Elza menegaskan langkah tersebut bukan sekadar upaya mencari keringanan hukuman. Menurutnya, kliennya ingin membuka secara utuh konstruksi perkara yang selama ini belum terungkap ke publik. “Kami ingin kasus ini dibuka seterang-terangnya. Jadi bukan strategi untuk meringankan hukuman, tetapi untuk mengungkap fakta yang sebenarnya,” katanya.
Namun keputusan untuk bersikap terbuka itu disebut tidak diambil dengan mudah. Sebelum memutuskan bekerja sama dengan penyidik, Sony dikabarkan sempat dihantui kekhawatiran terhadap keselamatan dirinya maupun keluarganya. Elza mengungkapkan, dalam berbagai pertemuan dan diskusi, Sony beberapa kali mempertanyakan risiko yang mungkin dihadapi apabila ia mengungkap pihak-pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara tersebut.
“Dia memang risau. Yang dipikirkan adalah keselamatan dirinya dan anak-anaknya,” ujar Elza. Meski demikian, setelah melalui berbagai pertimbangan, Sony akhirnya memilih bersikap kooperatif dan siap membuka seluruh informasi yang diketahuinya kepada penyidik. Bahkan, menurut Elza, kliennya telah menyatakan kesiapan menghadapi segala konsekuensi dari keputusan tersebut.
Tim kuasa hukum kini berencana berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) guna memastikan perlindungan terhadap Sony apabila permohonan sebagai justice collaborator diajukan. Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi baru mengenai kemungkinan adanya aktor eksternal yang memiliki pengaruh dalam tata kelola Program MBG.
Elza bahkan mengindikasikan bahwa sejumlah pihak yang diduga mengetahui atau terlibat dalam perkara tersebut memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan Sony ketika masih menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Meski belum bersedia mengungkap identitas mereka secara terbuka, Elza memastikan kliennya memiliki data dan bukti yang dapat mendukung seluruh keterangannya di hadapan penyidik.
Elza menegaskan langkah tersebut bukan sekadar upaya mencari keringanan hukuman. Menurutnya, kliennya ingin membuka secara utuh konstruksi perkara yang selama ini belum terungkap ke publik. “Kami ingin kasus ini dibuka seterang-terangnya. Jadi bukan strategi untuk meringankan hukuman, tetapi untuk mengungkap fakta yang sebenarnya,” katanya.
Namun keputusan untuk bersikap terbuka itu disebut tidak diambil dengan mudah. Sebelum memutuskan bekerja sama dengan penyidik, Sony dikabarkan sempat dihantui kekhawatiran terhadap keselamatan dirinya maupun keluarganya. Elza mengungkapkan, dalam berbagai pertemuan dan diskusi, Sony beberapa kali mempertanyakan risiko yang mungkin dihadapi apabila ia mengungkap pihak-pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara tersebut.
“Dia memang risau. Yang dipikirkan adalah keselamatan dirinya dan anak-anaknya,” ujar Elza. Meski demikian, setelah melalui berbagai pertimbangan, Sony akhirnya memilih bersikap kooperatif dan siap membuka seluruh informasi yang diketahuinya kepada penyidik. Bahkan, menurut Elza, kliennya telah menyatakan kesiapan menghadapi segala konsekuensi dari keputusan tersebut.
Tim kuasa hukum kini berencana berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) guna memastikan perlindungan terhadap Sony apabila permohonan sebagai justice collaborator diajukan. Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi baru mengenai kemungkinan adanya aktor eksternal yang memiliki pengaruh dalam tata kelola Program MBG.
Elza bahkan mengindikasikan bahwa sejumlah pihak yang diduga mengetahui atau terlibat dalam perkara tersebut memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan Sony ketika masih menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Meski belum bersedia mengungkap identitas mereka secara terbuka, Elza memastikan kliennya memiliki data dan bukti yang dapat mendukung seluruh keterangannya di hadapan penyidik.