Nepal juga meningkatkan kewaspadaan nasional. Mengutip The Annapurna Express, pemerintah Nepal memulai skrining kesehatan di Bandara Internasional Tribhuvan dan di sejumlah titik perbatasan utama dengan India. Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal, Prakash Budhathoki, menyatakan, “Kami telah meningkatkan pengawasan, khususnya di titik-titik perbatasan di Provinsi Koshi. Pemeriksaan kesehatan serupa juga diperintahkan di perlintasan lain.”
Sebagai informasi, virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dan secara alami dibawa oleh kelelawar buah (Pteropus). Penularan ke manusia dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan hewan maupun manusia yang terinfeksi. Menurut WHO, Nipah diklasifikasikan sebagai patogen prioritas karena potensi epidemiknya. Selain itu, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk mencegah infeksi virus Nipah.
WHO menegaskan, “Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan spektrum gejala yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga gangguan pernapasan akut dan radang otak yang serius.” Tingkat kematian pada wabah sebelumnya berkisar antara 40 hingga 75 persen, menurut The Economic Times, menjadikan virus ini ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Langkah Thailand dan Nepal dianggap sebagai mitigasi awal yang penting. Pengalaman pandemi global sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan deteksi dapat memperbesar dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi secara signifikan.
Nepal juga meningkatkan kewaspadaan nasional. Mengutip The Annapurna Express, pemerintah Nepal memulai skrining kesehatan di Bandara Internasional Tribhuvan dan di sejumlah titik perbatasan utama dengan India. Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal, Prakash Budhathoki, menyatakan, “Kami telah meningkatkan pengawasan, khususnya di titik-titik perbatasan di Provinsi Koshi. Pemeriksaan kesehatan serupa juga diperintahkan di perlintasan lain.”
Sebagai informasi, virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dan secara alami dibawa oleh kelelawar buah (Pteropus). Penularan ke manusia dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan hewan maupun manusia yang terinfeksi. Menurut WHO, Nipah diklasifikasikan sebagai patogen prioritas karena potensi epidemiknya. Selain itu, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk mencegah infeksi virus Nipah.
WHO menegaskan, “Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan spektrum gejala yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga gangguan pernapasan akut dan radang otak yang serius.” Tingkat kematian pada wabah sebelumnya berkisar antara 40 hingga 75 persen, menurut The Economic Times, menjadikan virus ini ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Langkah Thailand dan Nepal dianggap sebagai mitigasi awal yang penting. Pengalaman pandemi global sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan deteksi dapat memperbesar dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi secara signifikan.