Friday, February 28, 2025
22.9 C
Jayapura

Antrean BBM Kian Panjang Warga Resah

Biak Numfor – Antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Burokub dan SPBU Jalan Sriwijaya dalam satu minggu terakhir tidak hanya menghambat aktivitas warga tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi bagi para pekerja harian dan pelaku usaha kecil. Sejak perbaikan berlangsung di SPBU Jalan Sisingamangaraja, masyarakat menghadapi keterbatasan suplai BBM yang berimbas pada produktivitas dan pendapatan harian mereka.

Sejumlah sopir angkutan umum dan pengemudi ojek mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat waktu kerja yang terbuang saat mengantre BBM. Salah seorang tukang ojek yang cukup paruh baya Sarno, mengatakan bahwa antrean panjang membuatnya kehilangan banyak pelanggan di pagi hari, yang merupakan waktu tersibuk bagi para pencari nafkah di jalanan.

“Biasanya saya bisa mendapatkan banyak penumpang di pagi hari, tapi sekarang waktu saya habis hanya untuk mengantre BBM. Kalau tidak ada bahan bakar, saya tidak bisa bekerja, dan pendapatan saya turun drastis,” keluhnya.

Baca Juga :  Kerusakan Jalan dan Drainase di Pasar Lama Sentani  Dikeluhkan Warga

Tak hanya bagi pengemudi, kondisi ini juga berdampak pada pedagang pasar yang mengandalkan transportasi untuk mengangkut barang dagangan mereka. Seorang pedagang di Pasar Inpres Biak, Mama Yance, menyatakan bahwa keterlambatan dalam mendapatkan BBM menyebabkan banyak pedagang datang lebih siang ke pasar, yang berpengaruh pada penjualan mereka.

“Biasanya kami sampai di pasar sebelum subuh untuk menata dagangan. Tapi sekarang banyak teman pedagang yang datang terlambat karena kehabisan BBM atau harus antre lama. Akibatnya, dagangan kami jadi tidak cepat laku,” terang Yance.

terpisah, salah seorang pelajar SMK Daniel Wihyawari juga menyatakan sering terlambat ke sekolah lantaran dirinya yang tinggal jauh dari sekolah terpaksa menunggu kedatangan taksi lebih lama dari biasanya. Daniel yang mengaku tinggal di Kampung Gaya Baru diperkirakan menempuh perjalanan cukup Panjang untuk tiba di sekolah, sekitar kurang lebih 20-30 menit.

Baca Juga :  Gedung Isolasi Pasien Covid-19 Hampir Tuntas

Sementara itu, beberapa pengusaha rental mobil di Biak juga mengeluhkan dampak krisis BBM ini. Keterbatasan bahan bakar menyebabkan mereka kesulitan melayani pelanggan, terutama di sektor pariwisata yang menjadi andalan ekonomi daerah. Maupun untuk kemudahan bagi konsumen yang akan menyewa kendaraan dan langsung disiapkan BBMnya jika dibutuhkan.

  Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis ini, baik dengan mempercepat perbaikan SPBU Jalan Sisingamangaraja maupun memastikan distribusi BBM yang lebih merata. Dengan demikian, aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dapat kembali normal tanpa hambatan yang berarti. (il/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Biak Numfor – Antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Burokub dan SPBU Jalan Sriwijaya dalam satu minggu terakhir tidak hanya menghambat aktivitas warga tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi bagi para pekerja harian dan pelaku usaha kecil. Sejak perbaikan berlangsung di SPBU Jalan Sisingamangaraja, masyarakat menghadapi keterbatasan suplai BBM yang berimbas pada produktivitas dan pendapatan harian mereka.

Sejumlah sopir angkutan umum dan pengemudi ojek mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat waktu kerja yang terbuang saat mengantre BBM. Salah seorang tukang ojek yang cukup paruh baya Sarno, mengatakan bahwa antrean panjang membuatnya kehilangan banyak pelanggan di pagi hari, yang merupakan waktu tersibuk bagi para pencari nafkah di jalanan.

“Biasanya saya bisa mendapatkan banyak penumpang di pagi hari, tapi sekarang waktu saya habis hanya untuk mengantre BBM. Kalau tidak ada bahan bakar, saya tidak bisa bekerja, dan pendapatan saya turun drastis,” keluhnya.

Baca Juga :  Polres Sarmi Bergerak Cepat Membantu Warga Korban Banjir

Tak hanya bagi pengemudi, kondisi ini juga berdampak pada pedagang pasar yang mengandalkan transportasi untuk mengangkut barang dagangan mereka. Seorang pedagang di Pasar Inpres Biak, Mama Yance, menyatakan bahwa keterlambatan dalam mendapatkan BBM menyebabkan banyak pedagang datang lebih siang ke pasar, yang berpengaruh pada penjualan mereka.

“Biasanya kami sampai di pasar sebelum subuh untuk menata dagangan. Tapi sekarang banyak teman pedagang yang datang terlambat karena kehabisan BBM atau harus antre lama. Akibatnya, dagangan kami jadi tidak cepat laku,” terang Yance.

terpisah, salah seorang pelajar SMK Daniel Wihyawari juga menyatakan sering terlambat ke sekolah lantaran dirinya yang tinggal jauh dari sekolah terpaksa menunggu kedatangan taksi lebih lama dari biasanya. Daniel yang mengaku tinggal di Kampung Gaya Baru diperkirakan menempuh perjalanan cukup Panjang untuk tiba di sekolah, sekitar kurang lebih 20-30 menit.

Baca Juga :  KASAU Tinjau Langsung Sejumlah Fasilitas TNI AU

Sementara itu, beberapa pengusaha rental mobil di Biak juga mengeluhkan dampak krisis BBM ini. Keterbatasan bahan bakar menyebabkan mereka kesulitan melayani pelanggan, terutama di sektor pariwisata yang menjadi andalan ekonomi daerah. Maupun untuk kemudahan bagi konsumen yang akan menyewa kendaraan dan langsung disiapkan BBMnya jika dibutuhkan.

  Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis ini, baik dengan mempercepat perbaikan SPBU Jalan Sisingamangaraja maupun memastikan distribusi BBM yang lebih merata. Dengan demikian, aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dapat kembali normal tanpa hambatan yang berarti. (il/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya