari baja, aluminium dan fiberglass tersebut menebalkan jaketnya. Malam itu, para awak kapal Bolarize diminta bergantian memejamkan mata. Sebab, mereka harus bergantian bersiaga selama empat jam, melakukan patroli sesuai protokol intersep.