Ditanya Siapa Kapten, Hp Dibuang hingga Disiksa Dalam Kontainer Basah

“Patrolinya seperti melihat langit di atas kapal, apakah ada pesawat nirawak (drone) apa nggak, ada yang berada di haluan, buritan, dan ruang kemudi,” tutur pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini. Setelah bergantian patroli hingga fajar datang, situasi ternyata aman. Namun sang kapten asal Turki tersebut tak mencabut status protokol hingga akhirnya diculik di siang hari.

Matahari masih sepenggalah pada Senin (18/5) pagi. Saat itu, kapal yang ditumpangi Abeng dan sejumlah partisipan lain sudah masuk ke perairan internasional sebelah selatan Siprus, atau sekitar 250 mil laut dari Pantai Gaza yang diblokade Israel. Seperti biasa, Abeng dan para relawan lain kembali beraktivitas seperti sarapan hingga meminum secangkir teh, sembari bercengkerama.

Tak lama berselang, saat matahari hampir di ubun-ubun kepala, sang kapten kapal kembali memberikan instruksi kepada para penumpangnya, agar kembali menerapkan protokol intersep. Hal ini karena terlihat sebuah kapal perang mendekat. Sekonyong-konyong, Abeng bersama penumpang kapal lain langsung mematuhi instruksi itu. “Kita tetap berlayar. Normal saja berlayar. Kita sudah tahu bahwa ada kapal perang, tapi belum tahu kapal perang siapa,” ungkap Abeng.

Baca Juga :  Diharapkan Lebih Profesional, Transparan, dan fokus Kebutuhan Jamaah

Tak lama berselang, tak sampai satu jam, tiba-tiba muncul dua speed boat atau perahu cepat dari atas kapal perang yang mendekati Kapal Bolarize. Kapten kapal pun langsung memastikan bahwa itu merupakan pasukan Angkatan Laut Israel. “Ketika perahu karet itu sudah muncul, mereka ngejar kapal kita. Yaudah saya kirim video SOS. Kemudian radius berapa meter buang handphone melalui Hanafi peserta dari Malaysia,” tutur pria berambut gondrong ini.

Sebelum telefon genggamnya dibuang, Abeng bercerita jika sebenernya dirinya sempat merekam kedatangan pasukan Israel, namun ketika dikirim ke kantornya, video tersebut sudah tak bisa terkirim. “Signal sudah dibajak,” keluhnya. Tak berapa lama, dor…dor…dor…! Pasukan Israel menembaki kapal Boralize yang ditumpangi Abeng dan para peserta lain.

Baca Juga :  Pilih Pulang Kembali, Karena Tidak Dapat Perhatian, Akses Pendidikan pun Sulit

“Kalau gak salah penembakan 3 kali. Kita disuruh angkat tangan sama tantara Israel. Nanya kapten siapa?, kita diam saja. Kita gak boleh kasih tahu kaptennya siapa, karena mungkin akan dieksekusi juga di situ,” urainya.Tak puas dengan jawaban Abeng dan para penumpang kapal Bolarize lain, pasukan zionis itu langsung menggeledah seluruh isi ruangan kapal. “Satu persatu rambut dijambak,” ungkap Abeng.

“Patrolinya seperti melihat langit di atas kapal, apakah ada pesawat nirawak (drone) apa nggak, ada yang berada di haluan, buritan, dan ruang kemudi,” tutur pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini. Setelah bergantian patroli hingga fajar datang, situasi ternyata aman. Namun sang kapten asal Turki tersebut tak mencabut status protokol hingga akhirnya diculik di siang hari.

Matahari masih sepenggalah pada Senin (18/5) pagi. Saat itu, kapal yang ditumpangi Abeng dan sejumlah partisipan lain sudah masuk ke perairan internasional sebelah selatan Siprus, atau sekitar 250 mil laut dari Pantai Gaza yang diblokade Israel. Seperti biasa, Abeng dan para relawan lain kembali beraktivitas seperti sarapan hingga meminum secangkir teh, sembari bercengkerama.

Tak lama berselang, saat matahari hampir di ubun-ubun kepala, sang kapten kapal kembali memberikan instruksi kepada para penumpangnya, agar kembali menerapkan protokol intersep. Hal ini karena terlihat sebuah kapal perang mendekat. Sekonyong-konyong, Abeng bersama penumpang kapal lain langsung mematuhi instruksi itu. “Kita tetap berlayar. Normal saja berlayar. Kita sudah tahu bahwa ada kapal perang, tapi belum tahu kapal perang siapa,” ungkap Abeng.

Baca Juga :  Ikuti Volume dan Kuantitas Latihan Akademi Sepak Bola di Eropa

Tak lama berselang, tak sampai satu jam, tiba-tiba muncul dua speed boat atau perahu cepat dari atas kapal perang yang mendekati Kapal Bolarize. Kapten kapal pun langsung memastikan bahwa itu merupakan pasukan Angkatan Laut Israel. “Ketika perahu karet itu sudah muncul, mereka ngejar kapal kita. Yaudah saya kirim video SOS. Kemudian radius berapa meter buang handphone melalui Hanafi peserta dari Malaysia,” tutur pria berambut gondrong ini.

Sebelum telefon genggamnya dibuang, Abeng bercerita jika sebenernya dirinya sempat merekam kedatangan pasukan Israel, namun ketika dikirim ke kantornya, video tersebut sudah tak bisa terkirim. “Signal sudah dibajak,” keluhnya. Tak berapa lama, dor…dor…dor…! Pasukan Israel menembaki kapal Boralize yang ditumpangi Abeng dan para peserta lain.

Baca Juga :  Terkendala Dokumen Kependudukan, Tak Bisa Sekolah Formal

“Kalau gak salah penembakan 3 kali. Kita disuruh angkat tangan sama tantara Israel. Nanya kapten siapa?, kita diam saja. Kita gak boleh kasih tahu kaptennya siapa, karena mungkin akan dieksekusi juga di situ,” urainya.Tak puas dengan jawaban Abeng dan para penumpang kapal Bolarize lain, pasukan zionis itu langsung menggeledah seluruh isi ruangan kapal. “Satu persatu rambut dijambak,” ungkap Abeng.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya