Bentrokan antar dua kelompok warga terjadi di Jalan SP 2, depan Perumahan Pemda, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Kamis, 11 Juni 2026 malam. Insiden yang dipicu oleh salah paham terkait utang di sebuah kios ini mengakibatkan satu orang
Banyaknya pengungsi yang masuk ke tempat tersebut membuat Pemprov Papua Pegunungan sejak semalam berupaya untuk mengambil langkah cepat untuk membantu. Yakni, dengan menyediakan fasilitas tidur yang layak kepada para pengungsi berupa kasur
Bentrokan antara kedua kelompok masyarakat tak terhindarkan setelah dua kelompok ini melakukan aksi saling serang dari pinggiran kali Uwe dengan menggunakan panah dan batu dari kedua sisi kali tersebut, aksi ini direspon dari aparat keamana
Kapolres menjelaskan bahwa kasus itu berawal saat korban dibonceng oleh pamannya dengan menggunakan sepeda motor. Pelaku MN yang dalam pengaruh minuman keras dan memiliki dendam pribadi saat melihat paman korban dengan sepeda motor tersebu
Menerima laporan adanya perkelahian antar 2 kelompk warga di Gudang Arang tersebut, Patroli Ramadan langsung menindaklanjuti mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengamankan situasi.
Dalam keterangan resmi yang diterima Kamis malam, Letkol Iwan menyampaikan bahwa peristiwa bermula dari kesalahpahaman yang terjadi disekitar Marseling Area 2 Batalyon Infanteri (Yonif) Teritorial Pembangunan (TP) 819/PI
Hal ini berdasarkan hasil pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Mimika bersama masing-masing pihak yang berkonflik secara terpisah dan kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai.
Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen mengatakan, pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terlibat dalam aksi penganiayaan tersebut. Identitas para terduga pelaku diketahui setelah
Peristiwa tersebut sempat terekam dalam video yang beredar luas di media sosial, memperlihatkan puluhan warga, terlibat keributan di jalan utama. Ini membuat para pengguna jalan memilih memutar balik kendaraan. Situasi d
Kapolsek mengatakan bahwa sebelum kejadian, aparat sempat memasuki area perang dan melakukan pembongkaran terhadap tenda-tenda pendukung perang. Saat itu, korban yang diduga merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) me
Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar di sosial media, aksi saling serang dengan menggunakan busur dan anak panah itu terjadi disekitar lapangan bola Distrik Kwamki Narama. Dalam bentrok tersebut, seorang warga d
Akibatnya, arus lalu lintas di lokasi pun lumpuh. Banyak kendaraan yang terpaksa memutar balik di depan Kafe Mulo. Jalan Budi Utomo yang tadinya satu arah tiba-tiba menjadi dua arah akibat bentrok itu. “Mereka mulai bent
Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.I,K menyatakan membenarkan adanya aksi saling serang antara dua kelompok masa usai dilakukan pembayaran denda adat kasus lakalantas yang terjadi di kampung Is
Kata Ipda Yusak, korban atas nama Dinus Kiwak ini dinyatakan meninggal dunia saat dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM). Ipda Yusak menerangkan bahwa sebelum meninggal dunia, korban dilarikan ke rumah sakit untu
Kata Kapolres, oknum provokator yang ditangkap merupakan seorang tokoh masyarakat, ia berinisial L. "Kemarin kita (kepolisian) sudah ada upaya paksa terhadap salah satu provokator. Sekarang sudah kami amankan, inisial L,
Alhasil, bentrok terus berlanjut hingga telah menelan empat korban jiwa serta puluhan lainnya luka-luka akibat terkena anak panah. Untuk korban meninggal dunia 3 dari kubu Newagelen dan 1 dari Dang.
"Ini (kedua korban meninggal dunia,red) dari pihak pelaku. Kemarin pagi jam itu satu korban meninggal dunia (MD) dibakar, terus sorenya ada beberapa korban yang dibawa lari ke RSUD, namun sampai di sana satu korban dinya
Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, total korban jiwa akibat dari bentrok dua kelompok warga yang berkepanjangan itu telah berjumlah dua orang. Hal ini pun dibenarkan oleh Kapolsek Kwamki Narama, Ipda Yusak
Kapolres Puncak Jaya, AKBP Achmad Fauzan, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, bentrok bermula ketika kedua kelompok sama-sama menggelar acara bakar batu. Pendukung Bupati Yuni Wonda melaksanakan bakar
Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman saat ditemui wartawan, Senin, 17 November 2025 membenarkan hal tersebut. Kata Kapolres penangkapan ini dilakukan sebagai upaya menghentikan konflik di Kampung Amole, Dis
“Saya hadir di sini cuma minta satu, tadi kita sudah bicara dengan pihak korban untuk mereka tidak lagi melakukan aksi pembalasan. Kita minta mereka duduk diam dulu, kita mau cari solusi, mau cari jalan keluar untuk baga
Kejadian konflik antar warga ini terjadi Minggu, 9 November 2025 yang disebabkan adanya warga dianiaya kelompok warga lainnya hingga mengalami luka berat. Tak terima akhirnya terjadi aksi balasan. Kabid Humas Polda Papua
Rudi menjelaskan, sejak kejadian itu, pihak sekolah meliburkan sekolah karena takut ada sesuatu yang terjadi saat proses belajar mengajar dilakukan di sekolah. Atau saat anak-anak tersebut sedang dalam perjalanan dan ter
Namun, pihak kepolisian dengan sigap meredam bentrok tersebut. Atas peristiwa itu, Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi agar aksi saling serang itu tidak terula
Tak hanya melakukan razia sajam, kata Kapolsek pihaknya juga akan melakukan patroli guna menyambangi masyarakat setempat untuk memberikan imbauan tentang keamanan dan ketertiban. “Sambang masyarakat ini kita imbau untuk
Kapolsek Kwamki Narama, Ipda Yusak Sawaki mengatakan sampai saat ini belum ada kesepakatan untuk berdamai yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang terlibat bentrok. Namun, ia menyebutkan bahwa situasi di lokasi kejadia
"Kemarin sore mereka sudah bersepakat untuk hari ini dilakukan pembayaran. Namun, sampai saat sore hari ini belum ada pengumpulan uang lagi dari pihak pelaku untuk melakukan pembayaran," kata Ipda Yusak. Ipda Yusak menje
Pengusutan ini penting guna menjaga transparansi, akuntabilitas dan kepastian hukum bagi publik. Oleh karena itu, perlu ada tim independen yang dibentuk guna melakukan investigasi.
Aksi tersebut dilakukan lantaran adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dalam hal ini KPU dan kurang tegasnya Badan pengawas pemilihan umum (Bawaslu) Papua dalam mengawasi jalannya PSU.
Bentrokan tersebut terjadi di jembatan gantung yang menghubungkan Distrik Wesaput dengan Kampung Minimo Distrik Maima. Kedua kelompok yang belum bisa dilerai ini saling menghujani kelompok lawan dengan panah, batu maupun
Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Angung Made Satria Bimantara, S.IK membenarkan adanya aksi saling serang yang dipicu dari miskomunikasi waktu pelaksanaan ibadah minggu antara dua jemaat yang menggunakan satu gedung gereja
Kata dr Aaron, pasien ini ada yang datang pada Kamis (3/4), Sabtu (5/4) dan terakhir Senin (7/4) dengan satu pasien. Ia pun turut menyoroti pasien yang disebabkan perang antarkelompok. Sebab, secara tidak langsung kata d
Tak hanya itu ada 117 orang terluka dan puluhan rumah dibakar. Data kepolisian menyebut bahwa pada bentrok hari pertama pada 3 Maret lalu sudah 4 orang dilaporkan meninggal dunia dimana ada 67 yang terluka dan 28 rumah serta 1 sekolah yang dibakar.
Sebanyak 400 personel gabungan TNI-Polri yang terdiri atas prajurit dari Kodim 1714/Puncak Jaya, Polres Puncak Jaya, Satgas Yonif Raider 715/MTL, Satgas Yonif Raider 112/DJ, Brimob Yon B dan Yon C Polda Papua BKO Puncak Jaya, Satgas Mandala V, Kopasgat, dan Satgas ODC melaksanakan patroli sweeping jalan kaki di seputaran Kota Mulia.
Kepala Kepolisian Resor Puncak Jaya AKBP Kuswara bersama ratusan personel gabungan yang terdiri dari Polres Puncak Jaya dan Brimob BKO Puncak Jaya langsung terjun ke TKP untuk melerai ataupun membubarkan aksi saling serang tersebut. AKBP Kuswara membenarkan jika pagi tadi hingga sore hari kembali terjadi aksi saling serang antara kedua massa pendukung paslon 01 maupun 02 yang terjadi di Kampung Pagaleme tepatnya di Pertigaan Kantor Distrik Pagaleme.
Kapolres menerangkan, awalnya ada warga dari salah satu kelompok yang sedang memetik pinang di sekitaran lokasi kejadian. Warga yang sedang memetik pinang tersebut kemudian dipanah oleh oknum dari salah satu kelompok lainnya yang terlibat bentrok.
“Jadi warga jangan lewat sini karena masyarakat lagi baku kejar, masyarakat dengan masyarakat mereka lagi baku panah, kita tidak boleh mendekat,” ungkapnya. “Hati-hati kalau ke arah sini,” tutup sumber suara.
Akibatnya, dua rumah dan satu honai dibakar massa. Namun situasi tersebut dapat diredam usai aparat kepolisian dari Polres Jayawijaya turun ke lapangan dan menenangkan keluarga korban serta juga meminta keluarga pelaku untuk tidak melakukan aksi pembalasan, sebab kasus tersebut telah ditindak lanjuti oleh kepolisian.
Berdasarkan informasi dari keluarga korban Y, Maryen mengatakan bahwa, masalah tersebut telah diselesaikan di Polresta Jayapura Kota. Sementara kata dia, korban saat ini masih di RSUD Dok II Jayapura untuk dilakukan perawatan intensif.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Polres Jayawijaya untuk hari pertama saat awal mula bentrokan tersebut terdapat dua orang dari kelompok masyarakat Lanny Jaya dan akhirnya dibalas dengan melakukan penyerangan terhadap perumahan warga Nduga yang ada di Wamena. Akibatnya tiga orang warga Nduga meninggal dunia.
Penyebab bentroknya sendiri hanya karena perempuan yang akhirnya merembet ke dua kelompok suku. Bentrok terjadi sekitar pukul 11.20 WIT di kompleks Kampung Sapalek Distrik Napua. Kapolres Jayawijaya AKBP Heri Wibowo mengatakan akibat konflik warga ini 1 warga meninggal dunia dan dua orang lainnya luka - luka yang salah satunya adalah anggota Polres Jayawijaya.
Kapolres Mimika, AKBP I Komang Budiartha menjelaskan, setelah pembakaran rumah serta sejumlah kendaraan dan alat berat itu, pihaknya telah melakukan sterilisasi di lokasi, termasuk mengimbau warga setempat untuk menutup tambang ilegal di lokasi tersebut serta memberhentikan seluruh aktivitas penambangan tradisional.
Dian Novita Piterzs menjelaskan bahwa saling serang antara dua kelompok warga ini masih dilatarbelakangi dengan kasus yang sama di bulan Agustus lalu. Dimana dalam kasus pertikaian antara kedua kelompok tersebut, satu diantara kelompok itu meninggal dunia.
Kabid Humas mengatakan kedua orang tersebut bernama Marianus Gery (63) selaku Pendeta Gereja yang mengalami luka bacok di leher dan jari putus dalam kondisi meninggal dunia di TK dan Abraham Runga (51) yang mengalami luka bacok di kepala juga dalam kondisi meninggal dunia saat dirawat di RSUD Nduga.
Korban Menius Bae, (32) warga Distrik Asolokobal meninggal Dunia karena mengalami luka bacok di bagian rahang sebelah kiri, dan luka bacok dinagian leher belakang sehingga personil regu siaga 4 dipimpin oleh Ipda I Gede Cipta Adi Permana menuju TKP menemukan korban sudah tergeletak di Jln.Trans Kurima-Wamena, Selanjutnya personil menuju ke keluarga korban yang berada di Asolokobal.
Dua korban diantaranya berasal dari Kelompok Ikabus Gwijangge 2 orang dan Kelompok Tarni Wandikbo 1 orang. Elipanus menjelaskan, pertikaian yang terjadi di Ibu Kota Kabupaten Nduga itu terjadi setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil perolehan suara pada pemilu 2024 lalu.
Pertikaian yang diduga dipicu kasus Laka Lantas tersebut menyebabkan 2 orang meninggal dunia dan 5 orang lainnya mengalami luka-luka pada hari pertama kemarin akibat saling serang menggunakan alat tajam, batu serta alat perang tradisional, sampai saat ini jumlah korban belum bisa teridentifikasi dengan baik karena warga yang luka lebih memilih dirawat oleh keluarga tanpa harus ke RSUD Wamena.
Bentrok ini antar pendukung partai PPP dengan partai Nasdem yang mengakibatkan satu korban atas nama Netinus Jigobalom terkena panah. Kejadian ini terjadi Minggu (3/3) sore. Kapolres Lanny Jaya AKBP Umar Nasatekay mengatakan korban terkena panah bagian dada sebelah kanan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tiom.