Pemuda Yakonde Miliki Tekad Mengubah dari Dalam

“Saya temui orang tuanya yang mengaku sangat sedih anaknya pergi dari rumah. Saya jelaskan bahwa suami istri ini sangat pantas disebut parent atau orang tua yang mengasuh. Artinya orang tua tak mesti harus melahirkan tetapi bisa juga yang menghidupi dari kecil, merawat dan membesarkan anak tersebut itu juga bisa disebut orang tua,” beber Jose.

Ia meminta pasangan suami istri itu jangan minder atau berkecil hati sebab merekalah sejatinya orang tua. Namun disini Jose merasa miris mengingat bahasa soal bukan anak kandung itu dilontarkan olah saudara dari anak tersebut. “Tidak harus menjelaskan soal kandung atau tidak juga, biarkan saja mengalir toh selama ini sudah tinggal bersama,” imbuhnya.

Jose juga mengulang soal kerja keras dan ketekunan yang jika dijadikan kebiasaan maka kebiasaan ini dengan sendirinya akan mengubah kehidupan. Dari diskusi ini, Jose juga mendapat banyak cerita dari warga. Contoh sosok pemuda bernama Musa yang mengaku semangat untuk mengikuir berprestasi justru terhalang dari sikap orang tua sendiri.

“Kadang masih ada orang tua yang membandingkan kenapa saya atau kami tidak seperti anak lain yang punya prestasi atau penghasilan lebih. Terkadang pernyataan seperti ini justru yang menghancurkan mental sang anak sehingga anak menjadi malas dan tidak memiliki semangat juang,” imbuhnya.

Begitu juga yang disampaikan Jen Mokay salah satu ibu rumah tangga yang membenarkan jika dirinya masih kerap berkata kasar kepada sang anak.

Baca Juga :  Warga Diminta Buang Sampah pada Malam Hari

Kata-kata kasar ini akhirnya terbawa pada karakter sang anak dan itu membuatnya seperti karma.

“Saya termasuk perempuan yang suka berkata kasar termasuk kepada anak sendiri. Tapi untung ada seorang mama mengingatkan untuk jangan berkata kasar kepada anak. Mending berikan pujian dan puji Tuhan anak saya mendapat banyak penghargaan,” imbuhnya.

Dari cerita ini Jose pun tergugah karena melihat ada sosok anak papua yang cerdas namun potensi yang dimiliki belum tergarap maksimal. Iapun meminta sejumlah anak di Yakonde untuk nengikut training dan kembali membangun kampung. Jose juga menjabarkan kepanjangan dari kalimat yang dibuat sendiri yaitu Onomi. “Untuk O yang pertama adalah Onffended. Jika anak Papua mau maju maka sifat pertama yang harus dihindari adalah Offended atau mudah tersinggung. Jangan terlalu sensitif dan akhirnya berjalan di tempat,” kata Jose.

Lalu kedua adanya Negatif atau selalu berfikir negatif. Jika ini yang terus dipikir maka orang tersebut tidak akan maju-maju. Hanya menjadi anak yang begitu-begitu saja. Jose lantas menceritakan soal perjuangan tokoh Nelson Mandela. Ia ditahan selama 28 tahun dimana akhirnya ia keluar usai masa tahanannya dan maju dalam Pemilu kemudian menang dan terpilih sebagai presiden.

Baca Juga :  Nenu Ingatkan Tak Ada Pejabat di Luar Ilaga

“Menariknya, setelah terpilih sebagai presiden, Nelson justru menggunakan beberapa musuh yang pernah dimasukkan dia ke penjara dalam kabinet. Banyak yang tak suka dan meminta merubah itu namun jika itu dilakukan maka ia akan sama seperti orang – orang yang memenjarakannya. Mandela menyebut ia yang mengatur dirinya bukan emosi yang mengatur,” ungkap Jose.

Kesimpulannya, jangan mendengar kata-kata orang yang negatif akhirnya menguras energi. “Saya ambil contoh ketika kita memposting sesuatu dan mendapat banyak komentar positif lalu ada 1 komentar negatif namun keras sekali. Terkadang karena 1 komentar ini juga justru terpikir padahal ada banyak sekali yang positif. Ini artinya ocehan negatif itu mempunyai energi yang sangat besar, tinggal bagaimana mensikapi saja,” saran Jose.

“Ingat untuk menghilangkan kopi di gelas tentu harus siram air putih yang banyak. Isilah diri dengan sesuatu yang murni, jangan pindahkan energi negatif ke diri sendiri,” pesan Jose. Ia juga meminta dalam kehidupan sosial jangan cepat tersinggung jika melihat sesuatu yang kesannya menyindir.

Lalu O kedua adalah Obstinate atau tidak mau berubah. Jose mencontohkan soal produk Kodak dan Nokia yang terlalu nyaman dan merasa tidak memiliki pesaing akhirnya tidak melakukan terobosan atau tidak menciptakan hal-hal yang baru. Akhirnya saat ini kedua produk ini harus bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan.

“Saya temui orang tuanya yang mengaku sangat sedih anaknya pergi dari rumah. Saya jelaskan bahwa suami istri ini sangat pantas disebut parent atau orang tua yang mengasuh. Artinya orang tua tak mesti harus melahirkan tetapi bisa juga yang menghidupi dari kecil, merawat dan membesarkan anak tersebut itu juga bisa disebut orang tua,” beber Jose.

Ia meminta pasangan suami istri itu jangan minder atau berkecil hati sebab merekalah sejatinya orang tua. Namun disini Jose merasa miris mengingat bahasa soal bukan anak kandung itu dilontarkan olah saudara dari anak tersebut. “Tidak harus menjelaskan soal kandung atau tidak juga, biarkan saja mengalir toh selama ini sudah tinggal bersama,” imbuhnya.

Jose juga mengulang soal kerja keras dan ketekunan yang jika dijadikan kebiasaan maka kebiasaan ini dengan sendirinya akan mengubah kehidupan. Dari diskusi ini, Jose juga mendapat banyak cerita dari warga. Contoh sosok pemuda bernama Musa yang mengaku semangat untuk mengikuir berprestasi justru terhalang dari sikap orang tua sendiri.

“Kadang masih ada orang tua yang membandingkan kenapa saya atau kami tidak seperti anak lain yang punya prestasi atau penghasilan lebih. Terkadang pernyataan seperti ini justru yang menghancurkan mental sang anak sehingga anak menjadi malas dan tidak memiliki semangat juang,” imbuhnya.

Begitu juga yang disampaikan Jen Mokay salah satu ibu rumah tangga yang membenarkan jika dirinya masih kerap berkata kasar kepada sang anak.

Baca Juga :  Macet, Masyarakat  Harus Sabar

Kata-kata kasar ini akhirnya terbawa pada karakter sang anak dan itu membuatnya seperti karma.

“Saya termasuk perempuan yang suka berkata kasar termasuk kepada anak sendiri. Tapi untung ada seorang mama mengingatkan untuk jangan berkata kasar kepada anak. Mending berikan pujian dan puji Tuhan anak saya mendapat banyak penghargaan,” imbuhnya.

Dari cerita ini Jose pun tergugah karena melihat ada sosok anak papua yang cerdas namun potensi yang dimiliki belum tergarap maksimal. Iapun meminta sejumlah anak di Yakonde untuk nengikut training dan kembali membangun kampung. Jose juga menjabarkan kepanjangan dari kalimat yang dibuat sendiri yaitu Onomi. “Untuk O yang pertama adalah Onffended. Jika anak Papua mau maju maka sifat pertama yang harus dihindari adalah Offended atau mudah tersinggung. Jangan terlalu sensitif dan akhirnya berjalan di tempat,” kata Jose.

Lalu kedua adanya Negatif atau selalu berfikir negatif. Jika ini yang terus dipikir maka orang tersebut tidak akan maju-maju. Hanya menjadi anak yang begitu-begitu saja. Jose lantas menceritakan soal perjuangan tokoh Nelson Mandela. Ia ditahan selama 28 tahun dimana akhirnya ia keluar usai masa tahanannya dan maju dalam Pemilu kemudian menang dan terpilih sebagai presiden.

Baca Juga :  Pelepasan 315 Tenaga Kontrak Kesehatan ke-39 Puskesmas di Kab. Tolikara

“Menariknya, setelah terpilih sebagai presiden, Nelson justru menggunakan beberapa musuh yang pernah dimasukkan dia ke penjara dalam kabinet. Banyak yang tak suka dan meminta merubah itu namun jika itu dilakukan maka ia akan sama seperti orang – orang yang memenjarakannya. Mandela menyebut ia yang mengatur dirinya bukan emosi yang mengatur,” ungkap Jose.

Kesimpulannya, jangan mendengar kata-kata orang yang negatif akhirnya menguras energi. “Saya ambil contoh ketika kita memposting sesuatu dan mendapat banyak komentar positif lalu ada 1 komentar negatif namun keras sekali. Terkadang karena 1 komentar ini juga justru terpikir padahal ada banyak sekali yang positif. Ini artinya ocehan negatif itu mempunyai energi yang sangat besar, tinggal bagaimana mensikapi saja,” saran Jose.

“Ingat untuk menghilangkan kopi di gelas tentu harus siram air putih yang banyak. Isilah diri dengan sesuatu yang murni, jangan pindahkan energi negatif ke diri sendiri,” pesan Jose. Ia juga meminta dalam kehidupan sosial jangan cepat tersinggung jika melihat sesuatu yang kesannya menyindir.

Lalu O kedua adalah Obstinate atau tidak mau berubah. Jose mencontohkan soal produk Kodak dan Nokia yang terlalu nyaman dan merasa tidak memiliki pesaing akhirnya tidak melakukan terobosan atau tidak menciptakan hal-hal yang baru. Akhirnya saat ini kedua produk ini harus bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya