Saturday, January 17, 2026
29.1 C
Jayapura

Ratusan Jemaat Hadiri Ibadah Syukur HUT ke-75 PGI di Jayapura

“PGI adalah sarana persekutuan, ruang terbuka di mana Tubuh Kristus yang majemuk menyatu dalam roh. Roh Kristus mengkuduskan, menyatukan, menghidupkan, dan mengutus jemaat-Nya menjadi terang dan garam di tengah dunia,” ungkap Pdt. Darwin.

Ia menekankan bahwa kesatuan gereja bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan buah dari Roh Kudus yang menumbuhkan damai dalam perbedaan dan menempatkan kasih di atas perpecahan. “Kesatuan ini adalah misteri sekaligus anugerah Tuhan, sebagaimana tubuh yang memiliki banyak anggota, beragam dalam suku, bahasa, dan tradisi, namun satu karena mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan atas semesta alam,” jelasnya.

Pdt. Darwin juga menyoroti pentingnya relevansi gereja dalam menjawab tantangan zaman. Menurutnya, gereja tidak boleh larut dalam arus dunia, melainkan harus menjadi telinga dan hati Tuhan yang mendengar jeritan mereka yang lapar, terpinggirkan, dan terabaikan. Ia mengutip Paus Fransiskus yang menyebut bahwa gereja harus menjadi “rumah sakit di medan perang” hadir di tengah luka masyarakat, bukan menjadi menara gading yang nyaman.

Baca Juga :  Dinkes Minta Tambahan Vaksin ke  Pusat

“Relevansi gereja ada pada keberaniannya menghadirkan tubuh Kristus di tempat-tempat yang tidak terduga dan membawa harapan di tengah realitas yang rapuh,” tegasnya. Pemilihan Papua sebagai lokasi perayaan HUT ke-75 PGI, menurutnya, adalah wujud komitmen bersama seluruh warga bangsa yang merindukan keadilan dan perdamaian dimulai dari tanah Papua.

Di usia yang ke-75, PGI diibaratkan sebagai pohon yang akarnya menancap dalam tanah panggilan Allah dan buahnya telah dinikmati banyak orang. Namun, ia mengingatkan agar PGI tidak berhenti bertumbuh.

“PGI harus terus menjadi tempat berteduh yang menghasilkan kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita membawa Injil ke jalan-jalan kota, ke lorong-lorong kehidupan, terutama bagi mereka yang menderita, termasuk ibu bumi yang terluka karena anak-anaknya gagal merawatnya dengan cinta kasih yang sama,” pungkasnya (rel/ade)

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Papua Apresiasi Peran Pemkab Jayapura

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

“PGI adalah sarana persekutuan, ruang terbuka di mana Tubuh Kristus yang majemuk menyatu dalam roh. Roh Kristus mengkuduskan, menyatukan, menghidupkan, dan mengutus jemaat-Nya menjadi terang dan garam di tengah dunia,” ungkap Pdt. Darwin.

Ia menekankan bahwa kesatuan gereja bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan buah dari Roh Kudus yang menumbuhkan damai dalam perbedaan dan menempatkan kasih di atas perpecahan. “Kesatuan ini adalah misteri sekaligus anugerah Tuhan, sebagaimana tubuh yang memiliki banyak anggota, beragam dalam suku, bahasa, dan tradisi, namun satu karena mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan atas semesta alam,” jelasnya.

Pdt. Darwin juga menyoroti pentingnya relevansi gereja dalam menjawab tantangan zaman. Menurutnya, gereja tidak boleh larut dalam arus dunia, melainkan harus menjadi telinga dan hati Tuhan yang mendengar jeritan mereka yang lapar, terpinggirkan, dan terabaikan. Ia mengutip Paus Fransiskus yang menyebut bahwa gereja harus menjadi “rumah sakit di medan perang” hadir di tengah luka masyarakat, bukan menjadi menara gading yang nyaman.

Baca Juga :  Evaluasi Tim, Nasib Toni Ho Belum Diputuskan

“Relevansi gereja ada pada keberaniannya menghadirkan tubuh Kristus di tempat-tempat yang tidak terduga dan membawa harapan di tengah realitas yang rapuh,” tegasnya. Pemilihan Papua sebagai lokasi perayaan HUT ke-75 PGI, menurutnya, adalah wujud komitmen bersama seluruh warga bangsa yang merindukan keadilan dan perdamaian dimulai dari tanah Papua.

Di usia yang ke-75, PGI diibaratkan sebagai pohon yang akarnya menancap dalam tanah panggilan Allah dan buahnya telah dinikmati banyak orang. Namun, ia mengingatkan agar PGI tidak berhenti bertumbuh.

“PGI harus terus menjadi tempat berteduh yang menghasilkan kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita membawa Injil ke jalan-jalan kota, ke lorong-lorong kehidupan, terutama bagi mereka yang menderita, termasuk ibu bumi yang terluka karena anak-anaknya gagal merawatnya dengan cinta kasih yang sama,” pungkasnya (rel/ade)

Baca Juga :  Pertamina Apresiasi Pemda Mimika Dalam Pengawasan Uji Coba Subsidi Tepat

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya