Monday, January 12, 2026
25.9 C
Jayapura

Tak Sekedar Kelola Buku, Pustakawan Fokus Knowledge Transfer

JAYAPURA-Di era tehnologi informasi yang semakin canggih saat ini, menuntut adanya perubahan paradigma tentang keberadaan perpustakaan dan peran para pustakawan. Kini perpustakaan harus mulai bertransformasi berbasis inklusi sosial. 

Dimana kebaruan ini dapat langsung terlihat dari implementasi perpustakaan yang focus kepada Knowledge Transfer atau transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

  “Perpustakaan yang dahulu  tercermin sebagai gudang buku yang senyap, kini didorong untuk berkegiatan dengan melibatkan masyarakat, bahkan dengan pihak-pihak lain yang  potensial mendorong terjadinya peningkatan  literasi masyarakat, sehingga kualitas  hidup masyarakat meningkat.” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam sambutannya yang disampaikan Yoyo Wahyono Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI dalam penutupan Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Tehnologi informasi komunikasi di Jayapura, Kamis (25/5).

Baca Juga :  Kapolresta:  TPS Rawan Pola Pengamanan Berbeda

  Lebih lanjut Yoyo Wahyono Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI menjelaskan bahwa Perpustakaan yang dulunya hanya mengelola buku, sekarang di era tehnologi informasi ini, sudah berubah, 10 persen kelola koleksi buku,  20 persen kelola informasi dan 70 persen knowledge transfer.

  “Artinya, Pustakawan saat ini harus banyak melakukan perubahanan di tengah masyarakat, dari berbagai informasi yang didapat di perpustakaan ini ditransfer kepada masyarakat, sehingga dengan transfer informasi yang baru ini bisa ada perubahan terhadap kesejahteraan di masyarakat,” tuturnya.

  Ia mencontohkan, informasi terkait dengan tehnologi pertanian yang ada dari buku-buku perpustakan ditranfer dan diterapkan di tengah masyarakat petani untuk mengelola pertaniannya lebih efektif dan produktif. “Oleh karena itu, dari Bimtek ini, kita harapkan para peserta bisa kembali ke daerah masing-masing, mengimplementasikan hasil bimtek. Nantinya akan ada pertemuan lanjutan lagi di tingkat nasional, dari masing-masing daerah membawakan hasil yang telah dilakukan,” tuturnya.

Baca Juga :  1.017 Bintara Dinyatakan Lulus dengan Catatan

   Sekedar diketahui, kegiatan Bimtek ini diikuti oleh 34 peserta dari 4 kabupaten/kota di Provinsi Papua.  (tri)

JAYAPURA-Di era tehnologi informasi yang semakin canggih saat ini, menuntut adanya perubahan paradigma tentang keberadaan perpustakaan dan peran para pustakawan. Kini perpustakaan harus mulai bertransformasi berbasis inklusi sosial. 

Dimana kebaruan ini dapat langsung terlihat dari implementasi perpustakaan yang focus kepada Knowledge Transfer atau transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

  “Perpustakaan yang dahulu  tercermin sebagai gudang buku yang senyap, kini didorong untuk berkegiatan dengan melibatkan masyarakat, bahkan dengan pihak-pihak lain yang  potensial mendorong terjadinya peningkatan  literasi masyarakat, sehingga kualitas  hidup masyarakat meningkat.” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam sambutannya yang disampaikan Yoyo Wahyono Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI dalam penutupan Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Tehnologi informasi komunikasi di Jayapura, Kamis (25/5).

Baca Juga :  Siapkan Skema Bantalan Sosial dari Sumber Dana APBD

  Lebih lanjut Yoyo Wahyono Pustakawan Ahli Utama Perpusnas RI menjelaskan bahwa Perpustakaan yang dulunya hanya mengelola buku, sekarang di era tehnologi informasi ini, sudah berubah, 10 persen kelola koleksi buku,  20 persen kelola informasi dan 70 persen knowledge transfer.

  “Artinya, Pustakawan saat ini harus banyak melakukan perubahanan di tengah masyarakat, dari berbagai informasi yang didapat di perpustakaan ini ditransfer kepada masyarakat, sehingga dengan transfer informasi yang baru ini bisa ada perubahan terhadap kesejahteraan di masyarakat,” tuturnya.

  Ia mencontohkan, informasi terkait dengan tehnologi pertanian yang ada dari buku-buku perpustakan ditranfer dan diterapkan di tengah masyarakat petani untuk mengelola pertaniannya lebih efektif dan produktif. “Oleh karena itu, dari Bimtek ini, kita harapkan para peserta bisa kembali ke daerah masing-masing, mengimplementasikan hasil bimtek. Nantinya akan ada pertemuan lanjutan lagi di tingkat nasional, dari masing-masing daerah membawakan hasil yang telah dilakukan,” tuturnya.

Baca Juga :  Mantan Jubir KPK Febri Diansyah Ngaku Dibayar Rp 800 Juta oleh SYL

   Sekedar diketahui, kegiatan Bimtek ini diikuti oleh 34 peserta dari 4 kabupaten/kota di Provinsi Papua.  (tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya