Saturday, November 29, 2025
28.5 C
Jayapura

Kemenkes Ingatkan Perkuat Imun

JAKARTA – Kementerian Kesehatan meminta publik untuk menjaga kesehatan lingkungan, merespon kasus meninggalnya lima anak akibat flu babi di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah itu mengungkap persoalan serius terkait sanitasi, gizi, dan akses kesehatan di wilayah pedalaman.

Hingga 23 November 2025, katanya, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan. Saat ini seluruh warga tersebut kondisinya sudah membaik. Namun demikian terdapat lima kasus kematian pada anak.

Hasil laboratorium menunjukkan kelima anak tersebut positif terjangkit Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, atau yang dikenal juga dengan flu babi, yang pernah menjadi wabah di beberapa negara pada 2009.

Baca Juga :  Cermin Kerukunan dan Kebersamaan

Dia menyebutkan, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas kesehatan dasar di wilayah tersebut.

“Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur,” katanya.

Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak. Selain masalah lingkungan, dia menyoroti banyaknya warga dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah.

Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat warga rentan terhadap penyakit.

JAKARTA – Kementerian Kesehatan meminta publik untuk menjaga kesehatan lingkungan, merespon kasus meninggalnya lima anak akibat flu babi di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah itu mengungkap persoalan serius terkait sanitasi, gizi, dan akses kesehatan di wilayah pedalaman.

Hingga 23 November 2025, katanya, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan. Saat ini seluruh warga tersebut kondisinya sudah membaik. Namun demikian terdapat lima kasus kematian pada anak.

Hasil laboratorium menunjukkan kelima anak tersebut positif terjangkit Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, atau yang dikenal juga dengan flu babi, yang pernah menjadi wabah di beberapa negara pada 2009.

Baca Juga :  Perlindungan Korban Kekerasan Seksual Naik Drastis

Dia menyebutkan, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas kesehatan dasar di wilayah tersebut.

“Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur,” katanya.

Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak. Selain masalah lingkungan, dia menyoroti banyaknya warga dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah.

Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat warga rentan terhadap penyakit.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya